Kecerdasan Spiritual Hakim

Ada langkah maju yang dilakukan Komisi Yudisial (KY). Dalam seleksi calon hakim agung yang kini sedang berjalan dan hasilnya akan diserahkan kepada DPR pada 15 November 2006, KY menambahkan beberapa persyaratan tambahan untuk menjadi hakim agung.

Persyaratan itu tak cuma sebatas masalah moral, dedikasi, dan pemahaman mengenai hukum, yang selama ini menjadi tolok ukur dalam penentuan calon hakim agung. Tapi, kini ditambah lagi dengan kecerdasan spiritual. Bahkan, yang terakhir ini dijadikan pertimbangan utama dalam pemilihan sang calon hakim agung.

Persyaratan tambahan ini jelas merupakan langkah maju. Sebab, dengan memiliki kecerdasan spiritual, sang hakim agung akan selalu menyadari bahwa segala keputusannya akan dipertanggungjawabkan kepada ‘Yang di Atas’, kepada Tuhan yang Mahakuasa, apa pun agama yang bersangkutan. Harus diakui, masyarakat luas selama ini sering dikecewakan oleh keputusan para hakim/pengadilan, terutama para hakim agung/Mahkamah Agung yang merupakan benteng terakhir bagi mereka yang mencari keadilan di negeri ini.

Bahkan boleh dikata, para hakim agung inilah yang merupakan penentu nasib orang-orang yang beperkara. Sebab, setelah kasasi dan peninjauan kembali di Mahkamah Agung (MA), tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh mereka yang beperkara kecuali pasrah menerima keputusan para hakim agung di MA.

Namun, sekali lagi, keputusan para hakim agung/MA sering mengecewakan. Kita, misalnya, masih sering mendengar adanya mafia peradilan. Yakni, mereka yang sedang beperkara, melalui orang-orang tertentu, melobi oknum-oknum di Mahkamah Agung agar keputusan yang dikeluarkan menguntungkan mereka yang sedang beberkara tersebut. Kita juga sering mendengar keputusan para hakim agung/MA yang tidak berpihak pada keadilan masyarakat.

Berbagai keputusan para hakim agung yang mengecewakan tersebut, antara lain, disebabkan oleh tidak adanya kecerdasan spiritual tadi. Karena tidak mempunyai kecerdasan spiritual, para hakim lalu merasa tidak dituntut untuk bertanggung jawab kepada ‘Yang di Atas’ atas semua keputusannya. Akibatnya, mereka pun dengan mudah memainkan hukum dan keadilan. Dari sinilah munculnya jual beli keadilan tersebut.

Dalam hal ini kita sepakat dengan salah seorang pimpinan di KY, Irawadi Joenoes. Yakni, hakim yang cerdas secara intelektual tapi tidak memiliki kecerdasan spiritual akan mudah tergoda. Bisa saja, misalnya, bila yang bersangkutan dihadapkan pada uang Rp 100 miliar, intelektualnya justru digunakan untuk menekuk dan memutarbalikkan hukum serta menguntungkan si pemberi uang.

Karena itu, langkah KY yang memasang persyaratan kecerdasan spiritual dalam menyeleksi para calon hakim agung harus kita dukung. Dukungan yang sama juga kita harapkan datang dari DPR yang akan menentukan para hakim agung.

Tentu saja tidak sebatas hakim agung. Kita juga berharap bahwa para hakim lainnya, baik di tingkat pengadilan negeri maupun pengadilan tinggi, juga mempunyai kesadaran yang sama, bahwa keputusan mereka akan dipertanggungjawabkan kepada ‘Yang di Atas’, kepada Tuhan Sang Maha Pembalas atas segala perbuatan manusia, termasuk tindakan dan keputusan para hakim.

Republika, Jumat, 03 Nopember 2006

Iklan

0 Responses to “Kecerdasan Spiritual Hakim”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,663 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: