Penjara yang tidak Membuat Efek Jera

ORANG rantai yang mudah berpindah tempat bukanlah cerita baru di negeri ini. Sudah banyak fakta para terpidana berduit bisa leluasa di dalam penjara. Bahkan, dengan alasan sakit dan keperluan keluarga, mereka bisa dengan mudah keluar-masuk rumah penjara. Penjara untuk mereka jangan-jangan bukan tempat yang mengekang, melainkan mungkin tempat yang ‘berbeda’ saja.

Kini yang tengah menjadi sorotan karena keleluasaan berpindah penjara adalah mantan pengacara pengusaha Probosutedjo, Harini Wijoso. Rabu (1/11) lalu tanpa sepengetahuan Mahkamah Agung terpidana empat tahun penjara itu dipindahkan dari Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta, ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wirogunan, Yogyakarta. Harini adalah bekas Ketua Pengadilan Tinggi Yogyakarta.

Kasus pemindahan Harini menjadi heboh justru karena unsur ketidaksengajaan. Yakni berkat sepucuk surat dari LP Wirogunan yang dialamatkan kepada jaksa dan Komisi Pemberantasan Korupsi yang memberitahukan masa penahanan Harini di LP Wirogunan hampir habis. Aneh!

Pihak LP Pondok Bambu mengaku khilaf karena begitu mudah menerima permintaan pengacara Harini agar penahanan kliennya pindah ke Yogyakarta. Pertanyaannya, betulkah khilaf? Betulkah pemindahan Harini murni kelalaian tanpa ada permainan uang? Agak sulit untuk tidak mengaitkan pemindahan Harini tanpa ada permainan fulus.

Atas kritik masyarakat, Harini kemudian memang dikembalikan lagi ke Rutan Pondok Bambu, Jumat (3/11). Tetapi, lagi-lagi, pertanyaannya bagaimana jika tak ada unsur kebetulan ketika pihak LP Wirogunan tidak memberi tahu masa tahanan Harini hampir habis?

Apa pun sigapnya pihak LP Wirogunan mengembalikan Harini, tetapi kasus itu membuktikan betapa lemahnya sistem kontrol di lembaga pemasyarakatan kita. Sudah teramat banyak contoh bagaimana para tahanan berduit kabur dengan amat mudah. Yang terbaru dan cukup menghebohkan adalah terpidana mati Gunawan Santosa. Ia amat mudah kabur dari LP Cipinang. Padahal, harus melewati delapan penjagaan dan 18 penjaga yang bertugas. Terbukti, Gunawan bisa kabur setelah menebar uang Rp1 miliar untuk menyuap para petugas.

Penjara mestinya harus membuat efek jera bagi penghuninya. Namun, kenyataannya, orang-orang tertentu bisa mengubah kamar tahanan seperti kamar di rumahnya sendiri. Karena lemahnya kontrol, bisnis obat terlarang juga pernah marak di beberapa rumah tahanan di Jakarta.

Selama aparat negara korup dan tak bisa menahan godaan dan iming-iming uang, selama itu pula hukum akan tetap bisa dipermainkan. Selama itu pula penjara bukan lagi tempat hukuman yang memberi efek jera, melainkan justru sebagai sekolah kejahatan yang baru.

Media Indonesia, Minggu, 05 November 2006

Iklan

1 Response to “Penjara yang tidak Membuat Efek Jera”


  1. 1 Zul Agustus 17, 2008 pukul 7:13 pm

    Penjara tidak akan mampu memberikan efek jera.
    Terlalu ringan untuk tingkat kejahatan tertentu, seperti Membunuh, menganiaya, memperkosa, merampok, korupsi dll. juga membutuhkan modal besar untuk membuatnya menjadi lebih “berasa”.
    Negara butuh uang milyaran rupiah tiap bulannya, hanya untuk makan tahanan.
    Solusinya: Syari’at Fitrah.

    Membunuh, dibunuh.
    Memperkosa, dibunuh.
    Mencuri diluar batas batas (kira2 kalo’ sekarang, diatas 11 juta), potong tangan.
    Korupsi diluar batas, potong tangan. dll
    Dijamin, gak akan ada yang berani mengulangi.
    dan orang lain pun, takut untuk meniru.

    Wallahu a’lam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 788,198 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: