Kekerasan Ideologi Amerika Serikat

SADDAM Hussein akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung. Sebuah vonis yang tidak mengagetkan Saddam, karena ia sendiri sudah menduga akan dijatuhi hukuman mati.

Dapat dipastikan, banyak orang pun telah menduga Saddam akan dihabisi. Pengadilan hanyalah kedok Amerika Serikat, semata untuk memberi kesan kepada dunia, bahwa Saddam divonis setelah melalui proses peradilan yang diselenggarakan oleh pengadilan Irak. Saddam pun menganggap pengadilan Irak sebagai sebuah drama komedi.

Amerika Serikat di bawah kendali Presiden George W Bush memang tidak hanya ingin menghancurkan kekuasaan Saddam, tetapi juga menghabisinya sebagai manusia. Untuk itu, negara adidaya itu akan menghalalkan semua cara.

Perlakuan Amerika Serikat terhadap Irak dan Saddam Hussein adalah contoh paling brutal bagaimana kekerasan ideologi Amerika Serikat diterapkan. Atas nama perdamaian dunia, ia menghancurkan Irak sekalipun tidak menemukan Irak menyimpan senjata pemusnah massal. Atas nama demokrasi, Amerika Serikat sah menggulingkan pemimpin yang legal berkuasa dengan senjata perang. Dan tidak usah heran, jika Amerika Serikat yang berkoar-koar sebagai pendekar hak asasi manusia itu membiarkan Saddam Hussein dihukum mati dengan cara digantung.

Amerika Serikat juga tahu betul bahwa menghukum mati Saddam hanya akan menimbulkan konflik yang lebih tajam antara Syiah dan Sunni. Syiah bergembira, sebaliknya Sunni mengutuk vonis itu. Namun, Amerika Serikat yang sok menghormati perbedaan itu tidak peduli akan adanya perbedaan aspirasi warga Irak itu.

Oleh karena itu, dikhawatirkan hukuman mati Saddam justru memicu konflik horizontal yang lebih keras antara warga Syiah dan warga Sunny. Juga akan membakar perlawanan yang lebih militan kepada Amerika Serikat dan pemerintah bentukannya melalui bom bunuh diri.

Kekerasan ideologi Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara superpower memang harus dihentikan. Dewan HAM PBB mestinya bersuara keras, sangat keras, menentang hukuman mati Saddam Hussein. Juga negara-negara yang tergabung dalam Gerakan Non-Blok dan Organisasi Konferensi Islam, misalnya, seharusnya juga berupaya sekuat-kuatnya menekan Amerika Serikat.

Sebab, membiarkan Amerika Serikat sesukanya sendiri, mentang-mentang berkuasa, justru berbahaya bagi keselamatan umat manusia. Perang dunia yang menghancurkan justru yang akan meletus, jika Amerika tidak tahu diri, lalu misalnya memperlakukan Korea Utara seperti Irak, hanya untuk menggulingkan Kim Jong Il seperti menggulingkan Saddam Hussein.

Sebab, kekuasaan yang tidak bisa dikontrol adalah berbahaya.

Media Indonesia, Senin, 06 November 2006

Iklan

1 Response to “Kekerasan Ideologi Amerika Serikat”


  1. 1 rinto ermanda Maret 6, 2012 pukul 10:35 am

    bisa jadi,Sukarno bernasib serupa,seandainya mengikuti demo mahasiswa ketika itu,terkait tuntutan :bubarkan PKI?pembubaran yg bagaimana?apakah maksud sebenarnya adalah cuci tangan?pembantaian massal pd peristiwa G30S,hendak dijadikan menjadi “atas nama instruksi presiden?”okelah mahasiswaku,bubarkan PKI?bantai PKI?lalu Sukarno akan digantung oleh amerika lewat mahkamah internasional karena pelanggaran HAM berat?mahasiswa goblok pengecut,yg berani demo lantaran dibacking tentara?our local army friendnya CIA?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,818 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: