Mewaspadai Kebijakan AS

Republik Islam Iran tampaknya telah belajar banyak dari kasus Irak. Tepatnya serangan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya ke Negeri Seribu Satu Malam itu dan kemudian menggulingkan Presiden Saddam Hussein. Pelajaran dari Irak itu adalah: Jangan kasih hati sebab dia akan minta jantung!

Pada mulanya, serangan AS dan sekutunya ke Irak berdalih untuk mencari dan menghancurkan senjata pemusnah massal. Ketika serangan itu sudah terjadi dan senjata pemusnah massal tidak ditemukan, alasan lain pun dibuat. Yaitu: Saddam Hussein dituduh terlibat dan mendukung –bersama Alqaidah pimpinan Usamah bin Ladin– serangan ke gedung kembar World Trade Center di New York.

Lalu, ketika keterlibatan Saddam Hussein dalam serangan 11 September (2001) itu tak terbukti, dalih lain pun sudah disiapkan. Yakni, Saddam Hussein adalah presiden diktator yang haus darah. Bila dibiarkan tetap berkuasa, ia bisa sangat berbahaya dan mengganggu keamanan dan stabilitas kawasan Timur Tengah dan bahkan stabilitas dunia.

Kini Saddam Hussein sudah menjadi terpidana hukuman gantung. Namun, harga yang dibayar rakyat Irak sangat mahal. Ribuan warga telah menjadi korban keganasan serangan AS. Rumah-rumah dan falitas umum lainnya pun hancur.

Sedangkan stabilitas yang dijanjikan kepada warga Irak pun tak kunjung tiba. Bahkan setiap hari kini mereka dihantui oleh penculikan dan bom bunuh diri. Dan, yang lebih parah lagi, mereka sekarang ini berada di ambang perang saudara, dengan disaksikan secara langsung oleh sekitar 150 ribu tentara AS dan ribuan tentara sekutu mereka yang kini menduduki Irak.

Iran tampaknya menyimak dan belajar pada semua hal buruk yang berlangsung di negara tetangganya itu. Mereka tentunya tidak menghendaki semua itu terjadi di negara mereka. Itu sebabnya dari awal mereka pun melawan kebijakan hegemonial pemerintah Presiden George W Bush yang dinilai justru menciptakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Bagi Iran, bila mereka tunduk pada permintaan AS dan sekutunya untuk membekukan program pengayaan uranium pada proyak nuklirnya, maka mereka khawatir akan ada tuntutan lain. Yaitu, penggantian rezim dan pimpinan Iran yang sekarang ini mengendalikan negara itu.

Sudah bukan rahasia lagi, meskipun Iran menerapkan demokrasi dengan pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat setiap empat tahun, namun pemerintahan Paman Sam sejak awal sudah tidak suka pada pimpinan dan tokoh yang berkuasa di Iran. Sejak lama Presiden Bush berkeinginan mengganti rezim di negeri itu. Bahkan menyebut Iran sebagai Poros Setan. Apalagi Iran berkembang menjadi negara yang kuat dan rakyatnya lebih sejahtera, meskipun negara itu sejak lama diembargo oleh PBB (AS dan sekutunya).

Semua ini kita kemukakan untuk mengingatkan kepada kita, terutama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, terkait dengan rencana kunjungan Presiden Bush ke Indonesia pada November ini. Kita tentu tidak menentang kunjungan itu. Bagi kita, setiap pertemuan adalah positif untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan kesalahpahaman.

Yang kita ingatkan adalah agar pertemuan itu sepadan, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. AS tidak boleh mendikte, apalagi merugikan kepentingan nasional kita.

Kunjungan ke Jakarta tentu sangat penting dan strategis bagi Presiden George W Bush, mengingat Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Kunjungan ini tentu akan dimanfaatkan oleh Bush untuk memperbaiki citra AS yang terpuruk di mata umat Islam dunia. Namun sekali lagi kita mengingatkan, pertemuan nanti harus menguntungkan bagi Indonesia. Bukan hanya bagi kepentingan nasional, tapi juga kepentingan umat Islam. Jangan sampai kunjungan Bush itu justru menyebabkan ketegangan hubungan umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini dengan pemerintahan SBY-JK.

Republika, Senin, 06 Nopember 2006

Iklan

2 Responses to “Mewaspadai Kebijakan AS”


  1. 1 adhiwicaksana November 7, 2006 pukul 7:00 pm

    Ilmu komunikasi mengenal complaince gaining biasanya terkait dengan soal perolehan kebutuhan atau pemenuhan kebutuhan. Kendati odol-odol saku sebesar Rp 6 miliar, pemerintah Indonesia senang saja menjamu George Walker Bush, meskipun sebagian besar masyarakat Indonesia gondok berat atas sikap itu. Tetapi, pemerintah Indonesia memiliki maksud lain, yakni perolehan investasi lebih.

  2. 2 Rifki Januari 5, 2007 pukul 12:25 am

    Kenapa Seorang BUSH harus di lahirkan di dunia apakah ini sbagai contoh orang yang seraakah BUSH BUSYIT,IDIOT


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,802 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: