Delapan Tahun Reformasi

Setelah delapan tahun reformasi bergulir, kita menangkap adanya kegamangan dalam menjalani proses tersebut. Inikah reformasi yang memang kita kehendaki? Melihat kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan yang dijalani, kita pantas menggugat diri. Bagaimana tidak, kalau secara sosial, kita menjadi bangsa yang bukan hanya terfragmentasi, tetapi hidup dalam kecurigaan, penuh syak wasangka. Kita cenderung menjadi masyarakat yang eksklusif, yang menafikan kelompok yang lain.

Dari sisi ekonomi, keadaan juga tidak menjadi lebih baik. Angka pengangguran begitu tinggi, mencapai 11 persen dari 110 juta angkatan kerja. Demikian pula angka kemiskinan, yang kalau dihitung dari mereka yang menerima bantuan langsung tunai mencapai 60 juta orang. Di banyak tempat, untuk mendapatkan uang Rp 15.000 per hari saja, banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya.

Dilihat dari sisi politik, kita semakin prihatin lagi. Kita bukan hanya dipimpin oleh politisi yang tidak cukup luas horizon dan wawasan kenegaraannya, tetapi sangat partisan dan lebih mementingkan dirinya sendiri.

Kita tentu sependapat bahwa keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan dan sangat berbahaya. Untuk negara sebesar Indonesia yang jumlah penduduknya mencapai 220 juta orang dan sangat plural, dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang bisa mencerahkan, berpikiran terbuka, dan sadar akan tanggung jawabnya.

Inilah yang menjadi tantangan kita bersama. Bagaimana membuat lebih banyak orang sadar (concious) akan tanggung jawabnya untuk membangun Indonesia yang lebih sejahtera, lebih harmonis, lebih toleran, sekaligus mampu, kompeten untuk menerjemahkan kesadarannya untuk membangun Indonesia Baru seperti yang memang kita cita-citakan.

Semua itu tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Harus ada sebuah langkah yang memang secara sadar kita lakukan bersama untuk membangun masyarakat yang concious dan kompeten.

Suka tidak suka kita membutuhkan hadirnya seorang pemimpin untuk melakukan itu. Pemimpin yang bukan hanya mencoba menyenangkan semua orang, tetapi ketika dibutuhkan harus berani mengambil tindakan keras agar arah yang ingin kita tuju tidak melenceng ke mana-mana.

Contoh di depan mata kita menunjukkan betapa kita kadang terlalu besar memberikan toleransi. Apa yang terjadi di Poso memberikan gambaran tidak mampunya kita untuk menegakkan hukum. Padahal, tindakan itu ketika dibiarkan berlangsung membuat kita menjadi bangsa yang semakin terfragmentasi.

Sekali lagi menjadi tanggung jawab kita untuk membuat Tanah Air kita tercinta ini tetap utuh dan bahkan bergerak maju. Ketika negara lain yang ada di sekitar kita, entah itu China, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, bahkan Vietnam bisa melakukannya, mengapa kita tidak bisa melakukannya. Hanya dengan masyarakat yang sadar dan kompeten itulah kita akan bisa bersaing di dunia yang semakin terbuka ini.

Kompas, Selasa, 07 November 2006

Iklan

0 Responses to “Delapan Tahun Reformasi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,818 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: