Studi yang Menggelikan

ORANG pintar perlu studi. Namun, di Indonesia ada satu jenis studi yang tidak pernah membuat orang pintar, yaitu studi banding. Inilah jenis studi yang khusus diciptakan oleh dan untuk anggota DPR.

Setiap kali ada studi banding, baik yang dilakukan terbuka atau tertutup, publik menyambut geli. Geli karena terlalu kentara bahwa studi model begitu adalah akal-akalan. Studi banding dari dulu sampai sekarang adalah kamuflase untuk membenarkan pesiar yang dibiayai negara.

Sebuah studi yang benar memiliki metodologi dan target yang terukur dan dipertanggungjawabkan secara substansial. Studi yang benar juga membutuhkan waktu yang lama. Studi-studi banding yang dilakukan anggota DPR selama ini ke berbagai negara tidak ada pertanggungjawaban substansial, hanya administratif.

Mereka hanya mempertanggungjawabkan penggunaan dana belaka. Sedangkan pertanggungjawaban substansial sangat sumir karena cuma dilaporkan dalam sidang bahwa komisi ini dan komisi itu telah melakukan studi banding ke sana dan kemari. Hasil nyata tidak pernah bisa diukur.

Skeptisisme seperti itu muncul lagi–bahkan semakin kuat–tatkala dewan mengumumkan 31 anggota Komisi V DPR–yang membidangi perhubungan–melakukan studi banding tentang sistem transportasi di tiga negara Eropa, yaitu Jerman, Belanda, dan Prancis. Waktu studi yang menghabiskan anggaran negara Rp1,763 miliar itu cuma tujuh hari.

Kalau dihitung dengan waktu yang dihabiskan untuk perjalanan dan bersenang-senang, porsi studi bisa-bisa tinggal tiga hari. Metodenya pun sudah bisa ditebak, yaitu meninjau dan mendengar. Kalau mereka tidak fit, yang meninjau dan mendengar dengan sungguh-sungguh cuma separuh karena yang separuh lagi letih dan mengantuk.

Bagi separuh yang fit dan bersungguh-sungguh berstudi banding, hasilnya pun tidak menjamin. Karena yang memberi penjelasan tentang sistem transportasi di Belanda, Jerman, dan Prancis bukan ahli transportasi yang fasih bahasa Indonesia. Semakin bertambah lagi faktor yang membuat studi banding menjadi pemborosan yang tak terbandingi.

Anggota dewan adalah mereka yang mendapat kehormatan untuk mewakili kepentingan publik. Mereka harus bisa menangkap apa yang disenangi dan apa yang tidak disenangi. Mereka harus jujur untuk mengatakan apakah studi ini bermanfaat atau tidak. Karena itu, mereka harus peka bahwa rakyat tidak bisa ditipu terus-menerus melalui studi banding yang akal-akalan itu.

Studi banding telah memperjelas moral defect. Pertama, para anggota dewan tidak memiliki keprihatinan sedikit pun terhadap kondisi keuangan negara. Kedua, studi banding model begitu mengangkangi kepatutan metodologi dan pertanggungjawaban substansi. Ketiga, dan ini yang paling celaka, studi banding telah menjadi nama yang mengesahkan semangat permufakatan sesat. Karena sudah dianggarkan, tidak bisa dibatalkan. Itu argumen paling sesat di bumi.

Kita berkepentingan lembaga parlemen yang makin cerdas dan berwibawa. Karena itu, studi adalah keharusan. Tetapi, tentu, studi yang benar-benar studi. Studi yang meningkatkan kepintaran yang akan mendorong kapasitas dan kapabilitas lembaga menemukan solusi.

Studi yang dibungkus rapi oleh nafsu manipulasi tidak pernah akan membuat pintar. Itulah studi banding yang selalu dibela mati-matian oleh DPR. Menggelikan….

Media Indonesia, Selasa, 07 November 2006

Iklan

0 Responses to “Studi yang Menggelikan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,818 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: