Saatnya Polisi Sulsel Beraksi

Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamis (9/11) kemarin mulai menyerahkan surat penangkapan 29 tersangka beberapa kasus teror di wilayah itu kepada keluarga dan aparat pemerintahan setempat. Hal ini dilakukan setelah upaya persuasif agar para tersangka yang sudah diidentifikasi menyerahkan diri tidak direspons sampai batas waktu yang diberikan, Rabu (8/11) lalu. Sebelumnya sejumlah pertemuan dengan tokoh masyarakat juga digelar dan tidak membuahkan hasil yang memadai untuk proses hukum bagi para tersangka.

Sebaliknya, respons yang diterima adalah sikap anggota keluarga yang menolak sangkaan 29 orang tersebut terlibat teror di Sulteng, khususnya di wilayah Poso. Bahkan, Harian ini memperoleh informasi bahwa para tersangka akan bertahan dari penangkapan polisi. Mereka menyebutkan lebih baik menjadi mayat daripada ditangkap polisi. Mereka mengancam akan menyandera polisi atau melakukan aksi bunuh diri.

Upaya polisi dan respons para tersangka tersebut mencerminkan bahwa polisi terlihat lemah dan memberi kelonggaran waktu yang berlebihan kepada mereka yang disebutnya sebagai tersangka pelaku sejumlah teror di Sulteng. Teror yang disebutkan adalah pengeboman di sejumlah tempat, termasuk di pasar Tentena, pembunuhan terhadap sejumlah siswi sekolah menengah, pembunuhan terhadap Pendeta Susianty Tinulele, Jaksa Fery Silalahi, dan Pendeta Irianto Kongkoli, serta sejumlah penculikan dan penyerangan dengan senjata api.

Di sisi lain Kapolri Jenderal Sutanto sudah beberapa kali memerintahkan untuk menangkap mereka, dan menyebutkan kasus yang disangkakan itu merupakan tindakan teror. Hal serupa dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla, bahkan dia menyebutkan akan menggunakan UU Antiteror untuk menjerat mereka. Dalam UU ini polisi bisa menangkap mereka tanpa proses hukum selama sepekan, namun yang dilakukan justru memberi kelonggaran waktu berlebihan.

Respons mereka yang mengancam menyerang polisi, bahkan menyebutkan memilih untuk aksi serangan bunuh diri daripada ditangkap, mencerminkan mereka memang tidak menghormati hukum. Pandangan seperti itu juga mengandung unsur cara pandang kelompok-kelompok teror selama ini. Mereka tidak peduli bagaimana masyarakat Sulteng, khususnya Poso, menderita, dan citra wilayah ini tidak aman yang berdampak luas secara sosial politik.

Oleh karena itu, sudah tidak memadai lagi bagi polisi untuk berembug dan bernegosiasi, kecuali segera menangkap mereka. Nama-nama orang sudah teridentifikasi, dan polisi juga mengaku mempunyai informasi yang kuat di mana mereka berada. Yang diperlukan sekarang adalah menegakkan hukum dan keadilan dimulai dengan menangkap mereka untuk diadili.

Yang perlu diperhatikan adalah polisi bergerak di atas landasan hukum dan keadilan. Kecurigaan bahwa para tersangka akan disiksa, tidak cukup berdasar. Sebab, kalau memang benar hal itu terjadi, mereka bisa mengajukan praperadilan. Sejauh mereka didampingi penasihat hukum, proses ini bisa lebih baik. Demikian juga dengan sanggahan bahwa mereka tidak terlibat. Jika para tersangka memang memiliki bukti yang kuat, justru proses hukum di pengadilan tempat yang fair untuk membuktikannya. Keyakinan diri tidak bersalah semestinya justru memberi keberanian untuk menempuh proses hukum.

Polisi juga memperlihatkan kelemahan, dan tidak bertindak tegas, karena informasi-informasi berkaitan orang- orang yang melindungi para tersangka. Kalau merujuk landasan hukum yang ditegaskan Wapres, polisi justru bisa menangkap mereka karena melindungi dan terlibat menyembunyikan para tersangka. Bukankah beberapa orang sudah dan sedang diadili, karena peran mereka menyembunyikan tokoh teroris dalam berbagai aksi bom di Jakarta dan Bali?

Dalam konteks ini, sudah tidak ada lagi yang ditunggu polisi, dan sudah terlalu banyak waktu berlalu dalam permainan para tersangka. Perhatian polisi sekarang justru harus ditujukan kepada seluruh warga Sulteng dan juga warga Indonesia lainnya yang mengharapkan hukum dan keadilan ditegakkan di sana, agar tercipta rasa aman, dan hidup berjalan dengan bermartabat. Tangkap dan adili para penebar ketakutan dan konflik di tanah Poso.

Suara Pembaruan, Jumat, 10 November 2006

Iklan

0 Responses to “Saatnya Polisi Sulsel Beraksi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 788,464 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: