Mengemas Niat Baik agar Rakyat Mandiri

TIDAK selamanya niat baik berbuah kebaikan. Kebaikan tanpa kemasan yang pas dan cerdas bisa berakibat buruk. Juga, tidak selamanya memberi berarti dermawan. Kedermawanan yang salah sasaran bisa menyesatkan juga.

Kita punya pengalaman yang amat gres. Yakni bantuan langsung tunai (BLT) kepada penduduk miskin akibat kenaikan BBM, besarannya Rp100 ribu per keluarga setiap bulan. Program itu menjadi amburadul karena negeri ini tidak punya banyak manusia jujur. Ada yang jago memanipulasi data, ada yang lihai menyunat jumlah, dan banyak yang tanpa malu mengaku miskin.

Kemiskinan bagi orang-orang yang pandai memanfaatkan peluang dan tidak punya solidaritas sosial ternyata bisa menjadi ‘komoditas’. Orang jenis itu memang bisa menggunakan apa saja untuk memperkaya diri.

Program bagus yang bernama BLT itu juga dinilai tidak mendidik. Ia bukan memberi kail, melainkan memberi ikan. Padahal, kail akan bisa dipakai untuk memancing ikan lebih banyak dan waktu yang lebih lama.

Wali Kota Depok Nurmahmudi Ismail rupanya tergoda juga membagi-bagikan ‘ikan’, alias uang gratis. Ia misalnya akan memberikan santunan Rp2 juta bagi warga Depok yang meninggal. Tidak pandang kaya atau miskin, penjahat atau orang baik, pengusaha besar atau pegawai rendahan. Selama ia memiliki KTP Depok ketika meninggal mendapat Rp2 juta.

Sementara itu, para siswa SD negeri juga akan menerima dana Rp10 ribu setiap bulan. Dana operasional pengurus RT juga naik dari Rp300 ribu menjadi Rp400 ribu, pengurus RW naik dari Rp500 ribu menjadi Rp600 ribu. Dana operasional lurah naik dari Rp3 juta menjadi Rp6 juta dan camat dari Rp6 juta menjadi Rp12 juta.

Tak ada yang janggal dari program-program bagus itu. Menaikkan dana operasional pengurus RT hingga camat pastilah positif. Tetapi, memberikan santunan Rp2 juta dan memberikan uang kepada murid SD perlu dipikir ulang.

Cara-cara seperti itu tidak membuat rakyat tangguh, tapi justru rapuh. Rakyat perlu dididik bagaimana bekerja adalah cara terbaik untuk mendapatkan imbalan. Caranya dengan menciptakan lapangan kerja, misalnya dengan membuat proyek-proyek padat karya.

Rakyat tidak butuh belas kasihan, tapi butuh kepastian. Kepastian hukum, kepastian berusaha, kepastian pendidikan yang tidak serbauang. Daripada memberikan uang kepada siswa SD negeri, lebih baik Pemerintah Kota Depok melarang seluruh bentuk pungutan di sekolah negeri yang memang bertentangan dengan undang-undang.

Kesejahteraan rakyat mestinya harus ditempuh dengan sistem keamanan sosial, misalnya lewat asuransi. Mendidik rakyat untuk berasuransi akan membuat mereka mandiri dan bisa mengelola keuangan dengan benar. Bukan dengan belas kasihan.

Media Indonesia,  Minggu, 12 November 2006

Iklan

0 Responses to “Mengemas Niat Baik agar Rakyat Mandiri”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,663 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: