Partai Golkar Fenomenal

Menurut logika, berakhirnya pemerintahan Orde Baru juga berakhirnya Partai Golkar. Mestinya dalam pemilu, partai itu tak memperoleh suara yang signifikan.

Kenyataannya, partai itu bukan saja habis atau surut drastis, tetapi relatif dan komparatif memperoleh suara terbanyak. Bahkan ketua umumnya, Jusuf Kalla, terpilih sebagai wakil presiden. Posisi dan perannya cukup vokal dalam arti kedengaran, didengar, serta berpengaruh.

Di antaranya tampak dari perkembangan terakhir sekitar kontroversi pembentukan UKP3R. Dalam konteks itu serta dalam kaitannya dengan masa depan demokrasi Indonesia, kita soroti Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar yang dimulai di Jakarta hari ini.

Sosok Partai Golkar mencuat jika diletakkan dengan kondisi partai-partai lainnya. Kondisi itu menunjukkan dua hal. Pertama, partai-partai yang relatif besar pecah, misalnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai-partai lain yang tidak pecah, di antaranya karena masih baru, relatif juga masih kecil jumlah perolehan suaranya di parlemen, misalnya Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera. Dari segi hadirnya persaingan dalam kepemimpinan partai pun, Golkar menarik. Terjadi persaingan terbuka dalam memperebutkan calon presiden pada Pemilu 2004, tetapi persaingan itu tidak mengakibatkan pecahnya Golkar sebagai partai.

Kualifikasi “fenomenal” juga bisa dilihat dari berbagai sudut lain lagi. Ideologi, ya, misalnya ideologi. Apakah ideologi Golkar sebagai partai? Bukankah identik dengan ideologi negara jika dilihat dari maksud dan proses didirikannya? Karena lebih cenderung ke peran pemerintahan, kekaryaan TNI, dan birokrasi, Golkar tidak dihadapkan pada masalah karena ideologi diterjemahkan lebih kepada karya. Sebutlah pendekatan yang pragmatis. Pragmatisme politik diterjemahkan ke pragmatisme pembangunan dan berhasil karena didukung kestabilan politik, efektivitas kepemimpinan, serta kompetensi profesional pemerintahannya. Surut dan gagal tatkala digerogoti dan ditenggelamkan oleh KKN. Kecuali bersumber pada struktur kekuasaan, KKN subur karena berlakunya budaya kekuasaan feodal.

Ditempatkan pada peta di atas berikut tantangan dan kesempatan mendatang, apa yang diharapkan dari Rapimnas Golkar ini? Jangan dibiarkan benih dan motif perpecahan berlaku efektif. Toh Golkar seperti partai-partai lain juga dihadapkan pada masalah strategis perihal kepemimpinan dan sosoknya. Dengan berbagai kekurangannya, yang sekarang ternyata berfungsi dan berfungsi secara relatif efektif. Karena partai itu bukan saja terlibat, tetapi merupakan partner yang cukup strategis dengan pemerintahan sekarang, nasib selanjutnya masuk akal jika juga ditentukan oleh kinerja serta hasil kinerja pemerintahan sekarang. Hanya saja, dalam konteks pergulatan dan Pembukaan UUD 1945, tidaklah memadai bagi aspirasi serta komitmen perikehidupan bangsa dan negara Indonesia jika sekadar berkualifikasi pragmatisme. Pragmatisme plus kemanusiaan yang adil dan beradab, keadilan sosial bagi seluruh rakyat, serta dimensi Ketuhanan Yang Maha Esa yang merasuk.

Kompas, Senin, 13 November 2006

Iklan

0 Responses to “Partai Golkar Fenomenal”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 798,992 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: