Dana Menganggur

Sektor riil belum benar-benar bergerak. Turunnya tingkat suku bunga ternyata tak serta-merta menjadikan perbankan bersemangat menyalurkan kredit ke sektor riil. Begitu pula sebaliknya. Sektor riil agaknya belum terlalu antusias untuk mencari pendanaan perbankan, meski bunga sudah turun. Dalam kondisi ini rasanya sulit mengharapkan sektor riil bergerak cepat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pesimistis? Mungkin terlalu dini. Namun, jika melihat besarnya dana perbankan yang tertahan di bank sentral dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), ungkapan pesimistis tadi cukup beralasan. Jumlah dana tertahan itu mencapai sekitar Rp 202 triliun. Padahal, akhir tahun lalu hanya sekitar Rp 110 triliun.

Bank sentral tentunya harus mengeluarkan biaya bunga SBI. Dengan jumlah tadi biaya bunganya diberitakan mencapai Rp 20 triliun setahun. Jumlah ini dibiayai dari setoran pemerintah, berarti kita juga yang memipikul, pembayar pajak. Jika situasi ini dibiarkan, akan muncul kecenderungan bank sentral mengalami defisit. Sulit rasanya membayangkan apa yang bakal terjadi jika bank sentral di sebuah negara mengalami defisit.

Selain itu, pesatnya peningkatan dana perbankan dalam bentuk SBI, cukup pula mencerminkan betapa perbankan masih diselimuti keraguan untuk menyalurkan kredit. Padahal, margin bunga yang didapat perbankan dari kredit mestinya jadi lebih besar ketimbang margin dari SBI. Dengan jumlah dana perbankan sebesar Rp 202 triliun, mestinya kita tak kesulitan mencari pendanaan untuk proyek-proyek pembangunan. Dana sebanyak itu boleh jadi cukup pula untuk mendongkrak investasi dalam negeri sehingga bisa menyerap tenaga kerja tanpa terlalu mengandalkan investasi asing.

Tapi, mengapa itu tidak terjadi? Agaknya industri perbankan kita masih lebih suka bersembunyi di balik istilah ‘kehati-hatian’ dan ‘wait and see‘. Bersembunyi dari risiko terjebak kasus kredit macet yang saat ini sangat mungkin sampai ke meja hijau. Bersembunyi dari risiko-risiko kredit, dan risiko usaha, yang bisa menekan laba. Dan bagi bank-bank pelat merah, tentu saja, bersembunyi dari risiko kredit dan usaha yang bisa saja menekan angka setoran dividen ke pemerintah.

Terkait itu, tempat persembunyian yang paling aman memang di SBI. Bahkan, nyaris tanpa risiko. Simpan di SBI dengan margin empat sampai lima persen dianggap masih lebih nyaman dibanding menyalurkan kredit dengan margin tujuh atau delapan persen. Kenyamanan itu barangkali cukup untuk membuat bank pemerintah berkata, ”Setoran aman.”

Namun, itu tak berarti sektor riil sama sekali tak punya andil bagi besarnya dana menganggur di SBI. Banyak usaha di sektor riil masih berputar apa adanya, tanpa investasi baru. Permintaan domestik yang mulai memperlihatkan kecenderungan meningkat, masih dipenuhi dengan kapasitas produksi seadanya. Kabarnya ada pula yang di bawah kapasitas produksi. Jika dibiarkan, tanpa investasi asing yang memadai, maka permintaan domestik bakal ditutupi dari impor, utamanya impor barang konsumsi. Ini jelas akan lebih menjerat perekonomian kita.

Kenyamanan perbankan dengan SBI dan keraguan sektor riil rasanya cukup memperlihatkan betapa perekonomian kita belum benar-benar pulih. Situasi itu juga menggambarkan betapa iklim usaha dan investasi masih kurang menarik. Pekerjaan rumah inilah yang mesti segera diselesaikan. Pemerintah dan bank sentral seharusnya bisa membuktikan iklim usaha dan investasi, kepastian hukum, dan keamanan, benar-benar membaik. Bukan sekadar rentetan kata di podium. Perbankan dan pengusaha pun tak pantas mencari nyaman sendiri. Karena, kita yang awam justru terus dikejar pajak, yang antara lain untuk membiayai ratusan triliun dana menganggur SBI.

Republika, Selasa, 14 Nopember 2006

Iklan

0 Responses to “Dana Menganggur”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,818 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: