Menahan Pertumbuhan Penduduk

ita sedang menghadapi laju pertumbuhan penduduk yang cukup pesat. Adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pekan lalu yang menyalakan sinyal lampu kuning soal ini saat membuka Kongres Nasional Pembangunan Manusia Indonesia 2006. Presiden mengingatkan agar pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai 1,3 persen per tahun harus bisa dikendalikan, karena berdampak luas bagi penyediaan bahan pangan, pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Dalam kondisi sekarang, pertumbuhan penduduk yang besar sungguh tidak menguntungkan. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik jumlah penduduk miskin makin bertambah. Pertambahan itu bisa terjadi karena lapangan kerja sudah tidak ada akibat belum pulihnya kehidupan ekonomi. Banyak orang tidak mendapatkan penghasilan lagi. Keluarga miskin itu akan melahirkan anak miskin pula.

Pertumbuhan penduduk terjadi karena persentase pada usia balita mengecil, sedang pada usia di atas 15 tahun membengkak. Selain itu, saat ini penduduk dewasa lebih subur dibanding penduduk dewasa masa lalu karena mendapatkan gizi dan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Sementara itu, semua program keluarga berencana (KB) sepertinya berhenti. Mereka yang ingin ber-KB tidak mendapat akses yang baik

Karena itu, perlu ada suatu tekad besar untuk mengatur laju pertumbuhan penduduk bila kita tidak ingin masuk jurang kemiskinan. Negeri ini membutuhkan lebih banyak lagi akseptor program KB setiap tahun. Paling tidak, setiap tahun harus bisa dijaring tiga sampai empat juta akseptor baru. Bila itu bisa terwujud, maka kita dapat menghindari terjadinya ledakan penduduk yang berlebihan. Mendapatkan begitu banyak akseptor tentu bukan hal mudah. Tetapi tidak ada pilihan lain. Berdasarkan kondisi kependudukan saat ini, maka tantangan dalam program penurunan pertumbuhan penduduk lebih berat dari sebelumnya.

Menurunnya kewaspadaan terhadap peningkatan jumlah penduduk ditengarai karena komitmen pemerintah daerah mengenai pentingnya KB melemah. Perubahan paradigma dengan kebijakan otonomi daerah telah membuat para pengambil kebijakan di daerah melakukan efisiensi. Akibatnya, kesenjangan informasi antargenerasi mengenai pentingnya program KB semakin lebar. Padahal salah satu fungsi utama KB adalah menahan laju pertumbuhan penduduk.

Tugas kita adalah bagaimana membalikkan keadaan sehingga kondisi tersebut tidak menjadi hambatan dalam menggalakkan program KB di daerah. Dari awal sebenarnya otonomi daerah harus meningkatkan program KB, bukan kebalikannya. Kenyataan ini sungguh ironi. Bukankah otonomi daerah mestinya tetap memprioritaskan pemberlakuan program KB? Kenapa? Karena masalah pertumbuhan penduduk berkaitan erat dengan kesejahteraan. Mestinya semua daerah menjadikan program KB sebagai yang utama dalam program pembangunannya. Tetapi kenapa tidak jalan? Karena itu, kita berharap pemerintah pusat bersikap tegas untuk mendorong daerah menjalankan program KB, termasuk turun ke lapangan melihat bagaimana program KB dilaksanakan.

Semua aparat dari pusat hingga desa tidak boleh hanya menunggu komando. Revitalisasi posyandu yang menjadi ujung tombak pelaksanaan program KB selama ini harus kembali menjadi pusat pemberdayaan keluarga dalam bidang, kesehatan, pendidikan, kewirausahaan, dan lingkungan. Lingkungan itu harus memungkinkan, tidak hanya bebas miskin, tapi harus memotong lingkaran kemiskinan, termasuk dengan cara mengatur jumlah anak.

Menarik hasil studi Pusat Kajian Ekonomi dan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia pada 2000 mengenai pelaksanaan program KB di Jakarta (1990-2000). Kajian itu membuktikan bahwa jika pemda melaksanakan program KB akan banyak biaya yang dihemat dibandingkan tanpa program KB. Karena itu, diperlukan adanya komitmen yang kuat dari pemda untuk ikut membantu mengendalikan pertumbuhan penduduk ini.

China yang perekonomiannya tumbuh sangat pesat tetap khawatir dengan pertumbuhan penduduknya, dan menjanjikan hadiah kepada keluarga yang hanya memiliki satu anak. Kitapun mestinya khawatir dengan pertumbuhan penduduk yang pesat. Cara mengatasinya, menggalakkan kembali program KB.

Suara Pembaruan, Kamis, 16 November 2006

Iklan

0 Responses to “Menahan Pertumbuhan Penduduk”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,818 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: