Menuju Efisiensi Demokrasi

RAPIMNAS II Partai Golkar mengusulkan dua perubahan besar tentang sistem pemilihan umum. Pertama, mengurangi syarat perolehan suara seorang calon anggota DPR/DPRD dari 100% bilangan pembagi pemilih (BPP) menjadi 25%. Kedua, menaikkan electoral threshold bagi partai yang berhak mengikuti pemilu dari 3% saat ini menjadi 5%.

Dua perkara itu, bila bisa dimenangi Golkar dalam pembahasan perubahan UU bidang politik mendatang, akan berdampak besar bagi wajah demokrasi dan kedaulatan rakyat di Indonesia. Karena dengan mengurangi syarat keterwakilan menjadi 25% BPP, jarak antara kedaulatan partai dan kedaulatan rakyat dalam representasi kepentingan konstituen dipersempit.

Problem demokrasi Indonesia selama ini adalah hegemoni partai yang dominan dalam sistem representasi. Secara teoretis anggota DPR dipilih rakyat, tetapi secara administratif sesungguhnya partai yang menentukan melalui sistem nomor urut. Dengan demikian, para calon lebih berjuang untuk memperoleh nomor urut aman daripada bertarung untuk memenangi suara rakyat pada waktu pemilu.

Selain lebih mungkin meraih 25% BPP daripada 100%, pengurangan itu pun bisa sekaligus dipakai untuk menjelaskan sistem proporsional terbuka terbatas. Sistem yang tidak menjurus ke distrik, tetapi juga mengurangi hegemoni partai.

Sementara itu, keinginan Golkar untuk menaikkan angka electoral threshold bisa dipakai sebagai proses demokratis untuk menyederhanakan jumlah partai politik di Indonesia. Harus diakui, kerumitan dalam tata kelola negara dalam banyak hal disebabkan juga oleh sistem multipartai yang kita anut.

Dengan 24 partai yang mengikuti Pemilu 2004, dari 48 pada Pemilu 1999, demokrasi dan tata kelola negara tidak tumbuh efektif. Perjalanan bangsa dan negara seakan-akan diabdikan semata bagi demokrasi dengan tingkat efisiensi dan efektivitas yang rendah.

Padahal, demokrasi bukan tujuan, melainkan alat untuk mencapai negara dan bangsa yang adil, makmur, sejahtera. Pengelolaan pemerintahan yang lamban, sehingga kita selalu kalah cepat dari negara lain dalam mencari dan mencapai solusi, merupakan efek kompleksitas sistem multipartai yang kita anut.

Bila mengacu pada electoral threshold 5%, yang akan mengikuti Pemilu 2009 hanya tujuh partai, yaitu Golkar, PDIP, PPP, Partai Demokrat, PAN, PKB, dan PKS. Tujuh partai ini saja sebenarnya sudah melambangkan keanekaragaman sehingga tidak ada persoalan signifikan pada aspirasi rakyat yang terabaikan.

Dengan partai yang lebih sedikit, kemungkinan sebuah partai meraih mayoritas suara dalam pemilu semakin besar. Syukur-syukur kalau partai yang memenangi pemilu dengan suara mayoritas itu juga memenangi pemilu presiden. Andai tidak tercapai pun, opsi dan peluang untuk membangun koalisi lebih mudah dan terjaga.

Salah satu kesulitan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah karena berasal dari partai kecil, walaupun belakangan diperkuat Golkar dalam semangat koalisi. Akan tetapi, koalisi dengan jumlah partai yang terlalu banyak tidak efektif.

Pengurangan syarat BPP menjadi 25% dan peningkatan electoral threshold menjadi 5% mudah-mudahan bisa menjawab dua soal efisiensi sekaligus, yaitu efisiensi demokrasi dan efisiensi kedaulatan rakyat. Sebuah sistem yang efisien biasanya efektif.

Media Indonesia, Jum’at, 17 November 2006

Iklan

0 Responses to “Menuju Efisiensi Demokrasi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,637 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: