Demo, Demokrasi, Damai

Demonstrasi menyambut kunjungan Presiden AS George Walker Bush marak. Dapat diperkirakan puncaknya adalah hari Senin lusa, hari kedatangan Presiden AS ke Bogor.

Tak ada salahnya kita mengingatkan, dalam demokrasi, unjuk rasa diizinkan.

Dalam demokrasi, demonstrasi itu damai bebas dari kekerasan dan anarki. Demokrasi falsafah dan sikap politik yang menjamin kebebasan untuk menyatakan pendapat dan kritik termasuk lewat unjuk rasa. Akan tetapi, dalam demokrasi, segala kegiatan politik berlangsung damai tanpa kekerasan. Karena itu, beberapa pemimpin dan tokoh politik pun mengingatkan, unjuk rasa jangan sampai berubah anarki. Saling mengingatkan ini penting, karena ketika orang banyak berkumpul sebagai massa, suasana mudah berubah menjadi hiruk-pikuk, emosi, dan mudah tidak terkendali.

Baik juga dipertimbangkan, dalam unjuk rasa, kaum demonstran tidak berhadapan dengan perangkat keamanan asing, tetapi dengan perangkat keamanan kita sendiri. Andaikata situasi berkembang sampai lepas kontrol dan terjadi bentrokan atau kekerasan, yang berhadapan adalah kita lawan kita. Alangkah tidak elegannya dan ironis.

Dengan sengaja kita kemukakan hal-hal itu untuk mengingatkan kita semua, terutama sesama warga yang berunjuk rasa di lapangan sehingga bisa berhadap-hadapan dengan petugas keamanan. Jika sampai terjadi insiden dan jatuh korban, kita-kita juga yang menderita.

Toh akhirnya yang ingin kita sampaikan adalah pesan. Pesan itu lebih kuat dan lebih bicara karena disampaikan lewat aksi demo. Tujuan pokok, menyampaikan pesan dengan disertai nada tekanan tinggi bahkan juga disertai emosi. Pesan itu kiranya telah sampai sejak unjuk rasa bangkit dan marak menjelang kedatangan Presiden Bush.

Pemerintah kita mempunyai pertimbangan dan argumen mengapa menerima Presiden AS. Dalam kehidupan antarnegara, lebih bermanfaat membuka saluran dialog. Dalam zaman globalisasi tidak ada negara yang bisa hidup menyendiri. Dibandingkan dengan Vietnam, hubungan kita dengan AS tidak sepahit negara yang langsung berhadapan dengan AS dalam perang Indochina. Vietnam pun kini membuka dialog.

Sekali lagi, kita sependapat dengan sikap unjuk rasa yang mengecam peran pemerintahan Bush di Irak dan di Timur Tengah. Bukan saja kita, warga AS pun menyatakan ketidaksetujuannya, di antaranya lewat pemilihan Senat baru-baru ini. Juga tidak ada salahnya pemerintah kita berusaha memperoleh manfaat dari kunjungan Presiden Bush. Selain itu, pemerintah juga harus menyampaikan aspirasi yang disuarakan oleh para demonstran.

Sekali lagi perlu kita pahami dan kita taati, dalam demokrasi, unjuk rasa boleh dan wajar. Namun, dalam demokrasi, semua kegiatan politik, termasuk unjuk rasa, agar berlangsung damai. Apalagi perlu diingat, jika sampai terjadi kekerasan dan bentrokan, kekerasan itu terjadi antara kita dan kita.

Kompas, Sabtu, 18 November 2006

Iklan

1 Response to “Demo, Demokrasi, Damai”


  1. 1 rijalan Januari 17, 2007 pukul 12:11 pm

    saya minta!fhoto bush beserta keterangan atas kedatangan beliau keindonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,556 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: