Upaya Menjaga Karya Cipta Bangsa

GLOBALISASI dan liberalisasi telah membuat pergerakan kepentingan tidak mampu lagi dikekang batas-batas negara. Atas nama kebebasan dan demokrasi orang, lembaga atau bahkan negara saling klaim untuk menguasai dan meraih keuntungan satu sama lain.

Dampak globalisasi seperti ini juga melanda kekayaan intelektual dan budaya kita. Pihak-pihak di luar negeri dapat dengan mudah mengklaim hasil kreativitas, karya cipta, bahkan budaya kita sebagai hasil ciptaan mereka dan menarik keuntungan sebesar-besarnya dari hal itu.

Bukan satu dua kali fenomena seperti ini terjadi. Berbagai produk dan karya bangsa yang bahkan telah menjadi bagian sehari-hari kehidupan kita dapat dengan mudah diklaim pihak lain sebagai milik mereka. Pihak-pihak di luar negeri bahkan tidak segan untuk mematenkan hal hasil kreativitas kita.

Cerita tentang tempe yang dipatenkan sebuah lembaga di Jepang sungguh menyesakkan. Begitu juga angklung yang diklaim sementara kalangan di Malaysia, kebaya yang diakui sebagai asli kreasi Jepang, Malaysia, bahkan Afrika Selatan.

Ironisnya, menghadapi fenomena seperti itu, kita lebih sering hanya terperangah, tanpa mampu mempertahankan hak. Kita kecewa, tetapi tidak berdaya melakukan apa-apa. Karena memang, begitu pihak lain telah mematenkan sebuah karya ciptaan terlebih dahulu, hukum positif telah mengakuinya sekaligus melindungi kepentingan itu.

Situasi tidak adil itu, percaya atau percaya, mau tidak mau, dan suka tidak suka harus kita terima. Kita juga harus menaati aturan yang telah dilahirkan oleh peradaban, aturan yang ditaati oleh seluruh penghuni bumi.

Karena itu, kita menghargai upaya seniman kebaya kita Adjie Notonegoro yang pekan lalu mendeklarasikan kebaya sebagai busana nasional wanita Indonesia. Deklarasi seperti ini tidak saja perlu, tetapi juga sangat mendesak dilakukan. Mendesak karena kesadaran kita akan hak cipta sangatlah rendah.

Banyak perancang busana kita langsung bangga saat motif kebaya atau batik mereka beredar di luar negeri. Mereka pun sering lupa mematenkan karya. Tahu-tahu sebuah klaim muncul dan hasil kreasi mereka telah dipatenkan pihak lain nun jauh di sana.

Kita menghargai upaya pemerintah, bersama pemerintah daerah yang tengah menginventarisasi karya-karya seni tradisional, sumber daya hayati, dan folklor dari berbagai daerah di Indonesia.

Namun, sekali lagi setelah itu, jangan lupa mematenkan. Jika tidak, kita hanya dikenang sebagai bangsa yang punya banyak karya cipta, tetapi tak punya hak mengakui sebagai miliknya. Ibarat seorang ibu yang melahirkan, tetapi tak boleh mengakui sang jabang bayi sebagai anaknya. Ini sungguh amat menyakitkan.

Media Indonesia,  Sabtu, 18 November 2006

Iklan

3 Responses to “Upaya Menjaga Karya Cipta Bangsa”


  1. 1 g0ne Januari 25, 2007 pukul 6:59 pm

    Bagaimana dengan perizinan untuk usaha dalam bidang multimedia seperti download nada dering,lagu,gambar,animasi,aplikasi, DLL untuk handphone dan “gadget” lain ???
    Dan bagaimana pula dengan perizinan bagi usaha cetak / digital printing ???
    Hal tersebut diatas mengandalkan perangkat komputer beserta aplikasinya, bagaimana dengan perizinannya???
    Selama ini dan hingga saat ini pemerintah sedang mengkampanyekan untuk menjaga karya cipta dan menggunakan software komputer yang Resmi, namun tidak pernah memberikan jalan keluar maupun solusi atau penjelasan yang baik bagi Usaha2x tersebut diatas agar dapat tetap menjalankan usahanya tanpa harus melanggar karya cipta atau menggunakan software bajakan………

    SOLUSINYA ??????????????

    Karena Kami yakin, bahwa sebenarna banyak wiraswatawan yang tidak ingin melanggar…. namun tidak tahu bagaimana…..

  2. 2 BRISSA EDEN Maret 26, 2007 pukul 9:36 pm

    Setiap bangsa dan budaya punya culture nya masing-masing. Jepang punya culture pekerja keras, senang menabung. China senang berwirausaha, dan investasi. Coba lihat kalau anda masuk ke kampung-kampung China, sejelek apapun bisnisnya,yang penting bikin usaha.

    Apapun culturenya, selalu ada sisi positif negatifnya. Jepang, memutarkan dana tabungan masyarakatnya ke negara-negara lain, dan produknya ada dimana-mana.

    China, bisa begitu pesat kemjuannya karena indusri rumah tangga. Coba anda menginventaris barang-barang di rumah anda, dari mulai piring, kompor, gunting kuku, kipas angin, ember,kursi, dsb, lebih banyak produk China atau produk buatan Indonesia?

    Bagaimana dengan Indonesia?
    Kita punya alam yang demikian kaya, kita merusaknya.
    Kita lebih banyak malas mikirin akibatnya, dan setip hari kita hidup dengan menumpuk resiko, hingga ahirnya kehancuran menjemput kita.

    Apa yang salah?
    semuanya dimulai dari mindset (pola pikir)feodalistik dan malas mikir.
    bangsa China dan Jepang bisa begitu kenapa?
    Karena mereka dididik untuk bekerja keras dari kecil, mau apapun harus usaha.

    satu hal yang paling buruk di indonesia adalah sistem kebijakan di negara ini terlalu banyak mengadopsi mentah-mentah sistem yang diterapkan di negara lain, yang belum tentu sesuai dengan keadaan di dalam negeri kita sendiri.

    contoh yang paling nyata adalah sistem pendidikan kita yang berorientasi pada teory, bukan praktek. bersyukur saya selalu mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah terbaik. saya melihat perbedaan yang sangat jelas, betapa kualitas pendidikan kita sangat rendah,dan seperti berdiri di awang-awang, dimana apa yang kita pelajari, sudah sangat tidak relevan dengan keadaan di lapangan.

    Belum lagi masalah standarisasi pendidikan kita yang rendah, dimata internasional.
    banyak kasus teman-teman saya yang pindah ke negara lain, Aussy misalnya, begitu melamar kerja di sektor-sektor formal, ga diterima, dengan alasan ijazah dari Indonesia ga diakui. Mereka harus memulai pekerjaan mereka dari tukang cuci WC, masukin baju ke mesin laundry,dsb, padahal mereka mantan pegawai perusahaan BUMN di Jakarta.

    globalisasi yang terjadi baru mencapai 23% dengan parameter cakupan wilayah dan akses. tapi kondisi kita sudah demikian terpuruknya. kita harus melihat ini sebagai sesuatu yang sangat serius. Pemerintah harus segera menetapkan kebijakan-kebijakan penanggulangan krisis,antara lain
    1. membuat blueprint arah pembangunan negara, menetapkan dasar-dasarnya, dan tujuan yang ingin dicapai.
    2. supremasi hukum, tanpanya tidak ada gunanya sebuah kedaulatan negara.
    3. pemerataan penduduk untuk mendorong percepatan pembangunan daerah, dan pemerataan kemajuan pusat dan daerah.
    4. Undang Undang Pengendalian Jumlah penduduk. di masa yang akan datang, setiap pasangan hanya boleh memiliki satu anak. untuk setiap anak berikutnya harus dikenakan pajak yang tinggi.
    5. reformasi sistem pendidikan, dengan melakukan efisiensi guru (menghemat beban anggaran), memangun sistem informasi pendidikan dengan teknology seperti internet, koran pelajar, dan siaran TV khusus pendidikan.
    6. mengurangi tugas pemerintah, dengan cara memberikan keleluasaan pada swasta untuk mengelola sektor-sektor seperti pendidikan, perikanan, energy,dsb.
    7. efisiensi tugas pemerintah dibarengi dengan penurunan pajak, untuk menggalakkan peran swasta.

    pada dasarnya tugas pemerintah adalah kontrolling, dan menetapkan kebijakan.jadi biarlah pemerintah bekerja sebagai sebagaimana fungsinya, tidak usah terlalu banyak mengambil tanggung jawab, tapi malah jadi ga becus. bener ga??

  3. 3 iva November 20, 2007 pukul 5:45 pm

    apakah kebaya sudah dipatenkan sebagai busana nasional indonesia oleh orang indonesia tau malah sudah dipatenkan oleh pencuri hak paten sperti malaysia dan jepang???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 797,243 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: