Mencermati Hasil KTT APEC

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Hanoi, Vietnam, berakhir Minggu (19/11). Sejumlah kesepakatan telah dibulatkan 21 kepala negara anggota APEC. Hal-hal yang disepakati relatif tidak baru, belum bergeser dari kesepakatan yang dicapai pada KTT sebelumnya. Boleh dikata, menyimak apa yang disepakati para kepala negara APEC, hanya mengulang isu-isu lama, dan masih tetap menuai kontroversi yang sama.

Isu perdagangan global, terutama liberalisasi perdagangan dan perwujudan pasar bebas, terus disuarakan oleh APEC. Sementara isu non-ekonomi masih didominasi persoalan terorisme. Sejumlah hal yang relatif baru, yang disesuaikan dengan perkembangan dunia terkini, antara lain menyangkut penyelesaian krisis nuklir, serta penanganan wabah flu burung yang kian mengglobal.

Namun harus diakui, zona kerja sama yang dijalin melalui APEC cukup signifikan untuk mempengaruhi arah kebijakan politik, pertahanan dan keamanan, serta ekonomi global. Sebab anggota dari forum kerja sama yang dibentuk pada 1989 tersebut, merupakan representasi dari kekuatan ekonomi dunia. Cakupan ekonomi APEC mencapai 57 persen dari kekuatan ekonomi dunia, 45 persen dari nilai perdagangan dunia, serta 41 persen dari total populasi dunia.

Itulah sebabnya, banyak agenda-agenda tertentu, terutama yang senapas dengan orientasi perdagangan bebas, selalu “dititipkan” untuk dibahas di APEC. Hal itulah yang tampaknya menjadi kekhususan pada KTT di Hanoi akhir pekan lalu. Pembicaraan liberalisasi perdagangan yang terganjal di forum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pun disisipkan dalam agenda pembicaraan APEC. Hasilnya, para kepala negara anggota APEC sepakat untuk menghidupkan kembali proses negosiasi di WTO yang buntu pada Juli lalu, berkaitan dengan isu liberalisasi perdagangan produk pertanian.

Isu lain yang menjadi kekhususan dari pertemuan APEC tahun ini adalah gagasan untuk menciptakan zona perdagangan bebas yang luas di kawasan Asia Pasifik (Free Trade Area of the Asia-Pacific/FTAAP). FTAAP yang digambarkan bakal membentang dari Amerika Serikat hingga Rusia, dan dari Cile hingga Australia tersebut, ternyata digagas sebagai solusi jangka pendek bila pembicaraan perdagangan bebas di WTO kembali gagal. Seperti yang dinyatakan Perdana Menteri Selandia Baru, Helen Clark, kegagalan pembicaraan di WTO selama bertahun-tahun sungguh disayangkan. Oleh karenanya perwujudan FTAAP yang mencakup lebih dari separuh kekuatan ekonomi dunia, sungguh merupakan solusi yang atraktif.

Gagasan pembentukan FTAAP tampaknya menjadi hal yang prioritas bagi APEC saat ini. Bahkan FTAAP diharapkan bisa menjadi acuan dari banyak kesepakatan perdagangan bebas secara bilateral. Dalam Deklarasi Vietnam, antara lain juga termaktub bahwa setiap negara anggota akan mengkaji prospek jangka panjang dari FTAAP, dan harus melaporkannya pada KTT APEC di Australia, tahun 2007.

Meski demikian, ide pembentukan FTAAP tampaknya tidak berjalan mulus. Sejumlah negara, seperti Indonesia, Filipina, China, Jepang, dan Thailand, keberatan dengan rencana itu. Saat ini, negara-negara tersebut lebih fokus pada integrasi ekonomi di Asia Timur. Selain itu, mereka cenderung memilih pola perdagangan bebas regional.

Bagi Indonesia, hal yang patut dicermati, adalah kesiapan pelaku ekonomi kita, seperti kalangan petani dan manufaktur, yang produknya bakal diliberalkan. Kenyataannya, kita memang belum siap tempur di kancah perdagangan bebas. Ketimpangan kekuatan ekonomi antarnegara, masih menjadi alasan utama bahwa gagasan perdagangan bebas tidak menjamin bakal menguntungkan semua negara di dunia. Keuntungan dipastikan hanya mengalir ke negara maju, yang kekuatan ekonominya mampu menopang sektor ekonomi yang produknya diliberalkan.

Tentunya kita berharap pemerintah tidak gegabah menyetujui pembentukan FTAAP, dan lebih mengedepankan kepentingan ekonomi dalam negeri. Pemerintah hendaknya memprioritaskan penguatan ekonomi di dalam negeri, sembari menyiapkan para pelaku ekonomi agar mampu berproduksi secara efisien, sehingga pada saatnya mampu bersaing di perdagangan bebas global.

Suara Pembaruan, Minggu, 19 November 2006

Iklan

2 Responses to “Mencermati Hasil KTT APEC”


  1. 2 Istanamurah Februari 27, 2014 pukul 10:55 am

    hanya bisa mendoakan negara ini yang terbaik kedepannya gan . 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,663 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: