Setelah Bush Pergi

PRESIDEN Amerika Serikat Geroge W Bush memang membawa masalah ke mana pun dia pergi. Ketika berkunjung ke Indonesia yang cuma enam jam, negeri ini seakan di ambang kiamat. Irak, Afghanistan, dan Timur Tengah seakan hadir utuh melalui demonstrasi yang marak berhari-hari di jalan-jalan ibu kota dan terhadap pusat-pusat kepentingan serta simbol Amerika.

Tetapi Bush ternyata tidak marah. Dia malah memuji demonstrasi besar menyambut dirinya sebagai cermin demokrasi yang sedang tumbuh sehat di Indonesia. Andaikata para demonstran dibolehkan masuk ke Istana Bogor menemui dirinya, mungkin pujian itu tidak terucap dengan bangga dari mulutnya.

Adalah percuma mempersoalkan kemarahan yang marak di jalan-jalan itu. Bush telah datang dan pergi dengan aman. Malapetaka yang dikhawatirkan bakal menyertai kedatangannya di Indonesia tidak terwujud. Berarti, terlepas dari pengamanan hiperketat sehingga pemerintah membangun helipad di Kebun Raya Bogor, yang ternyata tidak digunakan, masyarakat kita memperlihatkan bahwa demokrasi memang sedang tumbuh dan sehat.

Bush memang datang dan pergi dengan aman. Malapetaka tidak terjadi. Tetapi kerugian besar ternyata sungguh nyata. Ini berkaitan dengan keinginan Indonesia untuk memuliakan tamu secara luar biasa. Tapi di lain pihak, juga memperlihatkan ketidakpercayaan terhadap kemampuan tuan rumah mengamankan tamu.

Kegiatan ekonomi Kota Bogor yang nyaris lumpuh pada hari kedatangan Bush adalah contoh bahwa kita belum profesional menangani kedatangan tamu sekaliber Bush. Sekolah-sekolah di Bogor yang diliburkan dan kesulitan masyarakat mencapai rumah sakit, contoh lain lagi tentang pengorbanan berlebihan.

Masyarakat telah memperlihatkan bahwa mereka bisa mengendalikan diri dalam mengolah pikiran dan sikapnya terhadap Bush. Tinggal sekarang bagaimana tindak lanjutnya. Ini tugas pemerintah.

Bush telah mengutarakan janji untuk membantu dan bekerja sama dengan Indonesia dalam banyak bidang, seperti pendidikan, kesehatan, energi, dan perdagangan. Semua janji dan kehendak baik itu, tentu, tidak akan direalisasi begitu saja dengan gampang.

Masih dibutuhkan pekerjaan besar dan terus-menerus dari pemerintah Indonesia, terutama di tingkat menteri untuk mengimplementasikannya. Itulah watak dasar dan keharusan mutlak dari sebuah kesepakatan internasional atau bilateral. Departemen Luar Negeri Indonesia beserta para duta besar mengemban tugas penting dalam soal ini.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah apa yang selama ini disebut dengan soft power. Tidak hanya Amerika yang harus lebih banyak menggunakan soft power, tetapi semua negara, termasuk Indonesia untuk menerapkannya secara jitu. Hubungan internasional dalam banyak hal juga ditentukan oleh perilaku masyarakatnya.

Di bidang investasi, misalnya, modal yang enggan masuk–bahkan keluar–juga disebabkan rasa tidak aman para investor. Sebagian disebabkan hukum Indonesia yang tidak pasti. Tapi sebagian lagi disebabkan wajah masyarakat yang garang dengan berbagai bentuk kekerasan, termasuk demonstrasi buruh yang bisa menutup pabrik dan mengusir direksi.

Setelah Bush kembali ke negerinya, itulah pekerjaan rumah Indonesia. Supaya rumah Indonesia menarik untuk disinggahi dan dihuni, penghuninya harus berbenah diri, termasuk membersihkan wajah kita agar tidak terlalu angker bagi orang lain.

Media Indonesia, Selasa, 21 November 2006

0 Responses to “Setelah Bush Pergi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 780,023 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: