Gerbong Jatuh ke Sungai

Gerbong paling belakang Kereta Api Serelo jurusan Lubuk Linggau-Palembang jatuh ke Sungai Bujuk di daerah Lubuk Linggau Selatan hari Senin (20/11) lalu. Kecelakaan itu mengakibatkan delapan penumpang meninggal dunia dan 36 lainnya luka-luka. Menurut perkiraan, kecelakaan disebabkan oleh sudah lapuknya bantalan rel dari kayu. Rel itu dipakai sejak zaman Belanda 70 tahun lalu.

Kecelakaan kereta api berkali-kali terjadi. Juga kecelakaan kendaraan umum lainnya. Belum lagi kebakaran. Kebakaran rumah penduduk yang padat dan kumuh pada musim kemarau panjang masuk akal. Beberapa hari lalu kebakaran menghabiskan Pasar Bintoro di Demak. Bagaimana halnya kebakaran kantor instansi yang modern dan strategis seperti kantor pusat Pertamina beberapa waktu lalu?

Kecelakaan bisa mempunyai latar belakang, penyebab, dan pelatuk yang berbeda-beda. Meskipun berbeda dan beragam, toh kita tangkap hadirnya faktor yang sama, di antaranya lemahnya pengawasan yang efektif. Masih ingatkah kita akan lift di Monas Jakarta tempo hari? Lift penuh penumpang, termasuk anak-anak kecil, mati secara mendadak. Bayangkan, betapa paniknya orangtua yang membawa anak-anak.

Pada kita umumnya kebiasaan memelihara dan mengawasi lemah, bahkan amat lemah. Ada atau tidak ada dana, kita cenderung membeli baru daripada memelihara. Jangan-jangan kota dan pemerintah juga kurang menghargai fungsi dan tugas pengawasan.

Pekerjaan pengawasan memang “aneh”. Jika berhasil—misalnya mencegah kebakaran gedung—tugas pengawasan sepi. Jika gagal, barulah heboh, jadi berita, misalnya jika gedung terbakar. Ketika pulang mudik jalan pantura rusak, berita ramai.

Pemeliharaan dan pengawasan adalah fungsi dan tugas yang strategis serta menentukan. Namun, dalam konteks kebiasaan kita, belum dipahami dan dihayati secara semestinya, bahkan itu pekerjaan yang tidak kalah penting untuk dilakukan.

Kita bahkan berpendapat, bangsa yang akan maju, bangsa yang semakin memanfaatkan teknologi modern, harus keras, disiplin, dan kontinu dalam mengawasi dan memelihara. Dimulai dari pendidikan di keluarga, di sekolah, di tempat kerja.

Ini persoalan kultur, bahkan pembentukan kultur bangsa. Samuel L Huntington mengingatkan, bagaimana kemajuan dua bangsa bisa berbeda hasilnya karena kultur yang berbeda. Hanya bangsa yang mempunyai kultur yang kuat, kultur kerja keras, kultur disiplin, kultur hidup hemat, yang akan menjadi bangsa besar.

Kita tidak pernah akan bisa menjadi bangsa besar kalau kita tidak mampu mengubah kultur kita yang lembek ini. Itu kita mulai dari diri sendiri. Semua orang harus membangun kesadaran bahwa banyak hal yang harus kita kerjakan untuk mencapai Indonesia seperti yang dicita-citakan. Selanjutnya kita membangun kompetensi untuk bisa menggapai harapan itu.

Kompas, Rabu, 22 November 2006

Iklan

0 Responses to “Gerbong Jatuh ke Sungai”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,980 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: