Solusi atau Distorsi?

Ada hal yang mengejutkan dan distortif dari pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat jumpa pers bersama dengan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush pada Senin (20/11) lalu. Yaitu menyangkut tawarannya dalam penyelesaian Irak.

Presiden mengusulkan tiga langkah. Pertama, rekonsiliasi nasional dengan memberdayakan pemerintahan yang ada agar masyarakat Irak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Kedua, masalah Irak bukan hanya tanggung jawab Amerika Serikat tapi tanggung jawab global dengan melibatkan pasukan PBB, yang penempatannya disesuaikan dengan jadwal penarikan pasukan AS. Ketiga, rekonstruksi dan rehabilitasi Irak harus melibatkan komunitas internasional.

Tawaran itu sangat mengejutkan. Suara Presiden begitu lembek, tanpa menekan AS untuk menarik pasukannya. Ia justru seolah memberi dorongan di tengah runtuhnya moralitas pemerintahan Bush setelah dihantam kekalahan telak dalam pemilu sela lalu, di kongres maupun di senat. Tawaran itu juga mengusik rasa keadilan masyarakat Indonesia yang sedari awal mengecam aksi sepihak AS terhadap Irak.

Jika kita menengok sejarah, kita akan mendapati nasib Irak yang mirip Indonesia di usia bayi merah kemerdekaannya. Di masa revolusi kemerdekaan, Indonesia didera aksi sepihak pasukan sekutu yang dipimpin AS dan Inggris. Mereka mendaratkan pasukannya di Indonesia yang didomplengi pasukan Belanda untuk menjajah kembali Indonesia setelah Jepang takluk pada sekutu. Namun berkat kegagahan Indonesia, pasukan sekutu kabur setelah tewasnya komandan pasukan Inggris, Brigjen Mallaby. Namun Belanda tetap bercokol hingga penyerahan kedaulatan pada 1949.

Kini, nasib Irak setara dengan nasib Indonesia di masa itu. Ada yang menyebutnya sebagai pendudukan, ada pula yang menyebutnya sebagai penjajahan. Publik AS pun sudah menghukum Bush dalam pemilu lalu. Sang arsitek perang Irak, Donald Rumsfeld, juga sudah mundur dari pemerintahan Bush. Lho, kini kok Indonesia bak pahlawan kesiangan?

Apa yang terjadi di Irak adalah tanggung jawab AS sepenuhnya. Mereka telah menginvasi negeri merdeka, dan kini mendudukinya. Tak hanya berakibat tewasnya ratusan ribu orang, tapi juga mencuri minyak Irak dan menimbulkan kemiskinan luar biasa. Kini, setelah AS tak mampu menyelesaikan kerusakan yang diciptakannya sendiri tiba-tiba kita merasa gagah dengan menyatakan bahwa dunia internasional harus ikut memikul tanggung jawab. Masalah Irak adalah masalah AS. Kita sebagai bagian dari komunitas internasional justru harus menekan AS untuk bertanggung jawab: menarik pasukannya, menyeretnya ke pengadilan internasional, dan membayar ganti rugi atas segala kerusakan yang dibuatnya.

Persoalan global bukanlah masalah yang sengaja dibuat seperti perang yang dikobarkan AS di berbagai negara. Masalah global yang menjadi tanggung jawab komunitas internasional adalah menghapus kemiskinan, ketimpangan global, kebodohan, dan keterbelakangan. Juga menanggulangi keterperangkapan negara-negara dunia ketiga dalam jerat utang luar negeri maupun penanggulangan kerusakan lingkungan.

Ah, sepertinya kita harus belajar lagi tentang sejarah kita sendiri. Kita harus membaca lagi pembukaan undang-undang dasar kita. Agar kita tak kehilangan pegangan walau beragam masalah silih berganti mendera maupun problematika dunia makin kompleks.

Republika, Kamis, 23 Nopember 2006

Iklan

0 Responses to “Solusi atau Distorsi?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 804,679 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: