Tanggung Jawab Sosial dan Penjualan Lapindo

ENAM bulan sudah malapetaka lumpur berlangsung, dengan seluruh akumulasi penderitaan yang menimpa warga Sidoarjo. Warga kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan masa depan.

Lumpur telah menghancurkan segalanya. Lumpur yang semula diperkirakan dapat dijinakkan dalam dua atau tiga bulan kemudian harus diterima sebagai kenyataan yang sangat pahit, sama sekali tidak dapat dihentikan atau ditaklukkan.

Terbentanglah penderitaan warga yang sangat panjang. Dan celakanya, hingga kini belum ditemukan solusi yang dapat diterima kedua pihak. Warga menghendaki cash and carry, sedangkan Lapindo Brantas Inc menghendaki warga mendapatkan penyelesaian permanen dengan membangun permukiman baru.

Di tengah seluruh penderitaan itu, di tengah belum dicapainya kesepakatan jalan keluar, tiba-tiba publik dikejutkan berita besar bahwa Grup Bakrie menjual Lapindo Brantas Inc kepada Freehold Group Limited. Sebuah keputusan yang jelas menimbulkan tanda tanya besar, bahkan melahirkan kecurigaan yang hebat. Mengapa Lapindo dijual ketika nasib warga korban lumpur belum beres dan tuntas?

Wajar dan manusiawi bila warga khawatir pergantian pemilik itu merupakan upaya Lapindo untuk melepaskan diri dari tanggung jawabnya membayar ganti rugi sesuai dengan Keppres 13/2006. Sebab keppres itu hanya menyebutkan Lapindo sebagai pihak yang bertanggung jawab. Keppres itu tidak menyebut Grup Bakrie, apalagi Freehold Group Limited yang sekarang memiliki Lapindo.

Menjual perusahaan, tentu, adalah hak sang pemilik. Namun, Lapindo merupakan perusahaan publik. Oleh karena itu, sepantasnya publik menuntut Grup Bakrie untuk menjelaskan secara transparan dan sejujur-jujurnya motif penjualan Lapindo. Sebab, ternyata James Belcher, pemilik Freehold, masih kolega keluarga Bakrie yang dikenalnya selama 25 tahun.

Namun, harus pula dikatakan di sini komitmen yang telah dicanangkan Grup Bakrie. Melalui anak usahanya, Minarak Labuan, Grup Bakrie telah menegaskan tetap berkomitmen untuk menangani luapan lumpur di Sidoarjo sekalipun Lapindo sudah beralih pemilik kepada Freehold. Dan tak kalah penting, tetap bertanggung jawab kepada korban.

Pemerintah pun tidak boleh lepas tangan. Pemerintah harus pula memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat soal pengalihan kepemilikan Lapindo. Harus digariskan secara terbuka bahwa sekalipun telah terjadi pengalihan pemilikan, sekalipun tidak disebut dalam Keppres 13/2006, Grup Bakrie tetap bertanggung jawab.

Transparansi adalah keniscayaan demokrasi. Jangan membiarkan masyarakat korban lumpur panas terus hidup dalam kegelisahan, dalam ketidakpastian. Mereka sudah terlalu lama disandera penderitaan. Pembiaran itu justru melanggar hak dasar warga.

Oleh karena itu, kesepakatan jalan keluar untuk menyelamatkan warga harus segera dicapai. Solusi permanen mestinya menjadi opsi yang lebih dianjurkan.

Yang jelas, kasus lumpur ini memang menjadi contoh paling spektakuler, bagaimana konsep dasar tanggung jawab sosial perusahaan, yang sedang menjadi tren peradaban modern, dapat ditegakkan. Di sinilah pula ketangguhan komitmen pengusaha nasional, Grup Bakrie, sedang dipertaruhkan. Sebuah ujian yang menyangkut riwayat menjulang sang pendiri, Achmad Bakrie, di tangan generasi penerus.

Media Indonesia, Kamis, 23 November 2006

Iklan

0 Responses to “Tanggung Jawab Sosial dan Penjualan Lapindo”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 788,198 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: