Penanganan Pascabencana

Setelah gas Pertamina di Porong meledak dan menewaskan serta melukai sejumlah orang, pemerintah menyebut luapan lumpur panas sebagai disaster, bencana.

Diharapkan dan harus diupayakan ada momentum baru untuk menangani luapan lumpur panas yang bagi warga dan lingkungan setempat sudah merupakan bencana nyata sejak semula. Perhatian pertama bagi para korban warga setempat. Termasuk mereka yang karena tanggul bobol terpaksa mengungsi karena lumpur panasnya mengalir ke rumah mereka. Pertanyaannya, mengungsi ke mana dan atas biaya siapa? Siapa yang bertanggung jawab dan mengurusnya? Cukupkah cekatan dan efektif, seimbang dengan cepatnya bencana?

Oleh pemerintah ditegaskan, biaya tetap tanggung jawab Lapindo, pemerintah terbatas membantu biaya sosialnya. Bagaimana menerjemahkan keputusan dan kebijakan pemerintah itu? Kita pun berpendapat, nasib para warga setempat korban bencana lumpur itu yang harus memperoleh prioritas. Mereka kehilangan rumah tinggal, pekerjaan, dan sumber penghasilan.

Sejauh ini, dari segi teknologi belum ditemukan cara efektif untuk menghentikan luapan lumpur. Terus dicoba dengan membuat relief well. Bekerja siang-malam para teknisi dan tim ahli geologi, tetapi diperlukan waktu untuk bisa menghentikan luapan lumpur. Karena dari segi teknologi belum ada jaminan pasti berhasil, usaha itu pun disertai unsur ketidakpastian.

Mulai kita dengar keluhan dan kritik, bagaimana kondisi kita ini, mengatasi lumpur Lapindo pun belum juga berhasil secara memuaskan. Inilah ujian bukan saja bagi pemerintah, tetapi bagi kita semua. Yang terjadi justru bencana tambahan seperti meledaknya pipa gas.

Pemerintah telah berupaya sekeras mungkin. Dibentuk tim nasional yang dilengkapi oleh tim setempat. Setiap kali para menteri yang terkait di antaranya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Pekerjaan Umum, dan Menteri Sosial datang bukan sekadar meninjau, tetapi mengumpulkan data informasi, menganalisis, serta merumuskan kebijakan dan langkah. Kita berpendapat sosok dan kehadiran pimpinan harus jelas dan terus-menerus. Kiranya dibuat lebih jelas, lebih padu, lebih cekatan, dan lebih efektif.

Seperti halnya bencana itu secara laten tampak berikut letupan, perkembangan, dan akibatnya yang merusak. Tim itu agar pula tampak, jelas, terus-menerus, cepat-cekatan, dan efektif. Pekerjaan lebih kompleks harus segera dilakukan, yakni memindahkan jalan tol, membangun jalur rel baru kereta api, serta memindahkan pipa gas agar masalah kekurangan pasokan gas dan listrik segera teratasi.

Kita prihatin dengan perusahaan dan pihak-pihak yang harus bertanggung jawab oleh bencana ini. Akhirnya yang paling menderita, lagi-lagi warga dan lingkungan setempat. Diperlukan sikap peduli dan empati yang dinyatakan juga lewat langkah nyata seperti penyediaan bantuan yang memadai. Pada tempatnya, bencana lumpur panas Lapindo kita jadikan batu ujian, sanggup tidak kita menangani musibah itu dengan kepedulian tinggi serta efektivitas kerja nyata.

Kompas, 27 November 2006

Iklan

0 Responses to “Penanganan Pascabencana”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,557 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: