Menanti EPA Jepang-Indonesia

Republika 28 11 2006 – Marsudi Budi Utomo
Ketua Pusat Informasi dan Pelayanan PKS Jepang

Economics Partnership Agreement (EPA) menjadi agenda penting dalam pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Shinzo Abe. Gerakan kerja sama ekonomi dalam kontek EPA antara Jepang dan Indonesia ini sudah mulai dirintis sejak Juni 2003. Maraton 6 putaran pertemuan telah dilakukan untuk negosiasi kandungan EPA dan baru selesai Oktober 2006.

Penandatangan kerja sama ini akan menjadi barometer hubungan ekonomi antara Indonesia dan Jepang. Akan tetapi ini masih dirasa ketinggalan dari negara ASEAN yang lain. Misalnya, Singapura telah menandatangani EPA dengan Jepang sejak 2002, Malaysia, Filipina, dan Thailand hampir bersamaan sejak 2005. EPA Jepang dengan Amerika Latin seperti Meksiko juga telah selesai 2005, dan berikutnya menyusul Cile.

Apakah itu EPA itu? Apa keuntungan yang didapat pihak Indonesia? Seharusnya kedua hal tersebut sudah tuntas terjawab oleh tim negosiator pemerintah RI selama masa negosiasi. Tulisan ini mencoba membahas prospek EPA ke depan ditilik dari sisi masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang.

Kompetisi EPA
Negosiasi EPA selama ini berfokus pada 11 hal antara lain perdagangan barang produksi, barang jasa, investasi, energi dan tambang, SDM, hak paten, dan lain-lain. Secara garis besar, muatan EPA ini mencakup tiga skema. Pertama, adalah skema jaminan kebebasan pergerakan barang-barang produk industri, produk pertanian, garmen, produk jasa, dan tenaga kerja. Kedua, skema fasilitas kegiatan ekonomi antara Jepang dan Indonesia. Ketiga, skema jaminan stabilitas kerja sama dan pengembangan kerja sama berikutnya.

Dari sisi itu, penandatangan EPA bagi Indonesia cukup prospektif untuk jangka menengah panjang. Akan tetapi, EPA ini akan lebih menguntungkan apabila Indonesia dan Jepang dalam kondisi seimbang, baik di bidang ekonomi, industri dan SDM. Dari laporan BPS, ditengarai sampai September 2006 ini Indonesia masih surplus 4,9 miliar dolar AS dari Jepang dengan total ekspor 8,073 miliar dolar AS dan impor 3,98 miliar dolar AS. Akan tetapi perlu dicatat, bahwa ekspor non-migas ke Jepang bulan September 2006 hanya sebesar 1,24 miliar dolar AS. Sementara nilai impor dari Jepang sebesar 3,98 miliar dolar AS (12,76 persen) didominasi oleh impor mesin dan pesawat mekanik.

Angka tersebut memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara Jepang dan Indonesia. Indonesia hanya mampu mengekspor produk non-migas sebesar 15.4% saja. Sudah mahfum bahwa kecilnya ekspor non-migas sebagai sektor padat karya berpengaruh pada kecilnya daya serap tenaga kerja nasional. Sebaliknya, besarnya impor mesin dan produk mekanik justru kontraproduktif karena menjadikan perkembangan inovasi industri nasional sekarat.

Sehingga, skema EPA ini harus menjadi titik mula kompetisi untuk meningkatkan daya ekspor non-migas Indonesia ke Jepang. Konsekuensi dari kompetisi ini memberi dampak kepada dunia industri nasional untuk meningkatkan mutu barang. Juga, tantangan bagi kalangan industri agar berani menentukan standardisasi produk dan jaminan atas mutu barang terhadap dampak kesehatan dan lingkungan.

TKI ke Jepang
Satu hal dalam skema EPA yang kerap diangkat oleh Menteri Perdagangan Mari Pangestu adalah terbukanya pasar perawat dan juru rawat dari Indonesia ke Jepang. TKI perawat dan juru rawat ini adalah terobosan baru karena pengiriman selama ini adalah TKI ‘pabrik’ untuk pemenuhan UKM industri dan manufaktur. Meski demikian, hendaknya ini bukan upaya yang disengaja untuk mengaburkan informasi dan menarik simpati masyarakat. Karena, tidak bertanggung jawab apabila ketidakmampuan menyediakan lapangan kerja di dalam negeri diganti dengan cara mengekspornya ke luar negeri.

Yang perlu dicermati dari pengiriman TKI perawat dan juru rawat ini, pertama, bahwa standardisasi keperawatan di Jepang sangat tinggi. Kedua, akreditasi dan sertifikasi tenaga keperawatan di rumah sakit dan klinik kesehatan di Jepang sangat ketat. Ketiga, besarnya biaya untuk memenuhi standardisasi dan mendapatkan akreditasi keperawatan tersebut.

Implikasinya bagaimana? Kemungkinan, setiap perawat dan juru rawat yang akan masuk ke Jepang dalam skema EPA harus menanggung biaya penyetaraan standardisasi dan akreditasi. Ini menjadi pertimbangan serius, meskipun perdagangan TKI itu bebas pajak, tetapi biaya kemanusiaannya menjadi lebih besar.

Melihat pengalaman TKI di Jepang selama ini, konsekuensi berikutnya adalah masuknya broker TKI. Ini akan lebih terasa pahit dan jauh dari harapan bagi TKI perawat dan juru rawat untuk hidup lebih baik. Ditambah lagi kemungkinan terjadinya diskriminasi di tempat kerja nantinya.

Selain lapangan kerja keperawatan, agaknya dalam negosiasi juga ada tuntutan pembukaan lapangan kerja untuk pramuwisata. Esensi awalnya diharapkan para pramuwisata belajar dan magang kepariwisataan serta perhotelan dengan penguasaan bahasa dan budaya Jepang. Ke depan, juga diharapkan memenuhi kebutuhan tenaga kerja wisata dan perhotelan berbasis bahasa Jepang di Indonesia.

Cakupan wisata dan perhotelan itu sangat luas, sehingga perlu disimak terus agar usaha pendatangan TKI pramuwisata dan perhotelan ini tidak menjadi bagian legalisasi bisnis perempuan Indonesia ke Jepang. Sebagai contoh, Jepang membuka tenaga perawat dari Filipina, tetapi sangat jarang ditemukan perawat Filipina di rumah sakit atau klinik di Jepang. Kebanyakan mereka justru berlabuh ke pub, klub malam, atau rumah bordil. Di sini masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang memainkan perannya.

=====================

Luthfi 

Iklan

3 Responses to “Menanti EPA Jepang-Indonesia”


  1. 1 ai nuraeni September 27, 2007 pukul 1:48 pm

    Assalamualaikum warohmatullaohi wabarokatuh,
    selamat siang….
    saya hanya ingin bertanya jadi bagaimana prospek lulusan perawat-perawat Indonesia??apakah hanya bisa berdiam diri tanpa ada kejelasan jaminan kera. Lalu hal apa saja yang dibutuhkan dan harus disiapkan perawat-perawat Indonesia khususnya untuk bisa bekerja di luar negeri?selain syarat kemampuan komunikasi internasional?lalu bagaimana prosedur yang harus ditempuh untuk bisa dapat koneksi bekerja di luar negeri?

  2. 2 Amin khoerul anwar April 1, 2008 pukul 4:10 pm

    konichiwa.
    saya berminat bekerja sebagai perawat di jepang..?bagaimana proses rekruitment nya itu? tolong beri tahu saya…?
    ITSUMO GANBATE..
    domo arigatoo gozaimashita


  1. 1 jus mengkudu batam Lacak balik pada Oktober 28, 2015 pukul 10:26 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 788,198 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: