Stop tayangan kekerasan!

SoloPos 28 Nov 2006 – Belakangan ini korban jatuh karena terinspirasi dan kemudian meniru acara gulat bebas Smack Down dan sejenisnya, berjatuhan.
Virus Smack Down bahkan telah merenggut nyawa siswa Kelas III SD Cingcin 1, Ketapang, Kabupaten Bandung, baru-baru ini. Anak malang itu, Reza Ihsan Fadillah,9, menghembuskan napas terakhirnya setelah beberapa hari mengalami sesak napas dan demam tinggi, setelah sebelumnya terjatuh saat bermain gulat ala Smack Down dengan sejumlah kakak kelasnya.
Tak lama berselang, peristiwa serupa kembali terjadi. Kali ini korban Smack Down menimpa seorang siswa SD Negeri 4, Wates, Yogyakarta bernama Maryunani. Maryunani terkapar dan terpaksa dilarikan ke RSUD Wates setelah jatuh akibat bermain gulat bebas ala Smack Down bersama beberapa rekannya di dalam ruang kelas.
Kedua peristiwa ini mestinya menjadi pemikiran berbagai pihak. Oleh karena demam Smack Down secara langsung maupun tidak langsung memang telah melingkupi dunia anak-anak. Tak hanya meniru apa yang dilakukan para pemain dalam tayangan itu, mereka bahkan hafal nama-nama aktor yang tampil di layar kaca. Bahkan sejumlah anak mengidolakan aktor-aktor yang acap kali memenangkan pergulatan, sehingga merelakan sebagian uang sakunya untuk membeli poster pemain Smack Down kebanggaan mereka.
Ini adalah kenyataan. Hal ini berbahaya mengingat tingkat kedewasaan anak-anak belum sampai tahap di mana mereka bisa membedakan mana tayangan yang bisa dicontoh, dan mana yang harus dibuang. Mereka sekadar meniru apa yang mereka saksikan tanpa memikirkan risiko dari perbuatannya.
Untuk kasus di Bandung, belakangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Jawa Barat memutuskan untuk menempuh jalur hukum setelah pihak stasiun televisi swasta yang menayangkan acara Smack Down menolak menghentikan tayangan itu. Pihak stasiun televisi hanya berjanji akan mengundur jam tayang acara tersebut.
Namun mengundur jam tayang, memang bukan penyelesaian masalah. Oleh karena ketertarikan acara itu akan membuat seorang anak berusaha menyaksikan kapan pun cara itu ditayangkan.
Maka tak ada pilihan lain, acara Smack Down dan sejenisnya harus segera dihilangkan dari layar kaca. Lebih dari itu, keberadaan tayangan lain yang mengandung unsur kekerasan juga harus dievaluasi lagi. Jangan biarkan para generasi penerus bangsa mempelajari budaya kekerasan karena suguhan tayangan-tayangan itu. Sebagai gantinya, layar kaca harus diperbanyak dengan tayangan-tayangan yang memberikan banyak manfaat.
Layar kaca hendaknya dihiasi dengan tayangan-tayangan sarat nilai. Jangan menunggu korban berjatuhan lagi. Jangan ada lagi Reza-Reza yang lain, yang harus mati sia-sia dan urung menjemput masa depan yang cerah. –

===========================

Luthfi

Iklan

2 Responses to “Stop tayangan kekerasan!”


  1. 1 sigit panji eko wibowo Desember 1, 2006 pukul 9:30 am

    jadikan agama sebagai “sensor” yang terbaik


  1. 1 Afiliasi To Opini « Blogger IPB Lacak balik pada November 28, 2006 pukul 4:43 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,663 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: