Tangan Asing dalam Krisis Lebanon

Republika 29 Nov 2006

Irman Abdurrahman
Staf Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta

Begitu mudah diperkirakan respon media-media Barat terhadap pembunuhan Pierre Gemayel, Menteri Perindustriaan Libanon, cucu Pierre Gemayel Sr, pendiri Partai Kataeb, yang juga dikenal dengan Phalange, salah satu faksi yang biasa disebut anti-Suriah. Sebagai contoh, Stratfor.com (Strategic Forecasting) dengan tendensius menulis, “Dengan memperhatikan Gemayel sebagai seorang yang kerap menentang Hizbullah dan seorang anggota gerakan anti-Suriah, maka adalah mungkin intelijen Suriah telah merencanakan penembakan ini sebagai bagian dari strategi intimidasi untuk tetap menutupi pembunuhan mantan perdana menteri Lebanon, Rafik Hariri. Hizbullah akan menggunakan momentum yang dihasilkan dari pembunuhan Gemayel untuk melanjutkan rencananya memaksa Lebanon masuk ke dalam sebuah krisis konstitusional.”

Sebagaimana yang disimpulkan media-media Barat, motif yang segera terlihat dinisbatkan kepada elemen-elemen politik pro-Suriah, di antaranya dua faksi Syiah-Hizbullah dan Amal serta satu faksi Kristen pimpinan Michael Aoun. Bukankah pembunuhan ini dilakukan untuk mengintimidasi para politisi anti-Suriah yang menyetujui keterlibatan PBB dalam pengadilan kasus Hariri sesuai dengan pesanan Amerika Serikat. Bukankah pembunuhan ini yang melemahkan pemerintah Siniora menguntungkan Hizbullah yang sepekan sebelumnya berunjuk rasa menuntut mundurnya Siniora karena dianggap sebagai kaki-tangan Amerika? Singkatnya, serentetan pertanyaan tersebut menyediakan raison d’etre untuk menjadikan Suriah dan kelompok Lebanon pro-Suriah sebagai tertuduh.

Namun, perlu dicermati konsekuensi apa yang diterima Suriah dan sekutunya di Lebanon dari pembunuhan tersebut? Konsekuensi langsung yang akan segera diterima adalah semakin massifnya upaya pendiskreditan mereka oleh kekuatan-kekuatan politik anti-Suriah. Kondisi mereka, yang sudah tersudutkan karena kasus Hariri, kini justru akan semakin terjepit. Sentimen anti-Suriah akan semakin kencang dihembuskan, baik di pemerintahan maupun masyarakat.

Yang terpenting, Damaskus yang sebenarnya berkepentingan dengan Lebanon yang damai kini menghadapi kemungkinan pecahnya perang saudara di negara tersebut seperti pada 1982. Kepentingan Suriah terhadap Lebanon yang damai ditujukan demi membendung agresivitas Israel di kawasan tersebut. Apalagi, sejak berhasil menahan agresi militer Israel pada Juli hingga Agustus lalu, pamor Hizbullah, sekutu Suriah, melonjak di mata masyarakat Lebanon. Alhasil, meletupnya krisis di Lebanon jelas tidak menguntungkan bagi eksistensi Suriah dan sekutu-sekutunya.

Pihak lain
Jika demikian, tampaknya ada pihak lain yang mengail di air keruh. Ada pihak lain yang menuai keuntungan dengan menuduh satu pihak sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Siapakah yang memperoleh keuntungan dari makin melemahnya pengaruh kelompok pro-Suriah di Lebanon? Lalu, siapa pula yang akan berpesta di tengah perpecahan nasional Lebanon? Perpecahan yang akan menjadikan negeri itu dipaksa menerima intervensi lembaga-lembaga multilateral.

Tampaknya tidak ada kekuatan yang jelas-jelas mendapatkan keuntungan dari pembunuhan Gemayel, juga Hariri, serta ketertuduhan Suriah kecuali Amerika Serikat dan Israel. Bagi Amerika, pembunuhan tersebut bisa dimanfaatkan untuk menolak keterlibatan Suriah juga Iran dalam kaitan dengan jadwal penarikan mundur pasukannya dari Irak, seperti yang diusulkan Kelompok Studi Irak (ISG) bentukan mantan Menlu James Baker. Dengan menuduh Suriah terlibat dalam penembakan tersebut, Presiden Bush serta kalangan neokonservatif di Gedung Putih dan Pentagon bisa mengklaim bahwa melibatkan Damaskus dan Teheran dalam soal Irak adalah tidak layak karena kedua negara itu terlibat dalam instabilitas kawasan tersebut. Ini dibuktikan dengan keengganan Bush untuk menerima usulan ISG itu dan penetapan banyak syarat terhadap Suriah dan Iran jika kedua seterunya itu ingin terlibat dalam pembicaraan soal Irak. Apalagi, baru-baru ini keduanya, tanpa keterlibatan Amerika, berinisiatif merevitalisasi hubungan diplomatik dengan Baghdad.

Bagi Israel, dalam jangka pendek, melemahnya pengaruh kelompok pro-Suriah akan meminimalisasi anasir-anasir yang mengancam eksistensinya. Sementara itu, instabilitas Lebanon, dalam jangka panjang, akan mempermulus jalan Israel untuk mewujudkan mimpi fasistik mereka, Timur Tengah Baru, yang meliputi wilayah negeri Paris dari Timur Tengah itu. Menguatnya tuntutan Amerika terhadap pemerintah Lebanon untuk melibatkan lembaga multilateral seperti PBB jelas semakin membuktikan keinginan kedua negara sekutu itu untuk menanamkan rezim boneka di Lebanon, yang akan melayani segala kepentingan dominasi keduanya atas Timur Tengah.

Operasi bendera palsu
Lupakan dulu persoalan motif. Kini, mari kita bicara mengenai jejak rekam Israel sebagai negara yang kerap melancarkan operasi-operasi teror bendera palsu. Dengan menuding pihak lain atas kejahatan yang dilakukannya, Israel ingin mengubah opini publik atas satu pihak dan menjadikan pihak lain berperang demi kepentingannya.

Satu peristiwa yang kini mungkin telah lama dilupakan adalah ledakan bom di Hotel King David, Palestina, pada 22 Juli 1946, yang menyebabkan tewasnya 91 tentara Inggris. Israel menuding kaum militan Palestina ada di balik ledakan tersebut. Namun kemudian, terungkap bahwa aksi terorisme tersebut dilakukan kelompok teroris Israel, Irgun, yang berpakaian Arab. Tujuannya jelas, Israel bukan sekadar menginginkan Inggris keluar dari Palestina tetapi juga hendak mengubah opini dunia tentang para pejuang kemerdekaan Palestina.

Terkait dengan Lebanon, pada 1982 saat invasi I Israel ke Lebanon, mungkin orang tak akan pernah lupa ketika sebuah truk sarat bahan peledak menabrakan diri ke barak marinir AS di Bandara Internasional Beirut. Akibatnya, 241 marinir tewas. Peristiwa ini berhasil menarik Amerika untuk ikut berperang di pihak Israel. Hanya dalam hitungan beberapa hari kemudian, Israel telah berhasil mengidentifikasi pelaku ledakan sebagai intelijen Suriah dan pejuang Syiah Lebanon. Keterlibatan Mossad dalam peristiwa ini pun kemudian diungkap mantan agennya sendiri, Victor Ostrovsky, dalam bukunya By Way of Deception (1991).

Dua peristiwa tersebut hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak operasi bendera palsu Israel lainnya, seperti pembantaian di Shabra dan Shatilla (1982) dan Lavon Affair (1954). Hiperterorisme 9/11, menurut banyak analis independen, juga tidak mustahil melibatkan Israel.

Jelaslah siapa yang kini paling diuntungkan dengan krisis di Lebanon. Maka, amat disayangkan jika rakyat Lebanon terperangkap dalam langgam permainan Amerika dan Israel. Jika memang Bush selalu berada di belakang pemerintah yang sah dan demokrasi, seperti yang dinyatakannya itu, lalu ke manakah ia dan demokrasinya ketika militer Israel menginjak-injak kedaulatan Lebanon dengan melakukan invasi selama lebih daripada 30 hari.

Ikhtisar
– Kelompok pro-Suriah dituding media Barat berada di balik penembakan Pierre Gemayel, menteri perindustrian Lebanon.
– Tudingan ini tak lain diacungkan supaya kelompok anti-Suriah segera bereaksi keras terhadap mereka yang pro-Suriah dan terjadi perang saudara.
– Padahal, Suriah sangat berkepentingan dengan perdamaian di Lebanon untuk menangkal invasi Israel.
– Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Israel lebih berpeluang berada di balik pembunuhan itu untuk menganggu stabilitas keamanan di Lebanon.

==========================

Luthfi 

Iklan

0 Responses to “Tangan Asing dalam Krisis Lebanon”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,637 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: