Padamu Negeri Kami Digaji

Memperingati hari jadinya yang ke-35, Korpri semakin kehilangan orientasinya. Padahal, banyak hal yang harus segera dilakukan demi kepentingan anggota, negara, dan tentu masyarakat yang menjadi “tuan”nya.

Korpri semakin uzur di usianya yang ke-35 tahun. Tetapi, di usianya itu, apa yang bisa dilakukan Korpri? Dari aspek visinya saja, Korpri punya gereget untuk menjadikan dirinya sebagai organisasi yang tidak saja kuat, tapi juga netral, mandiri, profesional, dan terdepan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Organisasi yang menghimpun seluruh pegawai di republik itu juga bercita-cita bisa menyejahterakan seluruh anggota dan masyarakatnya.

Sejarah mencatat bahwa kehadiran Korpri di era Orde Baru tidak lebih dari sekadar mesin politik sekaligus kepanjangan penguasa dalam rangka mempertahankan dan memperkuat hegemoni kekuasaannya.

Melalui wadah Korpri pada saat itu, seluruh jajaran PNS digiring dengan berbagai bentuk dan caranya, bahkan dengan alasan kesetiaan dan pengabdian kepada negara, untuk tidak berpolitik kecuali mendukung kepentingan politik golongan yang berkuasa. Akibatnya, predikat luhur Korpri sebagai abdi negara berubah fungsi menjadi abdi penguasa.

Politisasi Korpri itu merupakan kekeliruan sekaligus dosa paling besar. Saya katakan dosa besar karena dari kekeliruannya yang fatal itulah, banyak kekeliruan atau dosa-dosa lain muncul.

Karena kekeliruannya yang sangat mendasar, upaya untuk meningkatkan profesionalisme Korpri menjadi terabaikan, tergilas oleh besarnya kepentingan politik. Padahal, memelihara profesionalisme merupakan salah satu misi utama Korpri.
 

Dosa

Dalam konteks itu, Korpri telah berdosa karena secara langsung ataupun tidak telah menciptakan “patologi bureau” atau “maladministation”, sebutlah pula amburadulnya birokrasi. Sebuah birokrasi mengalami patologi ketika fungsi dan perannya tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.

Wujud konkretnya banyak. Birokrasi yang mestinya jadi pelayan masyarakat berubah fungsi menjadi hal sebaliknya, yakni minta dilayani masyarakat. Birokrasi yang sejatinya memihak kepentingan masyarakat banyak berubah arah jadi organisasi yang memihak kepentingan golongan.

Bukan hanya itu, mekanisme kerja birokrasi yang menurut Max Weber didasarkan pada hubungan yang bersifat impersonal berubah menjadi hubungan yang sangat personal-subjektif. Tidak mengherankan jika birokrasi yang sebagian besar dihuni anggota Korpri itu begitu potensial melahirkan praktik KKN yang hingga saat ini masih sering dihujat dan digugat masyarakat.

Yang tidak kalah fatalnya, melalui politisasi Korpri, hak-hak politik PNS yang merupakan hak personal sekaligus bagian dari hak asasi manusia setiap warga negara secara terang-terangan dibungkam. Di sini, Korpri telah berdosa karena secara langsung dan terang-terangan telah menyumbat kehidupan demokrasi.

Maka, jangan heran kalau secara internal, Korpri pun masih merupakan organisasi yang kurang didukung partisipasi aktif dan semangat para anggotanya.

Namun, itulah tantangan internal lain yang mesti jadi sasaran utama pembenahan sekaligus pembaruan Korpri saat ini.

Sambil becermin dari kekeliruan sebelumnya, perlu diketahui ada kaidah menarik yang patut direnungkan bagi seluruh jajaran Korpri, “Sebuah organisasi besar dan berhasil tidak pernah belajar dari keberhasilannya, melainkan selalu belajar dari kekeliruannya”. Di situlah relevansinya bagi Korpri untuk melakukan setidaknya beberapa agenda di bawah ini.

Pertama adalah tugas berat Korpri untuk bisa melakukan konsolidasi internal dalam rangka memantapkan kedudukan sekaligus memulihkan citra serta wibawa Korpri. Konsolidasi internal itu menjadi sangat penting sebelum berkonsolidasi ke luar organisasi. Menumbuhkan perasaan bangga jadi anggota Korpri, itulah sasaran utamanya. Salah satu langkah kuncinya, bagaimana mewujudkan visi bersama (shared vision).

Konon, sebuah visi benar-benar layak disebut visi bersama apabila setiap anggotanya memiliki gambaran dan komitmen yang sama untuk mencapainya.

Indikator keberhasilannya, visi Korpri diterima seluruh anggotanya bukan karena rumusan idenya yang menarik atau telah diputuskan munas, melainkan karena sebuah panggilan. Kedua, upaya untuk meningkatkan kesejahteraan anggota harus menjadi agenda utama lain Korpri saat ini. Bukan semata kesejahteraan yang bersifat material, tetapi juga kesejahteraan nonmaterial yang mampu memelihara dan membangun ketenteraman dan semangat kerjanya. Mewujudkan kepastian sistem karir berdasar asas kompetensi, bukan berdasar kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan, adalah salah satu contoh upaya yang bisa dilakukan Korpri untuk mewujudkan kesejahteraan yang nonmaterial itu.

Ketiga adalah keniscayaan bagi Korpri untuk mampu mensterilkan eksistensinya dari segala bentuk intervensi politik yang akan mengganggu, bahkan merusak, misi organisasi pegawai ini dalam membangun dan meningkatkan sikap profesionalismenya.

Di situlah kesadaran dan kedewasaan para elite politik dituntut dan diuji. Mengabaikannya berarti membiarkan Korpri kembali melakukan dosa-dosa masa lalu yang jelas sangat merugikan kedudukan, citra, dan wibawa Korpri. Depolitisasi Korpri, itulah agenda intinya.

Dengan agenda itu pula, tidak berarti bahwa anggota Korpri harus kehilangan hak-hak politiknya. Dengan agenda itu, anggota Korpri harus sadar bahwa predikatnya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat hanya akan terwujud, jika dalam menjalankan tugas-tugas kedinasannya, mampu memelihara “netralitas” sikapnya.

(Jawa Pos, 29/November/2006

Iklan

2 Responses to “Padamu Negeri Kami Digaji”


  1. 1 jelajahdunia November 30, 2006 pukul 6:03 am

    Maaf OOT:

    Anda Pernah mendengar http://www.mediamuslim.info jika belum.. coba klik sekarang.

    Silahkan menyebarluaskan artikel di http://www.mediamuslim.info semoga berkenan menambahkan link http://www.mediamuslim.info di setiap Blogs dan Situs kesayangan anda

    Terima Kasih Banyak

  2. 2 PENERBANGAN GRATIS AL-JENAZAH AIRLINES LAYANAN PENUH 24 JAM Januari 8, 2007 pukul 6:48 am

    salam kenal. kami tunggu saran dan kritik terhadap Maskapai Baru ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 804,679 hits
November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: