Setop Marginalisasi Penyandang Cacat

DI tengah bencana lumpur panas yang tak kunjung usai dan kelangkaan BBM yang bagai ritual tahunan, marilah jeda dari heboh yang memusingkan itu. Kita luangkan waktu untuk serius melihat para penyandang cacat yang masih mengalami marginalisasi dalam kehidupan.

Hari internasional penyandang cacat yang jatuh setiap 3 Desember bisa jadi diperingati di banyak tempat. Termasuk di negeri ini. Tetapi, apakah peringatan itu menjadikan keadaan mereka lebih baik? Apakah negara dan juga masyarakat telah memberi tempat yang semestinya sehingga hak-hak mereka tidak terabaikan?

Realitas yang kita hadapi jelas memperlihatkan para penyandang cacat di Indonesia masih dalam wilayah ‘periferi’. Ia ditempatkan di lingkar luar kehidupan kita. Sebuah tempat yang kurang ramah. Bahkan, sering terlihat ada upaya-upaya untuk membatasi.

Padahal, dari wilayah konstitusi tak kurang suatu apa. Kita punya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Undang-undang ini telah pula dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No 43 Tahun 1998. Aturan itu mengharuskan perusahaan swasta maupun instansi pemerintah mengakomodasi sekurang-kurangnya 1% pekerja kaum cacat.

Tersurat dengan amat jelas dalam undang-undang itu bahwa kaum cacat berhak memperoleh pendidikan di semua strata. Mereka juga berhak memperoleh pekerjaan sesuai dengan pendidikan masing-masing. Mereka berhak memperoleh penghidupan yang layak sebagaimana masyarakat umum.

Tetapi, lagi-lagi, penyakit bangsa ini adalah buruknya implementasi. Kita memiliki banyak aturan bagus, tetapi ia hanya menjadi teks tak bermakna. Belum ada implementasi yang konsisten. Padahal, sering kelahiran sebuah undang-undang memakan banyak biaya dan energi. Tetapi, setelah itu dibiarkan tak ‘berbunyi’.

Lihat saja di berbagai lapangan pekerjaan, tempat-tempat publik. Bahkan, di instansi pemerintah kita juga belum melihat adanya konsistensi implementasi. Para penyandang cacat tidak saja kurang terakomodasi dalam lapangan pekerjaan, tetapi juga tersisihkan dalam kehidupan. Masih banyak tempat publik dan perkantoran tidak menyediakan fasilitas khusus bagi kaum cacat.

Selain sikap negara yang masih setengah hati, sikap masyarakat juga kian menyempurnakan pengabaian kita semua terhadap kaum cacat. Masyarakat masih terbelenggu oleh persepsi bahwa cacat adalah aib. Karena itu, tidak sedikit masyarakat yang berupaya menyembunyikan anggota keluarganya yang mengalami tunadaksa itu.

Kalaupun tidak menyembunyikan, masih amat banyak keluarga yang tidak memberikan prioritas pendidikan terhadap mereka. Dengan pendidikan yang buruk, kaum cacat akan sangat sulit mencapai kemandirian. Dengan pendidikan yang buruk para penyandang tunadaksa tidak akan bisa produktif secara ekonomis. Mereka selamanya akan menjadi beban. Mereka akan tetap dalam pemahaman lama: mengandalkan belas kasihan pihak lain.

Karena itu, hari internasional penyandang cacat kali ini mestinya bukan lagi menjadi sekadar seremoni. Ada yang jauh lebih penting daripada sekadar seremoni, yakni implementasi konstitusi dan seluruh aturan yang berkenaan dengan penyandang cacat. Sebagaimana amanat konstitusi, siapa yang melanggar harus dikenai sanksi.

Media Indonesia, Minggu, 03 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Setop Marginalisasi Penyandang Cacat”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 788,198 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: