Demokrasi untuk Kesejahteraan

Judul di atas tidakkah redundant, berlebihan? Tentu saja, peran dan tujuan demokrasi untuk kesejahteraan rakyat. Kenapa lagi harus dipertanyakan? Karena pemilihan umum pada berbagai tingkatan di negeri kita sejauh ini sudah 200 kali lebih. Sementara itu, dari adegan-adegan di tengah masyarakat akhir-akhir ini saja kita saksikan masyarakat antre minyak tanah berhari-hari. Guru unjuk rasa minta kepastian posisinya.

Lantas apa hubungan pemilu yang sudah 200 kali lebih dengan adegan yang menunjukkan masih amat rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat? Sekadar ingin mengingatkan kita, peran dan tujuan demokrasi adalah kesejahteraan rakyat. Cermati Pembukaan UUD 1945, pahami dasar dan pandangan hidup kemasyarakatan dan kenegaraan Republik kita. Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang beriman, yang berkerakyatan, yang bertujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Bukankah semua itu sudah jelas serta merupakan leitmotiv sejak masa pergerakan, perjuangan, serta penyelenggaraan Republik kita yang merdeka? Karena kita belum juga mau terperanjat dan bangkit bersama, ketika Indonesia semakin tertinggal oleh negara-negara tetangga seperti Malaysia, China, India, dan kini Vietnam. Di sela pemilu yang begitu banyak masih saja banyak warga antre kebutuhan pokok dan belum juga kita bangkit dari kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan.

Sekali lagi, sebagai sikap dasar, kerangka acuan, serta faham kenegaraan, kita mendahului zaman. Sejak semula demokrasi kait-mengait dan berinteraksi antara hak sipil dan hak politik dengan hak sosial, ekonomi, serta budaya. Barulah kemudian lewat covenant, kesepakatan internasional, PBB menegaskan kesatuan serta berinteraksinya lima faktor dasar itu: hak sipil, hak politik, serta hak sosial, ekonomi, dan budaya. Kecuali ada hak-hak dasar, sekaligus ada kebutuhan-kebutuhan dasar, dan dengan cara itu ditegaskan hubungan antara demokrasi dan perbaikan sosial, ekonomi, serta budaya setiap warga dan setiap bangsa. Kecuali oleh kebebasan parlemen berteriak dan berpendapat serta adegan-adegan masyarakat antre kebutuhan pokok, hal itu kita ingatkan karena pengalaman menunjukkan, kita cenderung bergerak dari ekstrem yang satu ke yang lain. Pernah kita alami terjadinya ekses dan salah guna ketika kebutuhan dasar lebih didahulukan daripada hak sipil dan politik.

Kita ingin ikut mengingatkan, agar kini kita tidak jauh ke kecenderungan ekstrem yang lain, yakni ke demokrasi dan hak sipil serta melalaikan atau bahkan melepaskan dari kaitannya akan hak dan kebutuhan dasar dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya. Sekaligus kita pun bertanya diri, bagaimana hubungan kerja antarberbagai lembaga negara, seperti eksekutif, legislatif, yudikatif. Bagaimana pula hubungan kerja serta kewajiban antara berbagai organisasi kemasyarakatan dalam masyarakat madani serta pelaku ekonomi pasar sosial, yakni pelaku bisnis. Kiranya diperlukan saling pengertian, interaksi, saling mengingatkan, dan akhirnya mempunyai komitmen bersama secepat-cepatnya mewujudkan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan. Adakah pemahaman, kesepakatan, serta komitmen bersama itu?

Kompas, 04 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Demokrasi untuk Kesejahteraan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,663 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: