Hapus hambatan kultural reformasi TNI

http://solopos.co.id/index2.asp?kodehalaman=h26#

Eksekutif dan legislatif beberapa pekan lalu bersitegang. Gara-garanya, perbedaan dalam menyikapi materi RUU Peradilan Militer.
Adalah Pansus RUU Peradilan Militer DPR yang tidak bisa menyelesaikan pembahasan bareng karena menemui jalan buntu (deadlock). Deadlock itu terjadi antara kubu pemerintah dan kubu DPR, terutama menyangkut penyidangan anggota TNI yang melakukan tindak pidana umum. Jika anggota TNI melakukan tindak pidana militer, tentu jamak diadili di pengadilan militer. Namun jika anggota TNI melakukan tindak pidana umum, yang tidak terkait dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota TNI, maka kasusnya akan masuk ke pengadilan militer atau umum, itu yang jadi perdebatan.
DPR yang diwakili oleh Pansus mengacu pada Pasal 65 jo Pasal 74 UU No 34/2004 tentang Tentara Nasional Indonesia yang menyatakan bahwa prajurit TNI tunduk pada kekuasaan peradilan militer dalam hal pelanggaran hukum militer dan tunduk pada peradilan umum dalam hal pelanggaran hukum pidana umum. Namun Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dalam rapat dengan DPR, November lalu, menyatakan bahwa hal itu terlalu dipaksakan. Hal inilah yang memicu perseteruan dua lembaga ini.
Sampai-sampai, Ketua DPR Agung Laksono mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mengingatkan keseriusan eksekutif untuk membahas RUU Peradilan Militer. Sampai di situ, persoalan belum selesai. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Yusril Ihza Mahendra malah mengeluarkan pernyataan bahwa surat-menyurat antara Ketua DPR-Presiden adalah hal aneh, tidak dikenal dalam dunia ketatanegaraan kita.
Namun kasus itu akhirnya cair setelah Presiden SBY melalui Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin menyatakan persetujuannya bahwa anggota TNI yang melakukan tindak pidana umum, diproses hukum melalui pengadilan umum.
Apa yang dicapai dalam pembahasan RUU Peradilan Militer ini merupakan kemajuan yang kita inginkan. Hal tersebut merupakan bagian dari reformasi TNI yang dicanangkan setelah gerakan reformasi bergulir.
Sejak angin demokratisasi bergulir seusai Orde Baru jatuh, reformasi terus bergulir, dari mulai pencabutan Dwifungsi TNI, hingga penataan bisnis TNI dilakukan. Kini, target reformasi adalah penyusunan RUU tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer.
Selama ini, anggota militer yang melakukan tindak pidana baik pidana umum maupun militer, akan menjalani sidang di pengadilan militer. Dengan perubahan ini, maka anggota TNI yang membunuh orang, misalnya, akan menjalani sidang di pengadilan umum. Cuma masalahnya adalah hal-hal teknis. Menteri Pertahanan menyatakan, sebelum ada perangkat kerja untuk mendukung ke arah sana, anggota TNI yang menjadi terdakwa akan diadili di pengadilan militer namun dengan pelibatan jaksa dan hakim sipil. ”Ya karena dalam perangkat pelaksanaannya belum ada hukum acara yang memungkinkan seorang prajurit disidangkan di pengadilan umum,” ujar Juwono, sebagaimana diberitakan sebelumnya (SOLOPOS, 29/11).
Kini, kita tinggal menunggu bagaimana proses pembahasan RUU Peradilan Militer ini oleh DPR dan pemerintah. Untuk melakukan reformasi, persoalan terbesar yang harus dihadapi adalah bagaimana mengubah kultur dan membongkar kepentingan-kepentingan kelompok tertentu.
Namun kami yakin, TNI tidak akan “sewot” dengan materi RUU Peradilan Militer bahwa anggota TNI yang melakukan tindak pidana umum akan diproses di pengadilan umum, sama seperti warga sipil lainnya. Kami kira, TNI sangat legawa jika anggotanya yang melakukan tindak pidana umum diproses di pengadilan umum. Reformasi terhadap TNI yang selama ini dilakukan, menunjukkan bahwa TNI sangat terbuka dengan reformasi yang dilakukan sebagai bagian meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia. – 

Iklan

0 Responses to “Hapus hambatan kultural reformasi TNI”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 788,198 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: