Pertaruhan Panjang Komitmen Lapindo

SETELAH lebih dari setengah tahun terkatung-katung dalam ketidakpastian, warga Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, yang menjadi korban luapan lumpur panas dapat bernapas lega. Lapindo memenuhi semua tuntutan korban menyangkut ganti rugi.

Melalui Vice President PT Energi Mega Persada Tbk Yusuf M Martak, perusahaan induk Lapindo, warga mendapat kepastian bahwa tanah dan bangunan akan dibeli sesuai dengan tuntutan mereka, yakni Rp2,5 juta per meter persegi. Sebaliknya sawah mereka akan dibeli dengan harga Rp120 ribu per meter persegi.

Keputusan Lapindo untuk memenuhi semua tuntutan korban luapan lumpur panas telah menjadi sebuah kejutan yang melegakan. Melegakan karena Lapindo tidak saja telah membuat warga Porong terbebas dari kekhawatiran menderita kerugian.

Lapindo telah membuat istilah ‘ganti rugi’ menjadi sebuah term yang tidak lagi tepat. Secara leksikal maupun substansial, kata ‘ganti rugi’ telah bermetamorfosis menjadi ‘ganti untung’ dalam tragedi lumpur panas ini.

Keputusan untuk menunaikan tanggung jawab sosial telah membuat Lapindo benar-benar menjadi contoh yang sangat jarang dilakukan sebuah entitas bisnis bernama perusahaan. Di negeri ini, kita lebih sering menyaksikan sepak terjang perusahaan yang jauh lebih mengedepankan semangat meraih keuntungan daripada kepedulian sosial.

Komitmen Lapindo untuk menunaikan tanggung jawab sosial telah menjungkirbalikkan persepsi semacam itu. Sampai pada tahap ini, dan untuk komitmen seperti itu, Lapindo patut menerima acungan jempol.

Kita tahu bahwa ‘ganti untung’ itu belum diberikan. Ada kurun waktu selama dua tahun untuk mewujudkan komitmen itu menjadi kenyataan. Siapa bisa menjamin semua komitmen itu akan terwujud di lapangan?

Dan akankah ‘ganti untung’ itu benar-benar dirasakan seluruh warga yang berhak menerima?

Karena itu, menjadi kewajiban publik, terutama pemerintah, untuk mengawasi implementasi komitmen itu. Jangan sampai niat baik Lapindo berhenti sebatas kata. Jangan pula contoh terpuji ini tidak tuntas pelaksanaannya sehingga justru membuahkan tragedi lain dari kisah bencana lumpur panas ini.

Kita harus mendukung langkah Lapindo untuk menunaikan tanggung jawab sosialnya. Dukungan itu dapat berupa pengawasan dan dorongan agar upaya itu dilaksanakan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya.

Pemerintah dan DPR juga harus ikut mendorong. Caranya harus dapat dipastikan agar tanggung jawab sosial Lapindo benar-benar dibiayai sepenuhnya oleh Lapindo. Bukan dengan uang negara, berapa pun jumlahnya dan apa pun bentuknya.

Itu berarti pemerintah dan DPR harus disiplin dalam mengelola anggaran negara yang terkait dengan bencana lumpur panas di Sidoarjo. Jangan sampai tanggung jawab Lapindo berubah menjadi tanggung jawab bangsa dan negara, yang berarti tanggung jawab rakyat.

Sejauh ini, memang, Lapindo memperlihatkan ketangguhan menanggung seluruh akibat lumpur panas melalui kantong sendiri. Komitmen keluarga Bakrie yang mengatakan tidak akan lari dari tanggung jawab sungguh-sungguh diuji dalam kasus Lapindo. Kesediaan memenuhi seluruh tuntutan korban adalah babak baru dalam ujian bagi tanggung jawab perusahaan milik keluarga Bakrie ini.

Media Indonesia, Rabu, 06 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Pertaruhan Panjang Komitmen Lapindo”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 797,243 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: