Jangan Lupa Ekonomi Aceh

Saat meluncurkan sari pidatonya yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, Wapres Jusuf Kalla menjelaskan logikanya dalam penyelesaian konflik Aceh. Menurut Wapres, penggunaan logika dalam penyelesaian setiap persoalan sangat penting agar solusi yang ditawarkan tidak keliru. Dalam kasus Aceh, misalnya, sangat salah apabila penyelesaian konflik dilakukan dengan memberikan UU Syariah, sebab yang dipersoalkan masyarakat Aceh bukanlah masalah itu, tetapi lebih persoalan politik dan ekonomi.

Terbukti ketika pendekatan politik dan tawaran ekonomi yang diberikan, masalah Aceh bisa terselesaikan. Bahkan, tahapan politiknya kemarin memasuki babak baru ketika putra-putra terbaik Aceh, baik yang dulu bersama Republik Indonesia maupun yang mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka, sama-sama bersaing untuk menduduki jabatan eksekutif di daerah itu, mulai dari gubernur hingga bupati dan wali kota.

Setelah penentuan suara ditetapkan, tentunya tinggal kita tunggu hasilnya. Sejauh ini nyaris tidak ada masalah besar yang dihadapi, baik dalam masa kampanye maupun pemungutan suara. Insiden-insiden kecil yang terjadi mampu ditangani dengan kedewasaan.

Itulah esensi dari demokrasi. Semua itu akhirnya berpatokan kepada hukum. Berpatokan kepada aturan main dan kesepakatan yang kita buat bersama. Bukan sekadar bebas untuk melakukan apa saja sehingga akhirnya berlawanan dengan demokrasi itu sendiri.

Namun, kita ingin ingatkan bahwa itu baru satu soal. Soal lain yang tidak kalah penting dan harus menjadi perhatian bersama, baik gubernur maupun 19 kepala daerah tingkat II yang terpilih nanti, adalah bagaimana bersama pemerintah pusat membangun ekonomi.

Berulang kali kita sampaikan, demokrasi jangan sekadar hak sipil dan politik. Yang tidak kalah penting harus diperhatikan adalah hak sosial, ekonomi, dan budaya. Demokrasi tidak akan banyak artinya kalau tidak membuat masyarakat tercukupi kebutuhan dasarnya.

Terutama ekonomi menjadi perhatian kita bersama karena kita sedang dihadapkan kepada angka pengangguran dan kemiskinan yang begitu tinggi. Laporan terakhir Bank Dunia pantas untuk menyentakkan kesadaran kita bersama bahwa jumlah orang miskin yang ada di negeri kita lebih dari 108 juta orang.

Untuk Aceh, masalah ini menjadi lebih krusial karena bisa memancing munculnya kembali sikap permusuhan. Kemiskinan yang tidak bisa dientaskan akan mudah membuat orang lalu berpikir pendek lagi.

Pengalaman banyak negara menunjukkan hal itu. Seperti di Filipina, konflik Moro sempat diselesaikan melalui jalur politik. Namun, ketika ekonominya kemudian tidak kunjung membaik, dan pemimpin pun cenderung hanya memikirkan diri sendiri, yang terjadi adalah munculnya konflik baru.

Peringatan yang disampaikan Wapres Jusuf Kalla menjadi sangat relevan. Bahwa setelah penyelesaian politik, yang tidak kalah berat harus kita tangani adalah masalah ekonomi. Dan ini tanggung jawab pula dari pemerintah pusat untuk mendorongnya.

Kompas, Selasa, 12 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Jangan Lupa Ekonomi Aceh”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,980 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: