Pembuktian dari Aceh

PEMILIHAN umum di Aceh yang berlangsung kemarin terjadi dalam suasana damai. Kekacauan yang dikhawatirkan terjadi, tidak terwujud. Rakyat Aceh yang selama lebih dari 30 tahun dibelenggu konflik berdarah, membuktikan bahwa mereka bisa berdamai dan menjaga ketenteraman.

Pemilu di Aceh yang dilakukan serentak untuk mendapatkan gubernur dan 21 bupati/wali kota adalah yang pertama kali terjadi di Indonesia. Dua pemilu di era reformasi yang disebut-sebut sebagai pesta demokrasi paling jujur dan transparan, kalah bobotnya bila dibandingkan dengan pemilu di Aceh.

Kalah karena belum pernah ada pemilu di satu provinsi pun di Indonesia selama ini yang dilakukan sekaligus untuk kursi gubernur dan seluruh bupati. Di Aceh, ternyata bisa. Bila secara nasional tidak ada calon independen, di Aceh boleh dan bisa. Di tempat lain tidak ada partai lokal, di Aceh boleh, dan juga bisa.

Mengapa Aceh yang tersandera oleh konflik dan dendam begitu lama bisa melaksanakan pemilu yang bebas secara damai tanpa satu nyawa pun melayang? Ternyata, itu disebabkan karena antara negara dan rakyat telah terjadi komitmen tentang peran dan ruang.

Ketika negara memberikan rakyatnya ruang kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri, yang dalam praktik kenegaraan disebut dengan otonomi, damai tumbuh. Ketika negara dan rakyatnya terikat dalam komitmen saling percaya, damai bersemi. Dan manakala negara ada kejujuran dan penyelenggaraan negara, damai datang.

Tesis ini sekaligus membuka jalan bagi jawaban atas pertanyaan, mengapa Aceh dulu berkubang dalam kolam darah dan konflik lebih dari tiga dasawarsa. Itu terjadi karena negara melihat wilayah dan warganya melulu dari kacamata politik. Negara membalas peluru dengan peluru tanpa mau bertanya mengapa rakyat menembak. Ketika rakyat Aceh angkat senjata, negara pun angkat senjata. Tatkala rakyat Aceh menembak, negara juga menembak.

Jadi ketika negara merampas ruang dialog untuk dijadikan monolog, solusi tertutup. Ketika negara lebih mementingkan hasil daripada proses, interaksi mandek.

Pilkada yang aman dan tenteram di seluruh Aceh kemarin memperlihatkan kebenaran bahwa negara dan rakyat memiliki wilayah otonomi yang harus dihargai. Ketika negara terlalu merampas otonomi rakyatnya, konflik terjadi. Ketika rakyat terlalu merebut otonomi negara, anarkisme merebak.

Demokrasi, yang salah satu parameternya adalah pemilihan umum, adalah paham yang bisa menjaga proporsionalitas antara otonomi warga dan otonomi negara. Karena itu, pemilu Aceh kemarin dengan berbagai keistimewaan yang diberikan negara adalah komitmen sekaligus ujian bagi kehendak damai itu.

Rakyat Aceh diuji untuk membuktikan bahwa ketika otonominya sebagai warga diberi seluas-luasnya, tidak ada lagi alasan untuk berkubang darah dan bermandi konflik. Ini juga membuktikan sejauh mana Aceh teguh mempertahankan komitmen untuk menjadi Indonesia dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Negara juga diuji untuk sebisa mungkin menghindari perang dengan warganya, apa pun alasannya. Dan pemilu yang dilaksanakan di Aceh kemarin membuktikan kedua pihak, negara dan Aceh masih memegang teguh keinginan untuk berdamai, keinginan berdemokrasi. Ini awal yang baik.

Media Indonesia, Selasa, 12 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Pembuktian dari Aceh”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,980 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: