Harga Beras yang tidak Terkendali

HARGA beras di negeri ini ibarat layang-layang putus di udara tinggi. Ia membubung tanpa ada yang bisa mengendalikan. Karena tak terkendali, kenaikan harga itu sesuka-sukanya.

Di sejumlah daerah, harga beras naik hingga Rp8.000 per kg dari harga yang ditetapkan pemerintah yakni Rp3.550. Yang mengherankan, negara tak berdaya mengatasi harga beras yang naik gila-gilaan itu. Padahal, kenaikan sudah berlangsung berhari-hari dan masyarakat hampir putus asa menghadapinya.

Selain mahal, di beberapa daerah stok beras juga mulai menipis. Bagi yang punya uang, aksi borong pun tak bisa dihindari. Aksi borong seperti ini jelas membuat keadaan kian kacau.

Dalam menghadapi keadaan seperti itu, seperti biasa, pemerintah mengambil jalan normatif, yakni menambah stok dan melakukan operasi pasar. Tetapi, rencana itu secara psikologis juga belum mampu menurunkan harga beras. Harga terus saja melambung!

Rencana operasi pasar tidak selalu diminati daerah karena alasan birokrasi yang panjang. Syarat operasi pasar, daerah terlebih dahulu harus membentuk tim pemantau lapangan. Setelah itu gubernur mengajukan kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian. Rantai perizinan seperti ini bisa makan waktu berhari-hari.

Operasi pasar tidaklah buruk. Sepanjang dilakukan dengan cepat dan bisa menjangkau seluruh daerah yang dilanda krisis beras. Tetapi, harus dipahami ini cara pemadam kebakaran, penyelesaian masalah jangka pendek. Bahkan amat sesaat.

Sementara itu, persoalan beras adalah urusan sepanjang usia manusia Indonesia. Tetapi, yang mengherankan, setelah reformasi pemerintahan demi pemerintahan tidak juga menemukan solusi jangka panjang.

Departemen Perdagangan selalu gagal menstabilkan harga dan Departemen Pertanian gagal mengurus produksi (beras). Artinya, secara umum pemerintah gagal mengurus masalah perberasan. Bagi petani lebih menyakitkan lagi, sebab ketika musim panen tiba, harga beras justru jatuh. Padahal, musim panen inilah segala pengharapan petani digantungkan.

Sementara itu peran Badan Urusan Logistik (Bulog) setelah menjadi Perum sejak 2003, ia juga menjadi sulit bergerak. Ia diberi dua tugas, mencari untung, tetapi juga harus diselaraskan dengan kegiatan publik.

Tugas publik itu antara lain menstabilkan pasar jika harga kebutuhan pokok naik tinggi dan juga jika turun terlalu rendah di tingkat petani. Operasi pasar adalah salah satu cara untuk menstabilkan harga, tetapi sifatnya hanya melaksanakan permintaan pemerintah (Departemen Perdagangan). Bulog juga punya tugas menyalurkan beras untuk orang miskin.

Harus dipahami beras sebagai makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia bersifat multidimensi. Ia punya sensitivitas yang amat tinggi. Bank Dunia bahkan mengaitkan kemiskinan dengan kenaikan harga beras.

Karena itu, pemerintah mestinya melihat kenaikan harga beras bukan persoalan enteng yang bisa diatasi dengan operasi pasar. Ia sebuah sistem ekonomi yang bertali-temali antara perdagangan, pertanian, dan pola pendistribusian yang merata.

Di atas semua itu, revitalisasi pertanian yang dicanangkan beberapa waktu lalu mestinya jangan menjadi omong kosong. Ia harus menjadi kebijakan yang lebih konkret, bisa dilaksanakan oleh seluruh pimpinan baik di pusat maupun daerah.****

Media Indonesia, Rabu, 13 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Harga Beras yang tidak Terkendali”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,818 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: