Jangan Geser Tanggung Jawab Lapindo

Enam bulan lebih sudah semburan lumpur ladang gas Lapindo di Porong berlangsung. Tak ada yang bisa memastikan kapan bencana ini bisa berakhir. Bahkan ada ahli biologi menduga, sampai bertahun-tahun mendatang lumpur masih akan menyembur. Inilah bencana yang dampaknya tak terbayangkan sebelumnya. Memang tidak sedahsyat tsunami atau gempa bumi. Tapi luapan lumpur yang merendam lebih dari 2.000 rumah dan 366 hektare lahan pasti bukan perkara kecil.
Dengan skala bencana seperti itu, cukup melegakan ketika pihak PT Lapindo memastikan mereka tak akan menghindar dari tanggung jawab. Perusahaan yang terafiliasi dengan Kelompok Bakrie, yang didirikan Aburizal Bakrie, kini menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, ini bahkan memenuhi semua tuntutan ganti rugi dari warga yang harta bendanya terendam. Sebuah sikap yang patut dipuji jika komitmen ini benar-benar dilaksanakan.
Justru karena itu, memang terasa tidak pas bila Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah akhir pekan lalu menyatakan bahwa pemerintah siap membayar ganti rugi bila Lapindo tak sanggup lagi. Tidak pas, karena sampai sekarang, Lapindo masih menyatakan kesanggupannya bertanggung jawab. Mereka bahkan meyakinkan publik bahwa keuangan mereka masih cukup untuk memenuhi semua kewajiban.
Proses pemenuhan kewajiban itu kini sedang berjalan. Masyarakat korban semburan lumpur sudah mulai tenang, meski terpenuhinya tuntutan ganti rugi sebesar apa pun tetap tak akan bisa membayar kerugian nonfisik yang telah mereka alami. Dengan munculnya pernyataan bahwa pemerintah siap menanggung ganti rugi, bukan mustahil, muncul spekulasi bahwa Lapindo tak siap bertanggung jawab. Spekulasi seperti ini pasti tak menguntungkan, bukan hanya bagi Lapindo, melainkan juga bagi calon penerima ganti rugi.
Kalaupun benar Lapindo tidak sanggup, tidaklah tepat bila pemerintah yang mengambil alih tanggung jawab. Keputusan Presiden Nomor 13 tentang Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur yang terbit pada September lalu menyatakan bahwa semua biaya ganti rugi, termasuk biaya rehabilitasi, ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan itu. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga sudah menegaskan bahwa Lapindo harus menyelesaikan masalah ini sampai tuntas dan tak serupiah pun uang negara boleh digunakan.
Pemerintah memang wajib mengeluarkan anggaran bila terjadi bencana yang sepenuhnya force majeure, akibat faktor alam yang tak terhindarkan. Tsunami, banjir, dan gempa bumi adalah jenis bencana ini. Dan untuk bencana jenis ini, pemerintah sudah mencadangkan anggaran Rp 500-600 miliar. Tapi apakah tepat bila anggaran itu kemudian dicairkan untuk menanggulangi semburan lumpur yang diduga terjadi bukan akibat faktor alam murni? Jawabannya jelas: tidak.

Koran Tempo, Rabu, 13 Desember 2006

Iklan

1 Response to “Jangan Geser Tanggung Jawab Lapindo”


  1. 1 Fadholi Desember 19, 2006 pukul 4:48 pm

    tidak layak mensos berkata begitu, pada hal lapindo masih komitment dengan janjinya bahwa lapindo bertanggung jawab atas segala kerugian akibat lumpur panas.

    dan kami tidak setuju bila tanggung jawab lapindo beralih ke pemerintah, untuk itu ucapan mensos perslu di klarifikasi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 804,627 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: