Memproduksi dan Mengelola Pangan

Dua hal itu menuntut cara penanganan yang berbeda. Kita bukan hanya harus mampu memproduksi, tetapi yang tak kalah penting adalah mengelola hasil produksi. Dalam kedua hal itu kita menghadapi masalah. Rendahnya produktivitas pertanian membuat kita sering kekurangan persediaan pangan. Apalagi ditambah dengan luasan lahan yang semakin berkurang serta yang sekarang ini sedang terjadi, yakni pergeseran musim tanam karena musim hujan yang terlambat datang.

Revitalisasi pertanian yang sudah dicanangkan berulang kali sekadar hanya sebagai sebuah seremoni. Upaya untuk membenahi semua yang dibutuhkan bagi kebangkitan sektor pertanian tidak kunjung terjadi.

Seperti diingatkan ahli ekonomi pertanian Peter Timmer, sepanjang tidak ada inovasi baru, tidak ada teknologi baru yang diintroduksikan, jangan heran apabila produktivitas tidak pernah akan meningkat. Tanpa ada peningkatan produktivitas, kehidupan para petani tidak pernah akan bisa diperbaiki.

Apalagi kalau kemudian kita lihat cara pengelolaan produk hasil pertanian. Mulai dari tingkat petani hingga lembaga yang lebih tinggi, penanganan begitu buruk. Tingkat kehilangan pascapanen, misalnya, angka bisa mencapai 20 persen dan itu tidak pernah diperbaiki karena tidak ada inovasi yang dicoba diterapkan.

Perum Bulog yang seharusnya berperan sebagai penyangga tidak lagi menjalankan perannya seperti itu. Lembaga itu tidak ubahnya seperti perusahaan dagang, yang sekadar berpikir untung-rugi bagi perusahaannya, bukan untung-rugi bagi kehidupan bangsa ini.

Keadaan menjadi bertambah ruwet ketika pemerintah pun hanya berorientasi kepada kebijakan harga. Demi menjaga tingkat inflasi, demi menjaga tidak bertambahnya jumlah orang miskin, yang dipikirkan bagaimana membuat harga pangan murah, sementara bagaimana biaya produksinya tidak pernah ikut dipikirkan.

Jangan heran apabila akhirnya petanilah yang terkena getahnya. Padahal, lebih dari 60 persen bangsa ini masih hidup dari sektor pertanian. Ketika kehidupannya terus tertekan, merekalah yang akhirnya menjadi kelompok masyarakat miskin itu.

Peristiwa yang terjadi hari-hari ini, dengan harga beras yang melambung begitu tinggi, merupakan cerminan dari buruknya manajemen pangan kita. Siklus ini tidak akan pernah bisa diputus apabila kita hanya melihat persoalan secara sepotong-sepotong.

Distorsi ini bukan hanya melemahkan keberhasilan pemerintah untuk mengendalikan inflasi tahun ini yang bisa ditekan hingga enam persen, tetapi bisa memicu munculnya persoalan baru. Padahal, kita sedang berharap tahun depan menjadi awal kebangkitan kembali perekonomian negara ini.

Karena itu, saatnya bagi kita untuk bergegas membenahi diri. Secara serius kita lihat kelemahan yang masih ada dalam aspek produksi. Berusaha keras untuk membenahinya agar produktivitas bisa segera meningkat. Setelah itu memikirkan sistem pengelolaan pangan yang lebih efektif agar tidak setiap kali hanya menimbulkan kesulitan bagi rakyat banyak.

Kompas, Kamis, 14 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Memproduksi dan Mengelola Pangan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,556 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: