Stop Tayangan Kekerasan dan Seks di Televisi

Berita kematian seorang bocah karena di “smack down” kawannya sendiri telah
menghebohkan masyarakat kita. Kemudian hal ini dikaitkan dengan sejumlah tayangan kekerasan yang memang akhir-akhir ini marak di beberapa stasiun televisi. Bahkan pemberitaan soal implikasi dari tayangan yang berbagai kekerasan di televisi semakin gencar dilakukan.

Sesungguhnya, kasus ini bukanlah tunggal. Bahkan, tercatat ada banyak lagi kasus-kasus yang hampir sama, terjadi di beberapa daerah di tanah air. Setiap hari kita bisa menyaksikan lewat pemberitaan media massa, khususnya media cetak, bahwa kasus-kasus serupa, sudah banyak terjadi. Lantas kita patut bertanya, bagaimanakah sesungguhnya kontribusi dari dunia pertelevisian kita dalam membangun generasi bangsa ini, khususnya para pelajar? Mendidik atau menghancurkan!

Perihal tayangan kekerasan di televisi, sesungguhnya sudah lama diributkan. Berbagai masukan dari sejumlah elemen masyarakat sudah banyak dilayangkan. Tetapi, oleh pihak pertelevisian, tidak pernah digubris sama sekali. Dengan demikian, jadilah tayangan yang tak pantas ditonton anak-anak, banyak menghiasi layar televisi kita. Maka, tanpa bersusah payah, kita dengan gamblang dapat menemukan dampaknya. Misalnya, kekerasan terjadi di mana-mana.

Kemudian ada satu jenis tontonan lagi yang belakangan ini marak terjadi di sejumlah stasiun televisi; yaitu tayangan yang berbau seksualitas. Bahkan tayangan tersebut terkesan sangat vulgar dan ditayangkan pada jam-jam yang belum bisa disebut larut malam. Maka dengan demikian, anak-anak dengan muda bisa melihat adegan-adegan seronok di televisi. Belum lagi ditambah dengan maraknya gambar-gambar porno yang terpampang di sejumlah media.

Tayangan dan pemberitaan seksualitas makin marak. Yayasan Kita dan Buah Hati menyebut bahwa 80 persen anak Indonesia terpapar pornografi. Bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi di masa yang akan datang, jika 80 persen anak-anak kita telah terjangkit “penyakit” pornografi. Maka dengan demikian, kita tidak terlalu terkejut dengan beredarnya rekaman video mesum salah seorang anggota DPR dengan artis dangdut, yang heboh awal bulan ini.

Khususnya kepada anak, tentu tayangan yang layak dinikmati haruslah sifatnya membimbing. Bukan yang berbau porno dan kekerasan. Jika pengawasan dan bimbingan dari orang tua dapat berlangsung dengan efektif, tentu dampaknya tidak terlalu besar. Tetapi itu pun harus tetap diwaspadai. Namun, jika waktu orang tua bersama sang anak, dibarengi lagi dengan komunikasi yang tidak lancar, maka si anak akan dengan cepat untuk mengetahui apa sebenarnya di balik tayangan berbau seksualitas tersebut. Dan kemudian, cepat atau lambat, si anak akan semakin tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Bisa ditebak apa yang terjadi kemudian.

Banyaknya kejadian-kejadian hamil di luar nikah bagi kalangan pelajar, kemudian pelecehan seksual yang melibatkan siswa SD, adalah bukti bahwa tindakan-tindakan yang berkaitan dengan seksualitas sudah merupakan hal yang mengancam moral anak-anak. Seksualitas bukanlah hal yang baru. Apalagi didukung dengan kemajuan teknologi komunikasi, khususnya handphone, yang salah digunakan. Gambar-gambar porno gampang direkam.

Kita berharap bahwa pihak pengelola stasiun televisi kita dapat menghentikan tayangan yang mengandung unsur kekerasan dan seksualitas. Sebab tak dapat dipungkiri, sudah banyak efek yang ditimbulkannya. Pemerintah harus cepat mengambil tindakan, jika pihak pengelola stasiun televisi tidak segera merubah tayangannya. Kita mengharapkan agar tayangan kekerasan dan seks dapat dihentikan. Sebab, jika tidak, maka dampak-dampak yang jauh lebih dahsyat lagi akan banyak terjadi. Dengan demikian, kehancuran generasi bangsa ini, tinggal menunggu waktu. (*)

Sinar Indonesia Baru, Medan, Dec 17, 2006

Iklan

9 Responses to “Stop Tayangan Kekerasan dan Seks di Televisi”


  1. 1 sahrudin Desember 24, 2006 pukul 6:48 am

    mestinya orangtua juga lebih berperan.

  2. 2 Akhmad Kusairi Januari 7, 2007 pukul 7:10 am

    Adegan Kekerasan dan Seks
    dalam Film Anak-anak

    Oleh: Akhmad Kusairi*

    Beberapa waktu lalu Indonesia disibukkan oleh tayangan Smack Down, yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta. Tapi setelah mengalami polemik yang cukup rumit, akhirnya pihak pengelola acara tersebut membatalkan kontrak yang sedianya sampai tahun dua ribu delapan. Selain tayangan di atas, beberapa waktu yang lalu juga juga marak tayangan rekaman skandal seks YZ-ME di televisi.
    Menurut banyak kalangan tayangan-tayangan ini akan berakibat negatif bagi para pemirsa, terkhusus anak-anak. Hal ini disebabkan, anak-anak cenderung selalu meniru apa yang dilihat dan didengar. Tapi itu adalah sebagian contoh kecil saja yang mengindikasikan bahwa acara-acara yang selalu menemani pemirsa sehari-sehari tak luput dari adegan-adegan seks dan kekerasan.
    Melihat sebagian besar acara-acara yang ada di televisi sekarang, banyak orang yang mengerutkan dahi, sebab semakin fulgarnya adegan-adegan yang ada di televisi. Satu-satunya harapan orangtua dalam hal ini adalah film anak-anak.
    Terdapat begitu banyak film anak-anak, dari yang berupa kartun klasik film animasi hingga sinetron baik dengan cerita tentang anak atau yang melibatkan anak-anak sebagai artisnya. Dari berbagai variasi tadi film kartunlah yang paling menjadi menjadi perhatian.
    Menurut penelitian yang dilakukan oleh KIDIA (Kritis Media untuk Anak) pada Februari tahun 2005 lalu melaporkan bahwa 84 persen dari anak Indonesia menjadikan film kartun sebagai tontonan sehari-hari.
    Banyak orang menganggap bahwa film anak terbebas dari tayangan yang berbau seks dan kekerasan. permasalahan tadi.. Padahal dalam realitanya tak semua film anak, terutama kartun serta animasi sesuai untuk anak-anak. Semisal Sin Chan dan Spiderman (versi kartunnya), kalau dicermati secara seksama bukanlah film yang diperuntukkan bagi anak-anak, sebab sarat dengan problem orang dewasa sebagai bahan membuat cerita. Film-film tadi banyak sekali berisi adegan dialog yang terkait erat dengan seks atau hubungan romantis antara laki-laki dan perempuan yang belum waktunya dilihat oleh anak-anak.
    Anggapan lain mengatakan bahwa film anak tentunya cocok yang sepi dari dari segala macam tindak negatif. Memang seharusnya film untuk anak harus relevan dengan kondisi pertumbuhan anak, khususnya dari sisi pertumbuhan psikologis serta tingkah laku anak. Ini berarti film anak sebaiknya tidak mengandung adegan yang berlawanan dengan nilai edukasi (pendidikan). Adegan kekerasan, seks, seharusnya dijsingkirkan jauh-jauh. Walaupun ada, hanya sebatas untuk pengembangan cerita, bukan daya tarik utama film tersebut.
    Tapi dalam realitanya, justru adegan-adegan kekerasan dan seks banyak sekali terdapat dalam tayangan anak-anak, terutama dalam film-film kartun, entah film kartun buatan Jepang maupun Amerika. Film Tom & Jerry contohnya. Tak bisa diingkari penuh dengan imajinasi, banyak sekali ide-ide cerdas serta mengagumkan yang dimunculkan, baik oleh Jerry, yang suka usil, dan (Tom yang kerap berprilaku jahat), tapi demi mencapai tujuannya Tom dan Jerry tak jarang melakukan tindakan subversiv, seperti memukul, membanmting, membentak, mencelakakan, bahkan berupaya membunuh seperti biasanya yang ada dalam dewasa.
    Begitu halnya dengan film kartun, SpongeBob yang menurut kajian KIDIA termasuk kategori film kartun berbahaya. Figur-figur di film kartun ini memang memiliki nilai-nilai pekawanan yang solid, tapi mereka juga sering melakukaan praktik kekerasan dan percakapan yang tak enak didengar telinga, teutama telinga anak-anak.
    Dengan kemampuan nalarnya yang terbatas dalam menyerap serta mencerna makna yang ditayangkan oleh televisi, bukan suatu yang mustahil apa yang dilakukan Tom dan Jerry serta figur dalam SpongeBob dianggap perbuatan yang sah-sah saja oleh anak-anak.
    Tak menutup kemungkinan, karena dilakukan dengan lucu maka anak justru tertawa saat figur dalam film kartun tadi mempraktikkan tindak kekerasan, baik secara fisik maupun psikis (mengejek, menghardik, dll). Ini artinya anak juga akan menganggap wajar (bahkan dianggap lucu) saat anak menendang temannya, atau bermusuhan dengan temannya sepanjang seperti yang dicontohkan Tom dan Jerry dalam Tom & Jerry. Bukankah anak-anak adalah peniru ulung, dalam hal ini sesuatu yang ditampilkan oleh film kartun tadi.
    Orangtua pastinya tak menginginkan kondisi seperti di atas tadi menimpa anak-anaknya. Jika setiap waktu anak-anak menonton dengan kualitas mengerikan, dapat dibayangkan seperti apa jeleknya prilaku mereka.
    Sebagai orangtua atau orang yang berperan aktif dalam pertumbuhan mental anak, sangat pantas jika merasa kuatir dengan tayangan-tayangan tadi. Terlebih setelah mengetahui laporan KIDIA pada pertengahan 2005 lalu yang menunjukkan bahwa dari 19 film kartun yang diteliti, hanya 8 yang ‘aman’ untuk dikonsumsi. Tentunya aman di sini juga perlu peran aktif orangtua. Sisanya termasuk dalam kategori hati-hati dan bahaya. Ini berimplikasi, orangtua harus menemani anak-anaknya dalam menyaksikan film, baik berupa film yang ditayangkan televisi maupun berupa VCD maupun DVD. Aktvitas menemani ini, mestinya tak hanya diartikan sebagai orangtua ikut duduk dan menyaksikan acara film yang disaksikan anak-anaknya, duduk dan diam. Maksud menemani di sini, tentu saja orangtua harus bertindak aktif , dalam artian orangtua harus menjelaskan sesuatu yang gamblang dalam pemikiran anak-anak.
    Sebagai akhir, orangtua serta seluruh peminat televisi dianjurkan utnuk menolak acara yang berbau seks dan kekerasan. Kalaupun tak memungkinkan orangtua harus memberikan sebagian waktu untuk menemani anak-anak dalam mengonsumsi acara di televisi. Supaya mereka memproleh makanan acara yang bergizi lagi sehat.
    .

    *Akhmad Kusairi adalah mahasiswa Teologi dan Filsafat Unversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan alumnus PP
    Al-Falah Silo Jember Jawa Timur

    Nama : Ahmad Kusairi TR el-Aksa
    Alamat:Wisma pembebasan PMII Rayon Ushuludin
    UIN Sunan kalijaga JL. Laksda Adisucipto,
    Ambarukmo III/47 Gowok
    Sleman Yogyakarta, 55281
    Email :ahmadkusairi@yahoo.com
    Wewbsite : kusairi.blogspot.com
    No Rek:oo35486997. BNI Cabang Jember
    A.N( Achmad Qusyairi )

  3. 3 yoto Maret 21, 2007 pukul 11:10 am

    Memang akhir-akhir ini tayangan anak khususnya film kartun sangat memperihatinkan. Hal ini dapat kita tinjau baik dari segi kualitas maupun segi kuantitas acara yang ditampilkan. Sebagai contohnya “Spongebob squarepants” yang tak jarang menampilkan adegan Spongebob dan Patrick yang tidak memakai celana, celana dalam, dan baju. Saran saya, tingkatkan peraturan yang mengatur tayangan televisi untuk anak-anak. Terima kasih

  4. 4 jona April 11, 2007 pukul 3:17 pm

    tayangan kekerasan banyak penikmatnya kenapa mesti dihentikan?? negara ini tidak adil hanya gara2 gak boleh ditonton anak2 orang gede jadi korban deh, gak adil banget…!!!
    Tayangan sex??? emang napa?? kan enak. aku malah nunggu kapan ya tivi swasta berani muter filem porno jam jam tertentu, misal jam 3 malam, jadi kita gak perlu rental2 lagi. tv swasta pasti mau deh, ayo dong DPR buat perundang-undangan yg bolehin tayang filem porno dua kali seminggu aja pun bolehlah. Sekali lagi TV2 swasta Nasional pasti seneng banget tuh hehehhe…soale ratingnya pasti naik and udah bisa ditebak bakal banjir iklan cihuy…enak kalee.
    ayo dong..TV tipi sama yg brani duluan??? jangan cuma beraninya nayanygin pantat gedenya inul doang….tunjukin nyalimu…!!! moral??? persetan ma moral. yg penting kan duit duit duit…ya gak???
    tayangan sex and porno itu kan yang larang cuman ISLAM doang? kenapa mesti ditakutin??toh masih 4 agama lagi yg oke-oke aja tuh kayaknya.4 banding 1 gede mana seh??
    masa tV tv keren kayak kalian takut sama ISLAM seh? contoh amerika no, enak apa-apa boleh…hidup kaya raya.apalagi??ayo tayangin pornografi ya?? gimana dg DPR??? hehe pasti setuju deh.

  5. 5 jona April 11, 2007 pukul 3:32 pm

    kelupaan…ayo artis-artis ibukota kayak… sarumpaet, rike diah pitaloka, titik puspa dan artis2 elok lainnya…gimana ne mbak2? tayangan sex disuruh hentikan, padahal kita kan suka pornografi yah?? UU anti pornografi aja bisa mandeg gara-gara aksi para SRIKANDI-SRIKANDI PEMBELA HAK AZAZI MANUSIA UNTUK MEMUASKAN SYAHWAT..ayo…galang lagi artis-artis yg berfikiran moderen, ajak turun ke jalan, bawa spanduk, tulis gede-gede..tambah jam tayang SEX pasti nanti kami akan ikut, oya kalian punya artis paling top di indonesia saat ini filemnya belum tayang aja udah dapet reting tinggi : eva maria, pasti dia mau, gua jamin deh…, ayo…kalian wanita-wanita hebat, RA KArtini lewat sama kalian, ayo bawa kami generasi muda ini ke dunia sex yg penuh kenikmatan…kami kan juga pengen sex bebas kayak amerika…, ayo dong mbak….plissssssssssssssssss….

  6. 6 lyesha April 11, 2007 pukul 8:31 pm

    Keterlaluan sekali untuk orang-orang yang hanya punya pikiran pendek…tidak memikirkan dampak, akibat dari pengaruh TV dengan tayangan2 yang berisi seks dan kekerasan, mau ditaruh dimana nasib bangsa ini? kepingin kayak amerika???? dimana pikiran anda-anda semua….kalo ingin meniru tirulah yang baiknya. kemajuan yang ada…bukan kemuduran dari sebuah negara, malu sekali….!!!punya malu tidak??? bayangkan jika menjadi korban…korban dari orang-orang pidophelia….kasihan sekali bangsa ini jika punya banyak orang-orang yang hanya berpikiran kenikmatan dunia. Nauzubillahimin dzalik.Astaghfirullah

  7. 7 BenCi PeNghiNA April 30, 2007 pukul 7:57 pm

    joNa JOna..
    isLaM iTu Jg agaMa…bKn MasaLaH 4 Lawan saTu..
    taPi aPa KaMu bisa biKin iDonesia iNi jd banGsa Yg Berguna aPabiLa kiTa bikin smua UnsUr” TV dGn Sex?
    jgN meNiru BanGsa Lain..
    KiTa HaRUs biSa LebiH Baik LaGi dR neGaRa” Lain..Bkn MaLah MenghancuRkan Pemuda” isLaM aTau Pun Non isLam hanya uNtuK meNdaPaTkan KenikMataN dUNia sAja..
    aPa Kamu yakin dgn Sex Kamu bs MasUk suRga??
    aPa kaMu YakiN Dgn kekeRasaN Kamu bs MaSuk sUrga??
    Tentu tiDak..
    HaRusNya kaMu saDari Itu Lbih aWaL..kaRna kamu JuGa Telah bebuat dosa hanYa karna kamu berBicara SePeRti Itu..

  8. 8 jona Juli 16, 2007 pukul 3:50 pm

    soriii…aku udah lama ga buka blog ini lagi setelah tulisan ku kemaren yg menggemparkan itu terutama buat mbak iyesha n BneciPenghina. ck..ck..ck..aku kaget, ternyata tulisanku ditanggapin oleh orang lain jg, terutama wanita.
    aku pernah belajar ttg hukum dan ekonomi, jadi sedikit banyak aku ngerti hak dan kewajiban manusia baik sebagai seorang pengusaha (khususnya stasiun TV khususnya lagi TV swasta) maupun sebagai seorang warga negara. aku mengamati indonesia ini sebagai sebuah negara yang lemah, tidak bernyali, dan selalu takut mengambil sebuah keputusan ekstrim. perhatikan, peraturan perundang-undangan indonesia, mana ada yg tegas apalagi tajam, gak ada. kalaupun ada, hanya perundang-undangan yg mendatangkan keuntungan materil bagi kas negara, sebut saja UU pajak, disana jelas sekali dituliskan sampai pada sanksinya. lihat peraturan tentang moral, mana ada dituliskan dengan tegas apalagi sanksinya. ada sih keinginan DPR utk itu (walaupun terlambat) tapi sekalinya mau dibuat langsung dapat serangan dari berbagai pihak, seperti UU anti pornografi yg pada hakikatnya adalah untuk mempertinggi harkat manusia yang berjenis kelamin PEREMPUAN tapi ternyata RUU malah diserang oleh srikandi-srikandi hebat indonesia yg mungkin masih satu keturunan dg RA Kartini. hal itu mengindikasikan perempuan-perempuan indonesia senang sama yg namanya kebebasan dalam berpakaian, yg kalau mau ditarik lagi ke hal yg berikutnya kenapa mereka berpakaian seperti itu (terbuka pada bagian-bagian yg secara moral indonesia dulunya di larang bahkan dianggap hina kalau berbuat demikian) adalah untuk menarik perhatian orang lain (terutama laki-laki). apakah hal yg seperti itu dianggap ‘sehat’? bukankah itu sebuah indikasi bahwa perempuan-perempuan indonesia ingin membuka badannya supaya mendapat perhatian khusus dari laki-laki?masa perempuan berpakaian untuk perempuan, emang tiap hari arisan? Nah..jika sudah terjadi interaksi antara perempuan yg ‘menjual’ keindahan tubuhnya secara eksklusif (kalau tidak mau dibilang murah) dg laki-laki (terutama yg eksekutif dan pejabat) apa yg akan terjadi selanjutnya? ada beberapa alternatif dalam masalah ini. 1. urusan bisnis jadi terbuka atau lancar(dengan catatan ‘ngamar dulu’) 2. terjadinya hubungan sex antara mereka (tentunya dg bayaran tinggi)tanpa iming2 kontrak. menurut anda mana pilihan yg paling tepat?
    kalau sudah begitu adanya, jika perempuan sudah menuntut untuk bisa buka-bukaan, apalagi laki-laki. bukankah ujung2nya itu untuk kebebasan? kalo emang sudah sepakat ayo aja. TV swasta sebagai mesin penghibur bangsa ini pasti setuju banget. mana ada tv swasta indonesia yg memperhatikan moral, bullshit itu semua. mereka menayangkan sesuatu itu kan atas dasar ratting bukan manfaat? contohnya, bulan ramadhan ada sinetron bernuansa Islam, iya memang. tapi itu dilakukan karena menurut prediksi mereka iman umat islam lagi naik jadi disuguhin tontonan religius pasti mendapat sambutan hangat yg selanjutnya manikkan rating acara yg diikuti banjir iklan, ujung2nya duit kan? trus sehabis lebaran dimana sinetron2 itu? dimana kontinuitas mereka kalau memang mau berbicara memperbaiki moral bangsa? belum lagi kalu mau melihat tingkahnya para pemain sinetrom itu, sebut aja seperti anjasmara selesai syuting sinetron ramadhan langsung bertelanjang untuk tuntutan ‘seni’ yg mungkin secara islam sangat diharamkan, kenapa hal itu bisa terjadi? dimana tanggungjawab moralnya. tidakkah terasa dia memanfaatkan islam untuk kepentingan uang belanja keluarganya? apakah hal itu tidak membuat bingung anak-anak? sebentar jadi orang alim, sebentar lagi jadi nudis, bagaimana anda menginterpretasikan hal itu kepada anak anda? kalo bicara tingkah artis perempuan lebih gila lagi. mungkin tidak banyak yg ‘dapet rasa’ atau mengerti tujuan dari tingkah polah mereka seperti itu yg disambut hangat oleh media TV swasta indonesia. apa tujuan mereka mengupload foto-foto telanjang mereka di internet? mencari popularitaskan? mencari job utk main sinetron kan? setelah nama mereka booming karena sering masuk infotaiment TV swasta, nama mereka langsung meroket, untuk selanjutnya dapat ditebak, berlaku hukum pasar “barang tenar rezeki lancar”. lalu mereka membantah di televisi (lebih sering sambil nangis2 untuk membersihkan nama yg pada dasarnya memang tidak bersih), ah itu kan bulshit..omongan sampah semua. dibelakang kamera mereka ketawa besar karena berhasil nipu orang TV atau pemirsa infotainmen. kalau memang kejahatan itu datangnya dari pihak lain (bukan unsur kesengajaan mereka sendiri), kenapa hal seperti itu tidak terjadi pada Desy Ratnasari? bukankah mereka2 yg menjual diri di internet itu bagaikan sampah jika disandingkan dengan desy ratnasari? baik dari segi kwalitas akting maupun kualitas perilaku? seandainya ada paparazi di indonesia, pastilah desy yg diincar duluan, bukannya sampah-sampah itu? ngapain foto sampah, dibawah jembatan juga banyak. dari sudut itu mereka tidak bisa lagi mengelak jika yg mengupload foto2 telanjang or foto2 syur yg kontroversial mereka itu adalah diri mereka sendiri ataupun disuruh kepada orang lain (soalnya artis yg suka tampil ‘enak’ itu rata-rata otak udang semua dan dari kalangan miskin) jadi gatek nggak ngerti ngupload or nyebarin foto di inet. terus terang saya kadang kaget, ini siapa? kok tiba2 dia nangis-nangis di TV sambil bilang itu bukan dia, atau itu ulah temen ato juru fotonya tanpa seizin dirinya.padahal sumpah aku gak kenal siapa orang itu, ujung2nya beberapa minggu kemudian dia udah muncul di salah satu sinetron. dalam hal ini si otak udang bener2 pinter sehingga mampu ngibulin sang TV swasta yg kabarnya berisi orang2 profesional semua, karena menurut saya disini terjadi unbalancing benefit, si otak udang jelas sangat diuntungkan daripada si brilian (TV swasta). tapi itu lah yg sudah dan akan terus terjadi di indonesia selama pemerintah dan DPR takut kepada artis dan pembayar pajak yg termasuk golongan tinggi (TV Swasta). padahal kalo mau dikalkulasikan akibat dari tingkah nakal mereka itu (TV dan artis) sungguh tidak seimbang dg pajak yg mereka bayar utk biaya perbaikan moral bangsa ini.
    udah jelaskan? kenapa mereka itu bisa ada? udah jelaskan kenapa orang-orang kotor itu bisa diterima di satu media massa? pastilah antara keduanya punya kesamaan. dari orang-orang atau badan usaha atau PT atau TV swasta seperti itu apakah masih bisa diharap berbuat kebaikan? apakah dari orang2 sepintar diah pitaloka tapi salah urus itu bisa diharap perbaikan moral? mereka nggak tau moral mbak…agama bagi mereka hanyalah sebuah ritual yg dipakai pada saat perkawinan dan kematian, selebihnya agama adalah siksaan. sehingga kalo ada ketentuan yg mengurangi kenikmatan harus dipangkas abis. tidakkah kalian pernah berpikir demikian?
    bersikap dengan orang-orang sok pinter seperti dyah pitaloka itu lebih baiknya kita suruh aja nerusin perjuangannya melawan kebenaran. setan gak usah didakwahi mbak, percuma.
    kalo dulu dia dan kawan2nya sesama setan berteriak2 di bundaran secara sangat tidak sopan menurut ukuran moral indonesia, kenapa sekarang dia tdk mau memperjuangkan nasib kami para anak muda yg doyan nonton film porno tapi selalu ketakutan wktu rental karena takut jangan2 ntar ditangkap polisi. belum lagi kalo ketahuan orang tua, bisa kacau. tapi kalau UU negara sudah melegalkan (seperti di amerika dan eropa) org tua mau bilang apa??? kita-kita kan bisa berdalih gini..anak-anak lain boleh kok sama mamanya, kan UU udah bolehin kenapa mama malah ngelarang? itu kan baik untuk pendidikan sex bagi remaja biar ntar gak bego bego amat.
    udah ah capek ngomong mulu..mudah2an tulisan aku kali ini dapat menjadi jawaban atas tulisan aku sebelumnya. terakhir aku kasih tau ttg remaja saat ini “DIKASIH DIKIT KAMI GAK PUAS, DIKASIH BANYAK KAMI MAU NAMBAH”.
    Tunggu aja suatu saat nanti kami yg akan menjadi pimpinan negara ini kami akan buat aturan lebih maju dan lebih nikmat daripada saat ini, kami akan membuat ibu2 yg berkoar2 bundaran HI dulu bangga karena nanti kami akan buat aturan setiap anak selesai kuliah sebelum wisuda wajib menyerahkan video hubungan intim masing-masing. tunggu aja.
    mbak diah…salut, and we will make you pride. kamu akan kami buatkan patung nantinya sebagai patung kebebasan sex. gimana oke kan? tenang aja mbak kami pasti akan tepat janji.

  9. 9 welly November 11, 2008 pukul 11:56 am

    sebenernya kekerasan itu tanyangan semacam buser cs itu, walaupun tidak ditayangkan aksinya,tapi ditayangkan korbannya, kalo kartun sih mendingan lebih aman.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,802 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: