Membebaskan Aceh dari Pemantau Asing

ACEH Monitoring Mission (AMM) telah mengakhiri tugasnya selama 15 bulan dengan acungan jempol. AMM dinilai berhasil mengawal perjanjian damai yang ditandatangani di Helsinki hingga terselenggaranya pemilihan kepala daerah di Aceh.

Pilkada itu berlangsung lancar, tertib, dan damai. Sebuah bukti tersendiri yang menunjukkan kemampuan rakyat Aceh melaksanakan demokrasi. Sebuah kapasitas yang hebat, yang bangkit setelah menderita konflik bersenjata puluhan tahun serta didera malapetaka tsunami yang paling tragis dalam sejarah.

Aceh pun menyongsong era baru, yaitu dipimpin gubernur dan wakil gubernur hasil pilihan rakyat. Bahkan, dalam perspektif Indonesia, Aceh menjadi contoh terselenggaranya pemilu dengan tampilnya calon independen. Hal yang mestinya memberi inspirasi untuk juga membuka pintu bagi calon independen pada pilkada di daerah lain. Bahkan, juga untuk pemilu nasional.

Akan tetapi, dengan semua prestasi itu, kalangan internasional rupanya masih ingin memiliki kaki dan tangannya di Aceh. Buktinya, setelah tugas AMM berakhir, tugas AMM akan dilanjutkan sebuah LSM yang diberi nama Interpeace.

Menurut Ketua AMM Pieter Feith, Interpiece bukan anak dari AMM atau kelanjutan dari AMM. Mereka memiliki mandat yang berbeda dan akan lebih kecil strukturnya daripada AMM. Interpiece berasal dari komunitas internasional yang akan memantau masalah hak asasi manusia (HAM) dan reintegrasi di tingkat lapangan. Dana operasional Interpiece berasal dari sejumlah negara Uni Eropa, Kanada, Amerika Serikat, dan Jepang.

Interpeace akan dipimpin Maarti Ahtisari, mantan Presiden Finlandia, yang juga fasilitator perundingan damai antara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka. Di satu sisi, semua itu menunjukkan kuatnya perhatian internasional agar Aceh yang diidam-idamkan dalam perjanjian Helsinki terwujud dengan mulus dan lancar.

Akan tetapi, sebaliknya, dibentuknya Interpiece setelah tugas AMM berakhir, juga memperlihatkan betapa komunitas internasional masih tidak percaya bahwa Aceh dapat diurus sendiri oleh anak bangsa ini. Komunitas internasional tidak percaya bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia memegang komitmen Helsinki. Dari sisi lain, itu juga bukti, komunitas internasional pun tidak percaya kepada kemampuan pemimpin hasil pilihan rakyat Aceh untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut HAM dan reintegrasi.

Setelah Pilkada Aceh berlangsung damai, setelah warga Aceh memilih secara langsung gubernur dan wakil gubernur, setelah semua pesta demokrasi itu, kesimpulan pun sangat jelas. Yaitu, semua itu adalah kemenangan rakyat Aceh.

Oleh karena itu, langkah yang harus diambil pun mestinya juga sangat jelas. Yaitu, Aceh tidak memerlukan lagi pemantau asing. Aceh harus dibebaskan dari pemantau asing.

Apa pun namanya, apa pun bentuk organisasinya, apa pun isi dan misinya, pemantau asing tidak diperlukan lagi. Tidak diperlukan lagi, siapa pun yang membiayainya dan memimpinnya!

Saatnya Aceh diurus anak bangsa sendiri. Saatnya anak bangsa sendiri yang mengawasi penyelenggaraan pemerintahan di Aceh. Saatnya Aceh dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia memperlihatkan kepada masyarakat dunia bahwa bangsa ini mampu mengurus dirinya sendiri secara terhormat.

Media Indonesia, Senin, 18 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Membebaskan Aceh dari Pemantau Asing”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,663 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: