Pemerintah Itu Memeriksa

Tidak habis-habisnya kita menggugat, mengapa bisa terjadi kelangkaan, sebelumnya minyak tanah, sekarang beras. Akibatnya, masyarakat harus membayar mahal.

Hukum ekonomi yang sangat wajar bahwa ketika terjadi kekurangan pasokan, maka harga barang akan melambung tinggi. Pertanyaannya, mengapa pasokan bisa berkurang? Lebih jauh lagi, mengapa kekurangan itu bisa tidak diketahui dan tidak bisa diantisipasi?

Terus terang kita sangat mengkhawatirkan buruknya manajemen pemerintahan. Ketidakmampuan dari seorang pemimpin untuk mengetahui realitas yang tengah terjadi di tengah kehidupan rakyat yang ia pimpin.

Sepanjang pemimpin tidak pernah mau turun ke bawah dan hanya duduk di belakang meja untuk menerima data dari bawahan, maka pasti akan ada ketidaksinkronan. Contoh paling aktual dalam urusan perberasan sekarang ini. Dikatakan, meningkatnya harga beras bukan disebabkan oleh kelangkaan, sebab perbedaan antara kebutuhan dan produksi hanya 66.000 ton.

Pertanyaannya, apakah kita tahu di mana beras yang kita miliki itu berada? Di mana pula daerah-daerah yang kekurangan pasokan sehingga perlu diperhatikan?

Kita sangat khawatir, semua data itu tidak kita miliki. Masalahnya, semua itu selalu berangkat dari asumsi. Produksi padi misalnya dihitung berdasarkan perkiraan luasan lahan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik. Padahal, pengelolaan pangan tidak cukup hanya berdasarkan angka statistik. Kita harus melengkapi data itu dengan kenyataan yang sebenarnya ada di lapangan.

Tanpa bermaksud mengagung-agungkan pemerintahan Orde Baru, keadaan seperti ini tidak pernah akan terjadi pada masa itu. Belajar dari antre bahan kebutuhan pokok di masa Orde Lama, diperhatikan betul masalah kebutuhan pokok rakyat. Bahkan ibaratnya, berapa pun harganya akan dibayar agar tidak terjadi kelangkaan, karena itu hanya menyusahkan rakyat.

Apakah di zaman reformasi hal seperti itu tidak bisa dilakukan? Seharusnya bisa, bahkan lebih bisa, sebab apa pun sistem politiknya, tugas pemerintah adalah menyejahterakan rakyatnya. Agar bisa menyejahterakan, pemerintah harus bekerja, terutama bekerja untuk memeriksa apakah semua sistem itu berjalan baik.

Tugas pemerintah adalah membuat kebijakan publik. Sangatlah wajar apabila sesekali kebijakan publik pemerintah tidak sejalan dengan pandangan partai politik atau pakar. Namun hal itu wajar saja dan pemerintah bergeming sepanjang itu bermanfaat bagi rakyat.

Sungguh aneh, apabila atas nama demokrasi, atas nama kebebasan, justru hal yang paling mendasar itu tidak kita lakukan. Kita ingin ingatkan lagi bahwa dalam demokrasi jangan hanya hak sipil dan hak politik saja yang diperhatikan. Yang tidak kalah penting adalah hak ekonomi, hak sosial, dan juga hak budaya.

Cita-cita besar yang ingin kita gapai sebagai bangsa adalah menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Itulah ekonomi pasar sosial. Pemenuhan kebutuhan rakyat, seperti minyak tanah dan beras, merupakan tanggung jawab yang harus dipikul pemerintah. Untuk itulah mereka dipilih dan diberi kehormatan.

Kompas, Selasa, 19 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Pemerintah Itu Memeriksa”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,637 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: