Hidupkan Pengadilan Korupsi

Selasa lalu, Mahkamah Konstitusi mengeluarkan keputusan penting perihal nasib Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Inilah keputusan yang sebelumnya membuat dag-dig-dug para koruptor sekaligus aktivis antikorupsi. Keputusan itu diambil berdasarkan gugatan terpidana korupsi Komisi Pemilihan Umum, Mulyana W. Kusumah dan Nazaruddin Sjamsuddin, beserta beberapa orang lain.
Intinya, mereka menggugat pengadilan korupsi, yang dianggap diskriminatif karena dibentuk khusus untuk menyidangkan kasus yang dibawa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka juga menggugat KPK, yang dinilai kelewatan lantaran memiliki wewenang berlebihan, misalnya menyadap percakapan tersangka koruptor.
Dengan gugatan itu, para koruptor berharap pengadilan korupsi dibubarkan. Jika ini terjadi, kasus korupsi cukup disidangkan di pengadilan umum biasa. Beberapa kasus yang sedang diusut KPK juga bisa rontok di tengah jalan jika pengadilan ini tak ada. Seperti kita ketahui, berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, kasus korupsi yang ditangani lembaga itu hanya bisa disidangkan di pengadilan korupsi.
Lebih dari sekadar membubarkan pengadilan, jika diterima, gugatan Mulyana dan kawan-kawan itu bisa membuat KPK mandul. Tanpa pengadilan khusus, KPK bisa mengimbau agar korupsi diberantas tapi tak memiliki tinju untuk menghantam para koruptor.
Persoalannya, pengadilan korupsi tidak dilandasi undang-undang khusus. Satu-satunya landasan hukum pengadilan itu adalah Undang-Undang tentang KPK tadi. Padahal konstitusi mengamanatkan pengadilan hendaknya dibangun di atas fondasi undang-undang.
Itulah sebabnya, Mahkamah Konstitusi memberikan kesempatan tiga tahun kepada pemerintah dan DPR untuk segera membentuk undang-undang tadi. Jika undang-undang tak dibentuk dalam tiga tahun, pengadilan korupsi bisa mati dan upaya pemberantasan korupsi masuk liang lahad.
Apa yang dilakukan Mahkamah Konstitusi sebetulnya jalan tengah. Di satu pihak, tanpa landasan hukum yang kuat, posisi pengadilan korupsi memang rentan. Di pihak lain, jika itu dibubarkan begitu saja–sesuatu yang dikhawatirkan aktivis antikorupsi–KPK akan jadi macan ompong.
Bola sekarang ada di DPR dan pemerintah. Dalam waktu tiga tahun, keduanya harus mampu menyelesaikan undang-undang pengadilan korupsi. Inilah saatnya kedua lembaga tinggi itu membuktikan komitmen mereka pada gerakan menggusur koruptor. Bukan saatnya lagi mengulur-ulur waktu atau membuat sulit sesuatu yang mestinya gampang agar peraturan itu tidak terbentuk.
Sinyalemen lembaga antikorupsi Transparency International bahwa DPR merupakan lembaga terkorup harus dijawab badan itu dengan sesegera mungkin menyelesaikan undang-undang pengadilan korupsi.
Gerakan antikorupsi harus didukung. KPK dan pengadilan korupsi dulu dibentuk untuk menerabas pengadilan biasa yang ditengarai telah dijangkiti penyakit korupsi. Kita sudah berada di jalan yang benar. Karena itu, jangan pernah berpikir untuk mundur.

Koran Tempo, Kamis, 21 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Hidupkan Pengadilan Korupsi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,874 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: