Analogi dengan Tahun 1950-an

Transisi ke demokrasi disertai gejala yang mengingatkan perkembangan politik tahun lima puluhan. Waktu itu berlaku pemerintahan kabinet parlementer.

Presiden dan wakil presiden berfungsi lebih sebagai kepala negara dan simbol. Pemerintahan faktual dan efektif berada di tangan kabinet yang dipimpin oleh perdana menteri. Kabinet parlementer terdiri dari koalisi partai dan bertanggung jawab kepada parlemen. Instabilitas politik ditandai oleh silih bergantinya kabinet koalisi. Rata-rata usia kabinet hitungannya bulan. Kondisi yang bertambah buruk bermuara pada Dekrit Presiden 1959 serta berlakunya Demokrasi Terpimpin.

Kini kita pun mengalami masa transisi. Masa transisi dalam kerangka dan semangat reformasi prodemokrasi, martabat dan hak-hak asasi manusia, serta kebutuhan-kebutuhan dasar warga. Reformasi sudah (atau baru) berlangsung delapan tahun. Kita kembali hidup dalam eforia demokrasi. Partai-partai politik berkembang subur, terutama dalam kuantitasnya. Antara tahun 1998 sampai Pemilu 2004, kita mengalami pergantian presiden sampai tiga kali. Kepastian masa pemerintahan presiden dan wapres hasil Pemilu 2004 sesuai dengan konstitusi yang berlaku, lima tahun. Pemerintahan bukan pemerintahan kabinet parlementer seperti tahun lima puluhan, melainkan kabinet presidensial.

Sekiranya pemerintahan diganti sebelum berakhirnya lima tahun masa jabatannya, harus diganti pula presiden dan wapres. Bisa kita bayangkan berbagai implikasi yang terjadi, sekiranya presiden dan wapres jatuh atau diganti di tengah jalan.

Memori akan pengalaman tahun 1950-an ikut muncul, ketika akhir-akhir ini ekspresi keprihatinan perihal serba kondisi kita dewasa ini sering dikemukakan termasuk oleh tokoh-tokoh senior dengan suatu pernyataan politik yang ditafsirkan sebagai berimplikasi perihal jatuhnya pemerintahan presidensial ini di tengah jalan. Karena menurut pertimbangan kita yang subyektif tetapi serius, kesimpangsiuran itu bisa membawa akibat serius termasuk kondisi tak menentu, kita kemukakan analogi kita dewasa ini dengan tahun 50-an. Apa boleh buat, dulu berlaku sistem kabinet parlementer, kini kabinet presidensial, mau tidak mau perbedaan sistem itu perlu kita pertimbangkan sebagai acuan pandangan dan sikap politik kita. Tak kita sangsikan maksud baik, serius, dan lurus dari berbagai pendapat itu. Namun, perlu kiranya berlakunya perbedaan sistem itu dipertimbangkan.

Kita kemukakan pandangan ini mengingat, tampaknya, pertemuan antara kondisi yang belum memuaskan dengan keprihatinan serta dinamikanya psikologi politik dewasa ini bisa membawa kita ke mana-mana. Termasuk masukan betapa kecenderungan politik yang kuat dewasa ini adalah berlomba menuju Pemilu 2009. Memang perkembangan itu sulit dihindarkan karena itu justru harus disertai tanggung jawab dan saling mengingatkan. Dalam konteks itu, kita mengingatkan dan mengimbau, di samping berpacu dalam demokrasi secara sehat, mengapa tidak kita hidupkan dan kita perkuat kesepakatan dan usaha membangun platform nasional. Untuk itu, pendekatan terbaik adalah dialog langsung.

Kompas, Jumat, 22 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Analogi dengan Tahun 1950-an”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,910 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: