Keadilan Bagi Ba’asyir

”Alhamdulillah. Itu sudah kehendak Allah yang telah memberikan keberanian kepada majelis hakim PK.” Begitulah kalimat singkat yang meluncur dari mulut Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, ketika tahu permohonan peninjauan kembali (PK) terhadap tuduhan dirinya sebagai pelaku bom Bali I dan Hotel JW Marriott Jakarta, dikabulkan oleh Mahkamah Agung (MA). Dengan demikian, demi hukum dan keadilan, Ba’asyir harus dibebaskan dari segala tuduhan itu dan nama baiknya harus dipulihkan.

Putusan MA itu bagai sebuah oase di tengah padang pasir. Kehadirannya telah memberikan kesegaran baru di saat banyak orang di negeri ini masih haus mencari keadilan. Tak terkecuali bagi Pemimpin Pondok Pesantren Almukmin, Ngruki, Solo, ini. Ba’asyir sudah hampir tiga tahun mencari keadilan atas tuduhan terhadap dirinya yang sejak awal ditengarainya sebagai sebuah rekayasa jahat berkedok menumpas terorisme global yng disponsori AS dan dua kaki tangannya yakni Inggris dan Australia.

Ucapan salut pantas dialamatkan kepada para hakim MA, terutama yang menangani pengajuan PK Ba’asyir ini. Mereka adalah German Hoediarto, Mansyur Kertayasa, Artidjo Alkostar, Imron Anwari, dan Abdurrahman. Dengan keberanian dan berpegang pada hati nurani, keempatnya tanpa perbedaan pendapat (dissenting opinion), mendasari keterangan 30 orang saksi bahwa Ba’asyir tidak terbukti terlibat sebagaimana diketukkan oleh palu hakim di Pengadilan Jakarta Selatan hampir tiga tahun silam. Putusan ini menyiratkan keadilan masih ada di negeri ini.

Dugaan rekayasa seperti yang dirasakan oleh Ba’asyir seperti mendapat pembenarannya. Pada hari yang sama saat putusan itu keluar Kamis (21/12) lalu, Pemerintah AS menyiratkan keberatan terhadap putusan MA Indonesia yang mengabulkan permohonan PK Ba’asyir. Kepada kantor berita Antara, juru bicara Deplu AS, Janelle Hironimus, mengatakan hukuman terhadap Ba’asyir telah dijungkirbalikkan oleh MA Indonesia. Seraya menunggu laporan terinci dari Jakarta, menurut Hironimus, Pemerintah AS prihatin dengan putusan tersebut.

Kita geli mendengarnya. Sebab, seharusnya kitalah yang prihatin dengan pernyataan dan sikap Pemerintah AS atas putusan pengabulan PK Ba’asyir. Sebuah pernyataan yang emosional sekaligus menghina independensi kekuasaan kehakiman sebuah negara berdaulat. Pemerintah AS semestinya berhenti untuk terus memaksakan kehendaknya, apalagi yang menyangkut hukum di negara lain. Kesetaraan adalah kata kunci dalam sebuah hubungan antarnegara.

Kita setuju dan mendukung terhadap upaya-upaya perang melawan aksi-aksi terorisme. Ini karena kita yakin dunia yang kita harapkan adalah dunia yang damai, tanpa kekerasan dan teror. Siapa pun yang melakukan aksi teror harus kita lawan. Tapi, bukan dengan konspirasi membabi buta dan menjerat orang hanya lewat suatu rekayasa jahat.

Putusan MA keluar setelah Ba’asyir selesai menjalani masa hukumannya selama 2,5 tahun pada 14 Juni 2006. Kita percaya Ustadz Ba’asyir tak menyimpan dendam terhadap vonis pengadilan sebelumnya yang telah menzaliminya. Sekarang giliran pihak pengadilanlah yang mesti memulihkan nama baik Ba’asyir. Lisan atau tertulis. Di media massa maupun di tempat-tempat umum. Keadilan sebuah niscaya.

Republika, Sabtu, 23 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Keadilan Bagi Ba’asyir”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,818 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: