Kepedulian Natal 2006

Sepanjang tahun 2006 bencana alam silih berganti datang. Gempa bumi Yogyakarta dan Jateng seolah-olah awal serangkaian bencana setahun belakangan.

Ada yang menyebut tahun 2006 Tahun Bencana. Dari sisi mana pun sebutan itu masuk akal. Ketidakmampuan kita mengatasi masalah pun termasuk bencana. Belum sampai ke taraf “negara yang gagal”, kita kelompok piawai membuat rencana, tetapi tidak get things done. Kita jagoan membuat instruksi tanpa tindak lanjut.

Semua masalah hanya sebatas diwacanakan. Melangitnya harga beras sebulan terakhir, hilangnya minyak tanah dari peredaran, dan semburan lumpur di Sidoarjo, sekadar menyebut tiga kasus yang hingga sekarang belum teratasi.

Realitas kemiskinan yang dikaitkan Bank Dunia dengan naiknya harga beras menuai protes. Jumlah penduduk miskin 39,05 juta jiwa tidak merangsang kita menemukan solusi. Beli beras dan minyak secara dicatu, setelah berjam-jam antre, mengingatkan pengalaman tahun 1960-an. Bedanya dulu kita sama-sama miskin, sekarang terjadi pemisahan yang kaya dan yang miskin.

Repotnya laporan kemiskinan itu ditanggapi reaksioner. Bentuknya—lagi-lagi—tidak lebih dari keasyikan berwacana tentang kemiskinan. Kata kunci kebiasaan ini adalah kepedulian. Kepedulian tidak hanya menuntut ketajaman analisis dan solusi, tetapi juga aksi. Tidak hanya keberpihakan romantis, tetapi juga empati-kompasi praktis.

Hari Natal, hari istimewa bagi umat Kristen, berangkat dari kepedulian. Solidaritas terhadap yang lemah, miskin, dan tergusur jadi tema sentral. Ekspresinya kadang melenceng dari semangat dasar tersebut. Natal jadi barang dagangan. Ucapan Selamat Natal dibisniskan. Kepedulian Natal tergantikan oleh naluri pragmatisme bisnis dan serba pamrih.

Refleksi Romo Johannes Dijkstra SJ (1911-2003), misalnya, menegaskan perlunya keberpihakan kepada rakyat miskin. Tulis Romo Dijkstra, “seluruh bangsa kita hidup dari hasil bumi petani kecil di desa”. Artinya, solusi kemiskinan, khususnya beras, harus ditempatkan dalam kerangka keberpihakan kepada petani (Menjadi Garam Dunia Sejati, 2006).

Ungkapan sederhana itu mengingatkan, dalam perjuangan hak ekonomi sosial peran negara tetap diperlukan. Kalau dalam perjuangan hak sipil dan politik, negara sebaiknya tidak campur tangan, sebaliknya dalam pemenuhan hak dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Pemenuhan hak-hak dasar itu tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar.

Menyelesaikan persoalan yang berurusan dengan rakyat banyak adalah entry point (pintu masuk) membangun habitus (keadaban publik) yang baru. Habitus lama, keasyikan kita berwacana soal kemiskinan misalnya, perlu ditinggalkan.

Merayakan Natal 2006 berarti membangun sikap peduli pada persoalan masyarakat banyak. Habitus baru tidak selesai dengan niat, instruksi, dan wacana! Kepedulian itu perlu aksi nyata!

Selamat Hari Natal 2006!

Kompas, Sabtu, 23 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Kepedulian Natal 2006”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 788,198 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: