Ajakan Berbagi dari Presiden

Ibarat orang sakit, imbauan berbagi ataupun kegiatan tolong-menolong antarmasyarakat merupakan aksi yang sifatnya kuratif, bukan pencegahan.Imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar perayaan Natal, tahun baru, dan Idul Adha dijadikan momentum untuk berbagi dengan sesama terasa sangat pas di tengah bencana banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai kawasan di negeri ini.
Hujan deras selama beberapa hari menjelang perayaan Natal telah mengakibatkan banjir di sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Sumatera. Provinsi Aceh, yang baru dua tahun lalu remuk-redam terhantam tsunami, kini menjadi kawasan yang terkena banjir paling parah. Sedikitnya 90 orang tewas.
Kita yakin, permintaan Presiden agar masyarakat yang berkecukupan berbagi, membantu korban bencana banjir, pasti akan direspons. Sebab, berkaca pada pengalaman masa lalu, ketika terjadi bencana tsunami, masyarakat tanpa diimbau-imbau pun, dengan sukarela membantu saudara-saudara mereka yang terkena musibah.
Artinya, tanpa bermaksud mengecilkan imbauan mulia dari Presiden, yang terpenting sebenarnya bukan masalah berbagi. Sebab, siapa pun pasti tidak menginginkan terkena musibah. Ibarat orang sakit, imbauan berbagi ataupun kegiatan tolong-menolong antarmasyarakat merupakan aksi yang sifatnya kuratif, bukan pencegahan.
Memang, bencana alam merupakan musibah yang sulit diduga, bisa menimpa siapa saja, kapan saja. Tapi, mengutip penelitian dari Wahana Lingkungan Hidup, sekitar 85 persen bencana alam di Indonesia adalah bencana banjir.
Persentase tersebut berarti bahwa bencana yang sering terjadi justru bencana yang bisa diatasi, diantisipasi, dan diperkirakan risikonya. Banjir dan tanah longsor adalah bencana yang terjadi bukan hanya karena faktor alamiah alam, melainkan lebih banyak karena campur tangan manusia. Artinya, bencana banjir dan longsor merupakan bencana yang “bisa direncanakan”.
Banjir bandang di Aceh yang terjadi sekarang ini sangat jelas menunjukkan adanya campur tangan manusia, yaitu kegiatan pembalakan liar. Kawasan Ekosistem Leuser seluas 2,5 juta hektare, yang salah satu fungsinya sebagai tempat penangkapan air misalnya, kini telah rusak 25 persen. Adapun yang telah menjadi area gundul sekitar 10 persen.
Kondisi yang hampir sama juga terjadi di berbagai daerah rawan banjir lainnya. Akibatnya, banjir di negeri ini memang sudah menjadi musibah tahunan. Masalahnya, hingga kini pemerintah belum memiliki–atau bahkan memikirkan–pola penanganan banjir yang terpadu. Sejauh ini yang sudah cukup lancar dilakukan adalah mengumumkan kepada masyarakat agar waspada terhadap banjir.
Namun, tindakan-tindakan yang nyata dan konkret untuk mengantisipasi musibah itu dengan membuat bangunan pengendali banjir, seperti pintu air dan drainase, serta mempersiapkan pompa-pompa di berbagai daerah rawan banjir belum terlihat. Selain itu, pemberantasan pembalakan liar sampai sekarang belum berhasil sepenuhnya. Yang ditangkapi baru para “keroco”, sedangkan para cukongnya masih bebas berkeliaran.
Jika hal-hal itu belum juga dilakukan, imbauan berbagi dari Presiden akan menjadi statement yang “bisa direncanakan” seperti halnya banjir yang setiap tahun selalu hadir di tengah-tengah kita.

Koran Tempo, Selasa, 26 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Ajakan Berbagi dari Presiden”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 792,874 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: