Bencana Setelah Tsunami

Siapa menyangka upaya untuk bangkit dari bencana tsunami justru menjadi pembuka hadirnya bencana baru. Itulah yang sedang terjadi di Aceh. Tidak ada seorang pun di antara kita yang mengharapkan bencana itu terjadi. Media massa pun tidak ingin terus-menerus memberitakan kesedihan di tengah bangsa kita ini. Sangat ingin media massa memberitakan hal besar yang bisa membuat kita semua bangga.

Namun, lagi-lagi kenyataan pahit itulah yang harus kita terima dan kita alami. Mau tidak mau media massa mengangkatnya untuk membuat semua orang sadar apa yang menjadi penyebabnya dan berupaya keras untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah.

Korban tewas yang hampir mencapai 100 orang dan lebih dari 200.000 orang yang harus mengungsi bukanlah jumlah yang sedikit. Meski tidak sebesar bencana tsunami dua tahun lalu, bencana banjir bandang yang menimpa kawasan Aceh Timur tergolong bencana besar, apalagi jika kita lihat warga yang terjebak dalam kurungan banjir yang mencapai empat meter dan mereka tidak bisa pergi ke mana-mana.

Berbeda dengan bencana tsunami yang setelah gelombang besar itu kembali ke laut masih memungkinkan kita untuk menggunakan jalur darat, dalam banjir kali ini praktis tidak mungkin lagi bantuan diberikan melalui darat. Dibutuhkan sarana yang lain, entah itu perahu karet ataupun helikopter. Itulah yang membuat lebih dramatis upaya penyelamatan yang harus kita lakukan.

Bencana ini bukan disebabkan oleh tingginya curah hujan. Bencana ini terjadi karena kesalahan kita sendiri dalam mengelola hutan. Ketidakmampuan kita untuk menata pengelolaan hutan secara baik membuat kita harus membayar kesalahan itu dengan sangat mahal.

Sejak awal sudah diingatkan, pembangunan kembali Aceh pascatsunami jangan merusak keseimbangan alam yang ada. Namun, ambisi untuk membangun kembali Aceh membuat kita melupakan semua itu.

Kesalahan seperti ini bukan hanya monopoli kita. Di banyak negara pun, ambisi untuk membangun negeri membuat banyak sumber daya alam harus dikorbankan. Kita lupa bahwa kemajuan bukan hanya diukur dari banyaknya bangunan beton yang bisa kita dirikan. Kemajuan juga adalah kalau kita bisa hidup tenang, damai, dan tidak lagi ada ancaman.

Karena itulah kita mengkritik pendekatan lembaga internasional dalam mengukur keberhasilan sebuah negara. Indikator pendapatan di bawah 2 dollar AS sebagai negara yang tertinggal membuat semuanya berlomba sekadar membangun ekonomi, lupa untuk juga membangun kehidupan sosial yang lebih seimbang.

Kita ingin kembali mengingatkan, potensi ancaman bukan hanya ada di Sumatera. Dalam rapat dengan Wakil Presiden, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Sri Woro B Harijono mengatakan, daerah lain yang pantas diwaspadai bagi terjadinya bencana adalah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Lampung. Lagi-lagi tingkat kerusakan hutan yang begitu parah membuat datangnya musim hujan membawa ancaman bagi kita. Apa boleh buat, kita harus bersiap mengantisipasi kondisi yang terburuk.

Kompas, Rabu, 27 Desember 2006

Iklan

0 Responses to “Bencana Setelah Tsunami”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,637 hits
Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: