Kita Tunggu Kejujuran

Rasanya, sulit kita memercayai apa yang terjadi saat ini. Di tengah kesedihan mendalam karena sejumlah kapal tenggelam di tengah lautan -dan Tim SAR masih berjibaku mencari korban yang jumlahnya mencapai ratusan- kita disentakkan oleh hilangnya pesawat Adam Air. Hingga tadi malam masih simpang siur di mana keberadaan pesawat tersebut.

Dugaan sementara, kecelakaan tersebut disebabkan cuaca buruk. Dugaan itu cukup logis. Kita pun bisa memahami alasan tersebut dengan cepat. Bukankah cuaca dalam pekan-pekan ini memang sangat buruk?

Dugaan cuaca buruk sebagai penyebab kecelakaan itu memang mudah dimengerti. Namun, hal tersebut sangatlah tidak memadai untuk menjelaskan kecelakaan yang menelan nyawa sangat besar itu. Kita masih perlu menunggu penyelidikan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) lebih lanjut.

Kita perlu tahu dengan pasti, benarkah cuaca memang menjadi penyebab? Kalau benar, apakah sebelum terbang, semua prosedur penerbangan telah ditaati? Atau ada penyebab lain? Misalnya, kelayakan terbang pesawat tersebut.

Ketaatan terhadap prosedur penerbangan dan kelayakan terbang harus menjadi fokus penyelidikan tersebut. Sebab, di negara yang segala sesuatu bisa diatur seperti di Indonesia, semua kemungkinan bisa terjadi. Dari manipulasi data hingga manipulasi prosedur.

Apalagi, kecelakaan kali ini menimpa Adam Air, maskapai yang selama setahun ini (2006) beberapa kali mengalami persoalan, selain Lion Air. Dari tergelincir, mendarat darurat, hingga problem ban pesawat.

Jujur saja, kami khawatir, semua problem yang menimpa Adam Air (dan juga Lion Air) itu merupakan rentetan proses efisiensi yang merupakan konsekuensi logis tarif murah yang mereka terapkan. Kami khawatir, pihak manajemen mengompensasi tarif murah dengan pengabaian terhadap jaminan keselamatan penumpang.

Kami khawatir, gara-gara menerapkan tarif murah, pihak manajemen akhirnya menggunakan suku cadang yang tidak standar, pemaksaan terbang di kala kondisi tidak memungkinkan untuk terbang, pemanfaatan awak pesawat yang kurang profesional, dan sebagainya.

Kalau penyebabnya memang faktor efisiensi, penerapan tarif murah, jelas itu perlu dievaluasi. Tidak apa-apa bila penghapusan tarif murah itu berakibat pada menurunnya jumlah masyarakat yang mampu naik pesawat. Yang penting, kepiluan akibat kecelakaan udara tidak terdengar lagi.

Kita benar-benar butuh informasi akurat dan benar terkait dengan semua masalah itu. Kita juga berharap, KNKT bisa menyampaikan hasil penyelidikannya dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Kemudian, pihak Adam Air dan pemerintah pun menyikapi hasil penyelidikan itu secara jujur dan proporsional.

Jujur dalam hal ini menjadi kata kunci yang harus diperhatikan. Kalimat ini secara implisit mengandung aspek keraguan. Sebab, fakta menunjukkan, di negeri ini, kejujuran sudah menjadi barang langka. Manipulasi dan kebohongan setiap hari tersaji di hadapan kita.

Akhirnya, kita berharap, semoga dalam kasus Adam Air ini, kejujuran bisa tersaji. Sebab, data tersebut kita butuhkan bukan hanya untuk menangani kecelakaan itu, namun juga untuk hari-hari berikutnya. (*)

Indo Pos, Rabu, 03 Jan 2007

0 Responses to “Kita Tunggu Kejujuran”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 780,023 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: