Ujian Sebuah Ketegasan

Di samping keprihatinan terhadap berbagai bencana dan musibah yang terjadi, ada yang lebih memprihatinkan, yakni telantarnya jemaah haji kita di Tanah Suci. Apalagi peristiwa itu terjadi saat jemaah haji sedang melaksanakan puncak ibadahnya, yakni wukuf di Padang Arafah. Di tempat yang khusyuk, yang menuntut konsentrasi tinggi, jemaah haji kita harus berjuang untuk bertahan tanpa mendapat makanan yang mencukupi.

Tidak hanya di Padang Arafah, ternyata kurangnya pasokan makanan bagi jemaah berlanjut ketika mereka melempar jumrah di Mina. Bahkan, hingga kemarin, pasokan makanan belum selesai tertangani.

Kejadian itu sungguh sangat mencoreng kita semua. Masalahnya, ibadah haji bukanlah kegiatan temporer. Setiap tahun, umat Islam yang mampu diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji. Dan kita, termasuk pemerintah, setiap tahun juga terlibat dalam pelaksanaan ibadah haji tersebut.

Keikutsertaan pemerintah sangat diperlukan karena pelaksanaan ibadah haji berbasis negara. Agar pelaksanaan berjalan lancar dan seluruh umat Islam dunia bisa beribadah dengan sempurna, Pemerintah Arab Saudi menetapkan kuota berdasarkan jumlah penduduk. Karena Indonesia dikenal sebagai negara dengan umat Islam terbesar di dunia, otomatis jumlah jemaah hajinya juga yang terbesar.

Meski berlangsung setiap tahun dan ada badan khusus di Departemen Agama yang mengurusi haji, menjadi tanda tanya besar mengapa pengelolaan tidak kunjung lebih baik? Bahkan kali ini paling parah, karena 200.000 anggota jemaah tidak mendapatkan makanan cukup?

Kesalahan penanganan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Alasan penghematan 50 riyal yang dilakukan dalam mengganti perusahaan katering tanpa diikuti dengan pemeriksaan kompetensi sungguh merupakan keputusan keliru dan terbukti fatal. Bayangkan, jemaah Indonesia menjadi jemaah yang tak terurus dan mereka ternyata tidak mudah untuk bisa mendapatkan makanan yang baik, meski memiliki uang untuk membeli.

Memang tidak mungkin ada tempat yang bisa melayani 200.000 anggota jemaah yang membutuhkan makanan secara hampir bersamaan. Bahkan semua tempat makan di Mekkah pun tak mungkin bisa melayani orang sebanyak itu apabila tidak diberi tahu terlebih dulu.

Karena ini berkaitan dengan ibadah, sering kali lalu kita menyebut kesalahan pengelolaan ini sebagai sebuah ujian. Memang kita tidak menutup mata akan perlunya jemaah haji bersabar terhadap semua cobaan. Namun, kita tidak bisa pula bersembunyi atas nama cobaan terhadap kesalahan manajemen yang kita lakukan.

Salah satu yang membuat kita tidak maju dan akhirnya selalu mengulangi kesalahan yang sama adalah terlalu tolerannya kita terhadap kesalahan. Padahal, salah satu kunci kemajuan adalah keberanian kita untuk menerapkan penghargaan dan hukuman.

Terngiang pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada ulang tahun Antara yang berniat untuk bersikap lebih konkret, lebih tegas. Inilah salah satu perbaikan yang harus berani dilakukan Presiden.

Kompas, Rabu, 03 Januari 2007

Iklan

2 Responses to “Ujian Sebuah Ketegasan”


  1. 1 B Ali Juli 22, 2007 pukul 11:08 pm

    Ada yang bertanya: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban saya adalah: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10 atau 25? Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak, maka orang muslim hanya menurutinya saja secara taken for granted.

    Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Jadi umat muslim terjebak.

  2. 2 MyDin Oktober 6, 2008 pukul 2:56 pm

    Mas kalu komentar pake ilmu …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 797,207 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: