Malapetaka Informasi di Era Informasi

Yang terjadi di negeri ini bukan hanya malapetaka alam seperti tsunami, gempa bumi, tanah longsor, atau malapetaka transportasi seperti kapal tenggelam, kereta api tabrakan, pesawat terbang hilang atau jatuh, melainkan juga malapetaka informasi. Itulah malapetaka yang tidak saja menambah panjang daftar kesedihan, tetapi juga memalukan bangsa ini ke seluruh dunia.

Kasus mutakhir adalah informasi telah ditemukannya pesawat Adam Air. Tidak hanya telah ditemukan, tetapi informasi yang disebarkan kepada publik bahkan lebih rinci lagi. Yaitu 12 orang selamat dan 90 orang meninggal.

Tetapi kemudian informasi itu salah, tidak benar, bahkan dapat digolongkan sebagai pembohongan publik. Faktanya hingga sekarang pesawat Adam Air itu belum ditemukan.

Alkisah adalah seorang warga Desa Raongan, Kecamatan Matangnga, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang melapor kepada Kepala Desa Raongan bahwa ada pesawat jatuh. Tanpa mengeceknya, sang kepala desa melapor ke kapolsek, diteruskan ke bupati, kapolda, gubernur, dan ujungnya sampai ke Menteri Perhubungan.

Tak hanya sampai di menteri. Selanjutnya, informasi itu pun tiba di puncak kekuasaan, masuk Istana Presiden dan Wakil Presiden. Tidak hanya sampai, tetapi informasi yang salah itu pun dipercayai pemimpin negara.

Dan pers pun turut ‘berdosa’ karena menyebarluaskan informasi yang ternyata tidak benar. Pers mempercayai informasi itu semata karena berasal dari pejabat negara.

Maka, sempurnalah kebodohan kita sebagai bangsa. Yaitu tidak mengecek fakta. Kesimpulan yang menyakitkan, bahwa untuk urusan yang sangat elementer pun ternyata bangsa ini belum lulus.

Padahal, kita hidup di abad modern, di era informasi. Era yang didukung kemajuan teknologi informasi sehingga informasi bisa melintasi batas-batas negara secara seketika. Melalui internet, misalnya, tidak ada lagi batas negara, bahkan tidak ada lagi hambatan dimensi waktu dan tempat.

Berkat kemajuan teknologi, informasi yang salah mengenai ditemukannya pesawat Adam Air itu menyebar ke seluruh dunia dengan sangat cepat. Itu berarti kebodohan kita sebagai bangsa pun ikut meluas seluruh jagat. Ah, betapa malu meralatnya!

Oleh karena itu, kasus informasi salah ini mestinya menjadi pelajaran paling penting untuk back to basic. Yaitu siapa pun, terutama pejabat negara, tidak boleh percaya begitu saja pada laporan bawahannya. Jika tidak, bangsa ini tidak hanya mengalami malapetaka alam, atau malapetaka transportasi, tetapi juga malapetaka informasi. Ironisnya, itu terjadi justru di era informasi.

Media Indonesia, Kamis, 04 Januari 2007

Iklan

0 Responses to “Malapetaka Informasi di Era Informasi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 791,557 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: