Memetik Pelajaran dari Musibah

Sebagai negara kepulauan yang terdiri lebih dari 17.500 pulau, tak ada pilihan lain, sarana transportasi yang paling bisa diandalkan adalah angkutan udara dan laut.

Dalam dunia yang bergerak cepat, angkutan udara bahkan lebih diperlukan. Tidaklah keliru kalau di zaman pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid lalu dibuka izin bagi hadirnya perusahaan penerbangan baru.

Deregulasi di bidang perizinan perusahaan penerbangan bukan hanya mampu menciptakan persaingan, tetapi sekaligus menekan biaya angkutan per penumpang. Tidak hanya itu, jumlah kota yang bisa dilayani meningkat sangat pesat dibandingkan sebelumnya.

Kalaupun ada yang harus menjadi catatan, liberalisasi pembukaan perizinan perusahaan penerbangan terlalu bebas. Seharusnya izin diberikan secara selektif dan bertahap sambil memberikan kesempatan kepada perusahaan penerbangan baru itu tumbuh sebagai perusahaan yang andal dan profesional.

Terutama yang perlu sangat diperhatikan adalah kondisi Tanah Air kita ini. Bukan hanya terdiri dari begitu banyak pulau, tetapi topografinya yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung. Cuaca pun sangat mudah berganti-ganti sehingga pemahaman ini perlu diketahui secara lengkap dan utuh, di samping aspek manajemen yang umum berlaku dalam industri penerbangan.

Itulah pula pelajaran penting dari hilangnya pesawat AdamAir, yang sedang terbang dalam perjalanan Jakarta-Surabaya-Manado. Meski kondisi pesawat dilaporkan laik terbang, cuaca buruk menyebabkan pesawat hilang. Kini upaya pencarian terus dilakukan karena diperkirakan pesawat jatuh di wilayah pegunungan, yang tidak mudah dijangkau manusia.

Sambil terus berupaya keras untuk mencari lokasi jatuhnya pesawat, tugas yang tidak kalah penting kita lakukan adalah mengecek ulang semua prosedur dalam penerbangan yang naas tersebut. Kita teliti secara saksama apa yang telah dilakukan sehingga kita tahu mengapa pesawat bisa tiba-tiba jatuh. Dalam dunia penerbangan sangat jarang ada pesawat yang terbang pada ketinggian 10.000 meter tiba-tiba jatuh.

Penelitian secara teknis sangat penting agar kita lalu bisa belajar betul mengapa semua ini bisa terjadi. Dari sana tentunya kita bersama bisa melakukan antisipasi dan mencegah jangan sampai kesalahan itu berulang.

Kita ingin ingatkan, karena ini murni berkaitan dengan masalah teknis, cara penyelesaian pun harus dengan pendekatan teknis. Jangan kemudian kita bawa urusan ini ke mana-mana, apalagi sampai menjadi urusan politik, karena kalau itu yang terjadi, akar persoalannya tidak pernah kita bisa ketahui bersama.

Terlalu sering kita keluar dari konteks. Akibatnya, kita tidak pernah menempatkan persoalan pada proporsinya dan bahkan inti persoalan melenceng jauh.

Inilah momentum bagi kita untuk mengubah kebiasaan yang tidak baik itu. Kita mulai menata kehidupan ini dengan lebih teratur agar kemudian kita bisa melangkah lebih maju. Sekali lagi di bawah kesadaran bersama bahwa kita hidup di negara kepulauan dan kini bahkan hidup di dunia yang sedang berlari kencang.

Kompas, Kamis, 04 Januari 2007

Iklan

0 Responses to “Memetik Pelajaran dari Musibah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 804,679 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: