Menteri Hatta Sampai di Sini

Bujet perawatan pesawat dibikin cekak untuk menaikkan keuntungan bisnis mereka. Dus, keselamatan penumpang diabaikan.Menteri Perhubungan Hatta Rajasa adalah pejabat negara yang paling bertanggung jawab terhadap kecelakaan transportasi belakangan ini. Yang paling akhir adalah jatuhnya pesawat Adam Air rute Surabaya-Manado. Nasib 102 penumpang dan awak pesawat itu hingga kini masih tak tentu rimbanya.
Sebelumnya, lima kapal karam hanya dalam sepuluh hari. Kapal Senopati Nusantara, yang membawa 628 penumpang, karam di perairan Pulau Mandalika. Lalu kapal Sinar Baru karam di Benoa, Bali. Di Batam, kapal Santosa 89 diempas gelombang. Di Selat Bangka, kapal Tristar I terempas. Dan di Karimunjawa, kapal Bunga Anggrek karam. Belum lagi serangkaian kecelakaan kereta api yang terjadi selama dia menjabat.
Betul bahwa penyebab utama kecelakaan itu adalah cuaca yang buruk–kecuali insiden Adam Air, yang diduga ada pula faktor human error. Sejak Desember lalu, kita memasuki musim hujan, yang kerap datang bersamaan dengan banjir dan badai. Tapi cuaca yang tak bersahabat umumnya bisa diprediksi. Badan Meteorologi dan Geofisika Bandar Udara Juanda telah mewanti-wanti soal cuaca berbahaya itu. Tapi, entah mengapa, pilot Adam Air nekat berangkat dan otoritas Bandara Juanda membiarkan pesawat itu melangit. Soal badai di laut juga bukan tak bisa diprediksi.
Manajemen transportasi kita ternyata begitu buruk. Lemahnya sistem pengawasan menjadikan seorang pilot bisa begitu saja terbang meski lampu merah bahaya cuaca sudah dinyalakan. Kerap pula kita dengar Departemen Perhubungan–lembaga yang mengawasi kelaikan terbang pesawat–tutup mata terhadap maskapai penerbangan yang tak serius merawat pesawatnya. Bujet perawatan pesawat dibikin cekak untuk menaikkan keuntungan bisnis mereka. Dus, keselamatan penumpang diabaikan.
Karena itu, tidak berlebihan jika koran ini menyarankan Hatta Rajasa secara kesatria menyatakan mundur dari posisinya sebagai Menteri Perhubungan. Ini adalah bentuk tanggung jawab yang sejati-jatinya. Mundurnya Hatta tidak perlu dilihat sebagai sikap lari dari tanggung jawab. Dengan mundur, Hatta memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki keadaan.
Apalagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di pengujung dua tahun pemerintahannya, Oktober lalu, sudah menegaskan sikapnya untuk menjadi lebih baik. Dua tahun–dari lima tahun pemerintahan–bukan masa yang pendek bagi seorang menteri untuk memastikan apakah ia orang yang cocok dan punya kapabilitas untuk memimpin sebuah departemen.
Betul bahwa jabatan menteri sepenuhnya ditentukan oleh presiden. Hatta bisa saja bertahan di kursi menteri hingga 2009 nanti karena Presiden mempertimbangkan komposisi kabinet dan (mungkin) atas “perjuangan” Partai Amanat Nasional–partai tempat Hatta berasal. Menimbang karakter Presiden yang “penuh pertimbangan”, rasanya sulit mengharapkan langkah tegas Istana dengan memberhentikan menterinya.
Karena itu, inisiatif mundur mestinya datang dari Hatta. Mundur bukan tanda kekalahan. Mundur justru tanda kebesaran jiwa. Sikap bijak ini mestinya mulai dijadikan tradisi.

Koran Tempo, Kamis, 04 Januari 2007

0 Responses to “Menteri Hatta Sampai di Sini”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 780,018 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: