Setelah Kelaparan Berjamaah di Makkah

BERSUSULAN kemalangan merundung di pergantian tahun ini. Dari darat, laut, dan udara. Tanah longsor dan banjir mengubur kampung, kapal dan biduk karam ke dasar laut, serta pesawat hilang. Pemerintah langsung menoleh ke alam sebagai penyebabnya. Ini menyedihkan karena menunjukkan kemampuan bangsa ini dalam “bernegosiasi” dengan alam terus melemah. Ancaman alam kian tak bisa dikelola dan diantisipasi.

Namun, tak hanya alam yang merundung kita. Pemerintah harus menoleh kepada dirinya sendiri setelah 187 ribu jamaah haji Indonesia “kelaparan secara berjamaah”. Kepiluan para tamu Allah itu menjadi jenis baru kemalangan yang kita alami. Rasanya, tak pernah ada kabar kelaparan masal terjadi di Makkah di musim haji yang sudah berlangsung lebih dari 1.400 kali sejak zaman Rasulullah.

Menag Maftuh Basuni memang berusaha tanggap. Dia juga sudah mengalami konsekuensi langsung dari ketidakbecusan itu, yakni menjadi sasaran kemarahan jamaah. Ironis lagi, para jamaah, yang sebelumnya menyiapkan lahir batin memenuhi panggilan Tuhan, harus repot dan jengkel karena urusan kebutuhan dasar manusia: makanan. Kekhusyukan ibadah mereka jelas terganggu.

Reaksi awal Menag Maftuh ikut menambah kemarahan mereka. Saat masalah kelaparan belum teratasi, Menag sudah berbicara soal uang ganti rugi 105 riyal. Alangkah tidak pekanya! Presiden SBY ikut-ikut nimbrung berbicara dengan menaikkan ganti rugi 300 riyal dan dengan gagah memerintahkan pembagiannya diawasi. Ketidakpekaan berganda!

Pantaskah para jamaah yang berniat ibadah hanya dipandang dengan hitungan uang-uang-uang? SBY yang piawai dalam pencitraan -survei akhir tahun LSI menunjukkan popularitasnya kian ciamik- kali ini bicara dengan “bahasa” yang tak tepat. Bahasa uang mungkin sangat menghibur korban-korban bencana alam.

Namun, jamaah haji yang lapar jelas tak butuh itu. Mereka butuh kesigapan dan tanggung jawab pemerintah sebagai pemegang monopoli perhajian agar ibadah mereka bisa lancar kembali.

Perkembangan terakhir, SBY kini memerintahkan investigasi menyeluruh atas bencana “made in Indonesia” di Makkah itu. Dalam tiga minggu rekomendasinya diputuskan dan patut ditunggu apa keputusan presiden.

Bagaimana Menag Maftuh Basuni? Meski harus dikecam, sosok ini tetap juga pantas dihargai, karena sudah memberi nuansa reformasi yang kuat di Depag. Administrasi haji termasuk yang direformasi, sehingga pungli, manipulasi, inefisiensi dengan beban jamaah haji mulai terkikis. Percaloan diberi pukulan keras. Kecelakaan manajemen yang mengakibatkan kelaparan jamaah itu terkesan karena Menag “terlalu semangat”.

Menag kini yang ganti terancam “kelaparan” dukungan. Apalagi, Partai Demokrat sudah mengeluarkan amunisi politik, agar sang Menag dipecat, dijerat pidana, serta menawarkan orangnya sebagai pengganti. Kuat terkesan Demokrat sedang eureka! Publik masih ingat Aziddin, anggota DPR dari Demokrat, di-recall karena kasus percaloan yang diberantas Menag.

Yang mungkin dilupakan orang-orang Demokrat itu, dengan menyerang Menag, sebenarnya mereka juga memukul pemerintahan SBY yang menjadi junjungan partai itu. Menepuk aib Menag, memercik pula ke muka SB.***

Jawa Pos, Kamis, 04 Jan 2007

Iklan

0 Responses to “Setelah Kelaparan Berjamaah di Makkah”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,818 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: