Program Besar Ketahanan Pangan

Program besar ketahanan pangan. Itulah hasil rapat koordinasi terbatas kabinet, yang dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dikatakan besar lantaran program ini tak hanya menargetkan tambahan produksi beras 2007 sebanyak dua juta ton. Tapi juga, cara pencapaian target itu yang melalui hampir semua cara; intensifikasi, ekstensifikasi, dan perluasan lahan pertanian.

Bahkan daerah-daerah yang dijadikan tumpuan demi mencapai target tadi sudah pula ditetapkan; Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo. Diperkuat lagi dengan tambahan anggaran dalam APBN 2007 sebesar Rp 2,5 triliun, sehingga tahun ini anggaran produksi beras naik menjadi Rp 8,7 triliun.

Tambahan anggaran itu sudah mencakup subsidi benih, jaminan kredit petani, subsidi bunga perbankan, serta dana penyuluhan. Program besar tersebut dipastikan juga bakal melibatkan komunitas petani, termasuk petani kecil sebagai bagian dari pengembangan program ini. Program besar ketahanan pangan itu jadi terlihat begitu sempurna jika dipadukan dengan langkah inisiatif Kementerian BUMN, yang berencana menyinergikan sembilan BUMN, membentuk PT Pangan Energi Nusantara (PEN). Perusahaan ini disebut-sebut sebagai cikal terbentuknya Badan Usaha Milik Petani (BUMP).

PEN bertujuan meningkatkan produktivitas petani, produksi padi, serta memperbaiki daya beli petani. Aliansi sembilan BUMN ini menangani seluruhnya, mulai dari pembiayaan, riset, pelatihan, sampai pembelian beras produksi petani yang menjadi mitra mereka. Program besar ketahanan pangan itu memang terlihat komprehensif dan sempurna. Pemerintah mendongkrak produksi beras melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan perluasan lahan, yang melibatkan seluruh komunitas petani. Sedangkan PEN siap membeli semua produksi petani, termasuk petani kecil. Sehingga petani tak perlu khawatir produksinya tak terjual.

Kita tentunya ingin program ini benar-benar bisa berjalan, sesempurna gambarannya di atas kertas. Maka kata kuncinya adalah bagaimana implementasi program besar tersebut. Pengalaman memperlihatkan masalah justru sering muncul saat implementasi program. Dan tak jarang pula jadi berlarut-larut. Sudahkah infrastruktur bagi terlaksananya program, termasuk aturan main dan kepastian hukum, disiapkan secara detil dan jelas?

Sebut saja misalnya, status PEN. BUMN-kah? Seperti Bulog-kah? Atau ada status lain? Jika berstatus BUMN, maka tentunya PEN akan juga dibebani target setoran dividen. Berarti, PEN tak cuma memainkan peran sosial, tapi juga peran komersial alias cari untung. Dari mana pula untung diperoleh? Ironisnya, ditegaskan juga PEN hanya memiliki tujuan jangka pendek, yakni agar target pemerintah tambahan produksi beras dua juta ton bisa tercapai. Apakah setelah itu bubar?

Lantas, bagaimana selanjutnya nasib petani? Bagaimana pula peran Bulog ke depan? Tetap sekadar menunggui dan menghitung stok beras, menggelar operasi pasar lalu membuka tender impor beras?
Program besar ketahanan pangan itu memang tak serta merta menghentikan impor beras. Presiden mengatakan program beras ini tidak terkait dengan kemungkinan impor beras. Jadi, kalaupun target tambahan produksi dua juta ton beras tercapai di akhir 2007 nanti, impor tetap dilakukan jika dianggap perlu. Sayang memang. Program besar ketahanan pangan itu hanya dirancang untuk kurun setahun. Sayang memang. Jika program besar ketahanan pangan itu sesungguhnya tak besar-besar amat.

sumber : republika

Iklan

4 Responses to “Program Besar Ketahanan Pangan”


  1. 1 Lastriyah Januari 21, 2007 pukul 12:28 am

    target produksi 2 juta ton bisa terlaksana dengan :
    1. kebutuhan air tercukupi, terutama di musim kemarau. bisa dibuatkan waduk2.
    2. gunung / bukit dihutankan kembali.
    3. penyediaan pupuk seperti dulu, ada bimas dan dana pinjaman penggarapan tanpa bunga.
    4. perlu adanya lumbung2 padi di tingkat kabupaten sehingga apabila awal musim tanam tidak ribut soal pro&kontra impor beras.

  2. 2 dwi oktamayati Januari 23, 2007 pukul 11:33 am

    ada data tentang ketahanan pangan yang terbaru gaaaa?pleasee data statistik ato yang lain tentang ketahanan pangan di jatim khususnyaa. terima kasih

  3. 3 Luthfi Januari 23, 2007 pukul 1:06 pm

    @ Lastriyah : trims atas sharing infonya

    @ Dwi : silakan buka situs bps di bps.go.id

    On behalf of Admin

    Luthfi

  4. 4 agus ansori Juni 17, 2008 pukul 8:31 pm

    mohon untuk bisa kerjasama terkait dengan program ketahan pangan, kami pusat pengembangan pertanian, kelautan dan masyarakat pesisir (p3kmp.
    kami juga butuh data tentang ketahanan pangan yang terbaru pleasee data statistik ato yang lain tentang ketahanan pangan di jatim khususnyaa. terima kasih

    Company Profile

    Pendahuluan
    Pada masa ke-emas-an Nusantara di bawah pemerintahan Sriwijaya dan Majapahit telah mencatat kesuksesan dalam bidang perekonomian dan industri yang berpusat pada kekayaan alam, yakni pertanian dan kelautan. Lima abad kemudian, muncullah Republik Indonesia dengan mimpi besar membangun industri maju, tetapi melupakan kemakmuran petani dan nelayan atau masyarakat pesisir. Berbagai peninggalan dari kedua kerajaan yaitu; candi sebagai bukti kejayaan bangsa berikut reliefnya, seperti simbol Yoni-Lingga, adalah pertanda kemajuan dan kemakmuran masyarakat yang berbasis agraria. Demikian pula gambaran “Kapal Borobudur” yang menggambarkan keakraban masyarakat Indonesia masa lampau dengan lautan luas.

    Karena dunia pertanian dan kelautan di Indonesia adalah sektor penting dan sangat strategis bagi kemakmuran dan kemajuan bangsa, sebab betapapun tingginya teknologi dan ilmu pengetahuan sebuah bangsa tetapi pertaniannya tertinggal, maka bangsa itu akan mudah di hancurkan dan di embargo oleh bangsa lain yang memiliki produktivitas pertanian dan kelautan yang kuat dan mapan. Oleh sebab itu Indonesia pada zaman Sriwijaya dan Majapahit terkenal menjadi negara kuat karena sektor pertanian dan kelautan mereka kuat dan mapan.

    Sebenarnya kita tak perlu jauh-jauh mencari pedoman pada negara lain dalam hal bagaimana negara ini bisa maju. Karena Bangsa Indonesia itu sebenarnya bangsa yang kuat dan punya peradaban tinggi sebagai bukti bahwa warisan peninggalan sejarah dapat kita nikmati seperti Candi Borobudur, Prambanan, dan Muara Takus. Demikian juga teknik pertanian dan kelautan yang sudah maju yang dimiliki oleh nenek moyang kita, yang tetap memelihara kelestarian alam, sehingga lahan pertanian tidak kering dimusim kemarau akibat kekeringan, demikian juga lautnya tidak kotor serta ramah lingkungan tidak seperti saat ini.

    Ini adalah modal dasar kita untuk menjadi bangsa kuat dan maju. Kenapa pola pikir leluhur tersebut kita tinggalkan. Itulah kesalahan kita semua bangsa Indonesia, padahal dunia pertanian dan kelautan adalah sektor penting dan strategis bagi kemajuan bangsa Indonesia.
    Sesungguhnya, kembali pada jati diri lewat pengembangan industri berbasis lokal, yakni pertanian dan kelautan adalah jawaban mutlak untuk menyerap tenaga kerja yang melimpah sekaligus menyelamatkan perekonomian nasional supaya dapat bersaing di tingkat global dibidang pertanian dan kelautan. Jadi seharusnya dunia pertanian dan kelautan ini harus lebih diprioritaskan untuk dikawal oleh pemerintah, karena dunia pertanian dan kelautan adalah sektor yang fital dan termasuk kebutuhan primer. Jadi yang terpenting saat ini Indonesia harus membuat flatfom besar untuk menjadi negara kuat dibidang agraris maupun maritim agar bangsa Indonesia menjadi bangsa besar dan kuat baik secara ekonomi maupun pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu kita harus merobah mental kita dulu menjadi bangsa mandiri dan pekerja keras, bukan malah sebaliknya serta agar supaya bangsa Indonesia kembali mencintai dunia pertanian dan kelautan, karena itu adalah merupakan sejarah kejayaan bangsa Indonesia dan habitat dari kehidupan bangsa Indonesia.

    Dengan kekayaan alam yang berlimpah, baik di darat maupun di lautan, seharusnya sektor pertanian dan kelautan mampu menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Namun sampai saat ini kenyataannya tidaklah demikian, berbagai kebijakan yang ada belum mampu meningkatkan “rate of return” mereka yang bekerja dalam sektor ini, sehingga banyak ditinggalkan orang. Hal ini harus dibuat suatu kebijakan yang mampu meningkatkan “rate of return” terhadap hasil pertanian dan kelautan. Untuk itu harus dikembangkan teknologi pertanian dan kelautan serta pengembangan berbagai produk pertanian dan kelautan dalam skala yang besar. Perlu dilakukan “economic of scale” dalam usaha sektor pertanian, khususnya agrobisnis dan kelautan.

    Krisis ketahanan pangan dinegeri ini semakin mengkhawatirkan, bahkan negara kita yang merupakan negara agraris semakin kehilangan identitasnya sebagai negara agraris, yang sebenarnya mampu untuk menanggulangi segala permasalahan tentang krisis ketahanan pangan nasional, namun dalam hal ini pemerintah nampaknya kurang berdaya dalam menanggulanginya, karena diakibatkan oleh salah satunya adalah ketidak mampuan pemerintah dalam menjalankan sebuah sistem pemerintahan yang memprioritaskan terhadap kebijakan-kebijakan yang berdampak positif kepada peningkatan ketahanan pangan nasional, misalnya subsidi dibidang pertanian dan kelautan yang harus diberikan secara langsung, dukungan penuh pemerintah terhadap bidang pertanian dan kelautan agar tidak hanya mampu menghasilkan komoditas pertanian dan hasil perikanan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan barang-barang pertanian dan perikanan olahan, sehingga dapat dinikmati dan menjamin pada kesejahteraan masyarakat, bukan untuk dinikmati oleh pedagang atau kelompok perantara lainnya

    Dengan asumsi dasar yang demikianlah, Pusat Pengembangan Pertanian, Kelautan dan Masyarakat Pesisir (P3KMP) didirikan berawal dari keprihatinan terhadap kondisi kehidupan social, ekonomi dan budaya masyarakat yang selalu termarginalkan oleh kebijakan pemerintah yang selama ini menimpa masyarakat. Apalagi Indonesia yang seyogyanya adalah Negara yang masyarakatnya hidup dari agrarian dan maritime.

    Visi dan Misi
    Visi
    Menjadi Pusat pengkajian dan pengembangan sosial ekonomi masyarakat dalam bidang pertanian dan kelautan terkemuka ditingkat nasional dan internasional.

    Misi
    1. Melaksanakan proses dan menghasilkan produk kajian dan pengembangan sosial ekonomi masyarakat Indonesia yang berkualitas.
    2. Mengembangkan kemampuan lembaga dan tenaga ahli dalam kajian dan pengembangan dalam bidang pertanian dan kelautan.
    3. Mengembangkan potensi dan kekayaan sumber daya di sektor pertanian dan kelautan yang tersedia cukup besar untuk dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat.
    4. Terwujudnya pengelolaan dibidang pertanian dan kelautan yang berbasis kepentingan masyarakat dan lingkungan.
    5. Terwujudnya masyarakat tradisional yang mandiri.

    Tujuan
    1. Menyelenggarakan kegiatan kajian dan pengembangan sosial ekonomi Indonesia yang berkualitas, khususnya dalam bidang pertanian dan kelautan.
    2. Mengembangkan kerjasama pengkajian dan pengembangan pembangunan sosial ekonomi yang bersinambungan dengan berbagai pihak yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan bidang pertanian dan kelautan demi terciptanya kesejahteraan masyarakat.
    3. Mengembangkan kemampuan lembaga dan tenaga ahli dalam pengkajian dan pengembangan pembangunan sosial ekonomi Indonesia khususnya bidang pertanian dan kelautan.
    4. Memperkuat posisi tawar masyarakat petani dan pesisir dalam berbagai penyelesaian persoalan pemanfaatan sumber daya alam baik terhadap pengusaha maupun pemerintah.
    5. Mendorong pelestarian lingkungan pesisir dan laut secara partisipatif.
    6. Mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pertanian dan kelautan serta berpartisipasi mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan sumber daya pertanian dan kelautan

    Program
    Program Pusat Pengembangan Pertania, Kelautan dan Masyarakat Pesisir (P3KMP) adalah

    1. Program Analisis Riset dan Pengembangan Pertanian dan Kelautan
    2. Program Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Pertanian dan Kelautan
    3. Program Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi dan Nilai Tambah Pertanian dan Kelautan;
    a. Sub Program Penelitian dan Pengembangan Sosek Pertanian dan Kebijakan.
    b. Sub Program Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pertanian dan Kelautan.
    c. Sub Program Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian
    4. Program Penelitian, Pengkajian, dan Diseminasi Inovasi Pertanian dan Kelautan;
    a. Sub Program Penelitian dan Pengkajian Teknologi Spesifik Lokasi.
    b. Sub Program Pengembangan Model Agribisnis Berbasis Inovasi Pertanian.
    5. Advokasi Kebijakan Pertanian dan Kelautan
    6. Penguatan Kapasitas Lembaga
    7. Penguatan Kapasitas Masyarakat Pesisir

    Badan Hukum
    Tanggal Berdiri : 15 Januari 2008
    Akte Notaris : = 04 =
    NPWP : 21.038.070.5-609.000

    Penutup
    Demikian Profil Pusat Pengembangan Pertanian, Kelautan dan Masyarakat Pesisir (P3KMP) ini disusun untuk menjadi bahan kepada para pihak (stake holders) dalam penyusunan rencana kegiatan pemberdayaan masyarakat.

    Surabaya, 20 April 2008

    Pusat Pengembangan Pertanian, Kelautan dan Masyarakat Pesisir
    (P3KMP)

    A g u s A n s o r i
    Direktur

    Struktur Pusat Pengembangan Pertanian, Kelautan dan Masyarakat Pesisir
    (P3KMP)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 787,802 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: