Dampak Maklumat Pelayaran

Padahal aturan itu sebenarnya tak berlaku untuk kapal besar, yang tingginya lebih dari empat meter ataupun kapal barang–hal yang mestinya diketahui para otoritas pelabuhan.Ketika cuaca sedang “marah” dan sejumlah feri tenggelam dihantam gelombang, Departemen Perhubungan melarang sebagian besar pelayaran di Indonesia. Tujuannya memang mulia, yakni agar tak ada lagi yang menjadi korban amukan cuaca buruk. Tapi, karena aturan tersebut tak dijelaskan dengan saksama, dampaknya fatal: harga bahan pangan melambung di sejumlah daerah.
Larangan itu berlaku untuk feri atau penumpang yang tingginya kurang dari empat meter dan berlaku di 12 perairan berbahaya di Indonesia, seperti Laut Jawa dan Sulawesi. Akibatnya, di Bawean, Jawa Timur, misalnya, harga beras terdongkrak hingga Rp 8.000 per kilogram. Padahal biasanya beras paling banter Rp 5.000 per kilogram. Harga telur dan minyak juga melambung.
Buntut peraturan inilah yang tak pernah diperhitungkan Departemen Perhubungan masak-masak. Lonjakan harga terjadi di Kalimantan, Batam, Sulawesi, Sumatera, dan daerah-daerah yang bergantung pada pasokan pangan lewat kapal. Bahkan kebijakan itu melahirkan krisis bahan pokok dan sayuran. Di Batam, Kepulauan Riau, contohnya, harga sayuran melejit hingga sepuluh kali lipat.
Patut disayangkan kalau maklumat pelayaran itu akhirnya melahirkan kepanikan baru. Syahbandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dan Pelabuhan Tenau, Kupang, misalnya, terpaksa menghentikan sementara semua pelayaran. Padahal aturan itu sebenarnya tak berlaku untuk kapal besar, yang tingginya lebih dari empat meter ataupun kapal barang–hal yang mestinya diketahui para otoritas pelabuhan.
Akibatnya runyam. Distribusi barang lewat kapal di beberapa daerah benar-benar terhenti selama sepekan. Roda ekonomi pun ikut tersendat. Pelabuhan di Sumatera Selatan sampai mengeluh kepada Departemen Perhubungan soal seretnya pasokan barang. Anehnya, diimpit dengan masalah gawat ini, Departemen Perhubungan tetap saja tak memberi solusi.
Sebagian daerah yang penduduknya makmur berupaya mendatangkan sayuran dan bahan-bahan pokok lewat udara. Tapi ongkos transportasinya sangat mencekik. Alhasil, hanya segelintir daerah yang bisa melakukan itu.
Kejadian ini cermin betapa koordinasi yang dijalin begitu buruk. Semestinya, sebelum membuat kebijakan sepihak, departemen yang dipimpin Menteri Hatta Rajasa itu berdiskusi dengan Departemen Perdagangan dan pihak terkait lainnya untuk membahas masalah yang bakal lahir karena adanya maklumat tersebut.
Dengan cara itu, buntut masalahnya bisa diantisipasi, misalnya, mengerahkan kapal PT Pelni yang berukuran besar untuk membantu distribusi. Tentu saja tak mungkin kapal Pelni berkeliling ke semua pulau terpencil. Tapi setidaknya sebagian besar warga di pelabuhan-pelabuhan penting di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, dan Batam tak sempat terkena krisis bahan pokok.
Untung saja cuaca sudah ramah kembali saat ini, sehingga kapal-kapal kecil berani melaut. Andai saja cuaca buruk bercokol lama di perairan Indonesia dan pemerintah tak pernah menyiapkan solusi, krisis bahan pokok pun akan meledak di berbagai pulau. Inilah pelajaran pahit yang tak boleh terulang.

Koran Tempo, Rabu, 10 Januari 2007

Iklan

0 Responses to “Dampak Maklumat Pelayaran”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Blog Stats

  • 804,627 hits
Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Ranks….

AeroCloud Topsites List

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Blogarama - The Blog Directory

RSS TEMPO Interaktif

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS VOA Politik

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: